BREAKING NEWS
 

Bandara Riyadh Dibom, 12 Orang Tewas

Timur Tengah Makin Membara

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 12 Oktober 2026 08:43 WIB
Ledakan di Bandara Riyadh. (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bandara Internasional King Khalid, Riyadh dibom oleh kelompok bersenjata Houthi, Sabtu (10/10/2026). Sebanyak 12 orang meninggal dunia. Insiden ini membuat situasi di Timur Tengah (Timteng) semakin membara.

Suara ledakan kencang terdengar di Terminal 3 Bandara Riyadh Sabtu sore. Atap terminal di dekat gerbang keberangkatan runtuh. Puing-puing bangunan hancur berhamburan, dan kepulan debu tebal memenuhi area dalam terminal. Dari kejauhan, terlihat asap tebal membumbung di dekat terminal.

Berdasar keterangan Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA) Arab Saudi yang dilansir AFP, serangan itu menyebabkan 12 orang meninggal dunia. Rinciannya: 4 orang warga Saudi, 2 orang warga Bangladesh, serta masing-masing 1 orang warga Amerika Serikat (AS), Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan. Sebanyak 309 orang luka, dengan beberapa korban dalam kondisi kritis.

Satu pesawat komersial milik Saudia mengalami kerusakan fisik akibat hantaman pecahan proyektil saat berada di darat. Sejumlah fasilitas bandara juga rusak. Operasional Bandara Riyadh dihentikan sementara.

Pihak Saudi murka dengan serangan ini. Perwira Senior Kerajaan Saudi, Mayjen Turki Al Maliki, menegaskan bahwa pihaknya akan merespons tegas Houthi sesuai hukum humaniter internasional. 

Al Maliki menegaskan, serangan rudal yang menyasar terminal penumpang bandara jelas adalah kejahatan perang. "Ini tindakan teroris milisi Houthi, melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan dan nilai-nilai moral," ucap Juru Bicara Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman ini.

Baca juga : Ada Usul, Kursi Anggota DPR Ditambah 11

Presiden AS Donald Trump tidak tinggal diam dengan serangan Houthi tersebut. Trump berjanji akan segera bergabung dan membantu Saudi menyerang Houthi, yang didukung Iran.

"Kami mungkin akan melakukannya, mempertimbangkannya. Kami akan mengambil keputusan dan bertindak sangat cepat," ujar Trump, kepada wartawan, di Gedung Putih, seperti dilansir AFP, Minggu (11/10/2026).

Mohammed al-Bukhaiti, pejabat senior Houthi, mengaku bertanggung jawab atas serangan di Bandara Riyadh. Ia menyebut, serangan itu sebagai balasan atas serangan Saudi terhadap infrastruktur sipil di Yaman. 

"Houthi melancarkan serangan tersebut agar dunia memahami bahwa bandara, pelabuhan laut, gedung pernikahan dan pemakaman, rumah sakit, serta pasar di Yaman merupakan fasilitas sipil yang tidak boleh menjadi sasaran atau dirusak," ucapnya, seperti dikutip The New York Times, Minggu (11/10/2026).

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, memperingatkan penumpang agar tidak menggunakan bandara-bandara di Saudi setelah serangan terhadap bandara di Riyadh.

Adsense

"Angkatan bersenjata Yaman kembali memperingatkan seluruh perusahaan penerbangan dan pelayaran, para ahli, staf, pekerja, serta pelancong tidak menggunakan bandara dan wilayah udara Saudi," tulisnya di akun X, seperti dikutip AFP, Minggu (11/10/2026). 

Baca juga : Rumah Dinas TNI Jadi Markas Judol, KSAD Geram

Ia menyebut, bandara dan wilayah udara tersebut terancam menjadi sasaran dan dan medan operasi pasukan Houthi. “Kecuali bandara di Makkah dan Madinah," tulisnya, mengultimatum.

Di sisi lain, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh memastikan hingga saat ini tak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban atas serangan Houthi itu. KBRI Riyadh akan terus berkomunikasi dengan Otoritas Saudi melakukan pemantauan ke lapangan.

"KBRI masih terus memverifikasi kemungkinan WNI yang mengalami luka-luka akibat insiden dimaksud. Sampai saat ini, tidak ada laporan WNI yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut," demikian keterangan KBRI Riyadh, Minggu (11/10/2026).

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan, serangan itu berpotensi memperburuk konflik dan menghambat upaya perdamaian di Yaman dan Timteng.

"Tindakan ini menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan regional, memperpanjang siklus kekerasan, dan semakin mempersulit upaya perdamaian di Yaman," ujar Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg.

Saling Blokade Selat

Di sisi lain, perang AS versus Iran juga terus berlanjut. Militer AS dan Iran saling menerapkan blokade dan menyerang kapal-kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.

Baca juga : Karhutla Ancam F1 Singapura

Menurut Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), Minggu (11/10/2026), sebuah kapal tanker terbakar setelah digempur proyektil di Selat Hormuz. Kapten kapal tanker itu melaporkan, kapalnya dihantam proyektil tak dikenal di sisi kiri hingga memicu kebakaran. Seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim, pada Sabtu (10/10/2026) sebuah kapal supertanker minyak menabrak ranjau laut dan meledak saat mencoba meninggalkan Selat Hormuz melalui jalur selatan yang tidak diizinkan. IRGC menyatakan, kapal yang mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak itu mematikan sistem navigasi sebelum mencoba melintas.

"Nasib serupa menanti setiap kapal tanker minyak yang melanggar dan berupaya mengabaikan aturan Iran," tulis Angkatan Laut IRGC, seperti dilansir Reuters, Sabtu (10/10/2026).

Di sisi lain, AS mengklaim telah melumpuhkan kapal kargo komersial di Teluk Oman, setelah awak kapal mengabaikan peringatan dan berupaya menerobos blokade. AS mencurigai, kapal itu tengah berdagang dengan Iran. AS menyerang kapal itu dengan jet tempur. 

"Sebuah jet tempur militer AS menghantam bagian buritan kapal M/V Ocean Molica (Arika Sun') berbendera Panama menggunakan amunisi presisi, yang sepenuhnya melumpuhkan sistem penggerak kapal tanpa melukai awaknya," demikian pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM) di platform X, seperti dilansir Reuters, Minggu (11/10/2026).

CENTCOM menuding, kapal kargo tersebut berupaya melintasi perairan kawasan tersebut setelah bertolak dari pelabuhan Iran. CENTCOM mengimbau, para pelaut di Teluk Oman dan wilayah akses menuju Selat Hormuz mematuhi peringatan blokade, memantau siaran informasi bagi pelaut, serta menghubungi angkatan laut AS.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense