Dark/Light Mode

Karhutla Ancam F1 Singapura

Minggu, 11 Oktober 2026 07:40 WIB
Pebalap Formula 1 saat menjalani sesi latihan bebas di tengah kondisi berkabut pada Grand Prix Formula 1 Singapura, Sabtu (9/10/2026). (Foto: Dok. Formula 1)
Pebalap Formula 1 saat menjalani sesi latihan bebas di tengah kondisi berkabut pada Grand Prix Formula 1 Singapura, Sabtu (9/10/2026). (Foto: Dok. Formula 1)

RM.id  Rakyat Merdeka - Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia masih menyeberang ke Singapura. Akibatnya, gelaran Formula 1 Grand Prix Singapura 2026 pun dibayangi ancaman polusi udara.

Sesuai jadwal, ajang balap mobil paling bergengsi di dunia itu, digelar hari ini, Minggu (11/10/2026). Lomba yang diikuti pembalap terkenal dari berbagai negara itu, digelar di Sirkuit Jalan Raya Marina Bay.

Namun, mendekati hari penyelenggaraan balapan, indeks kualitas udara di Singapura masuk tidak sehat. Badan pengatur olahraga otomotif dunia (FIA) menyatakan, kualitas udara terus dipantau oleh otoritas setempat.

Sejumlah langkah antisipasi disiapkan untuk menjaga kesehatan pembalap, anggota tim, pekerja, dan pengunjung. Kendati demikian, FIA memperkirakan kabut asap tidak akan mengganggu aktivitas di lintasan maupun pelaksanaan balapan.

Direktur Eksekutif Singapore GP Pte Ltd Adam Firth menegaskan, pihaknya belum berencana mengubah rangkaian hiburan dalam ajang Formula 1 Singapore Airlines Singapore Grand Prix 2026. “Belum ada rencana untuk mengubah aktivitas hiburan kami di ajang Formula 1 Singapore Airlines Singapore Grand Prix 2026,” kata Firth dalam pernyataan resmi seperti dikutip Bloomberg Television, Jumat (9/10/2026).

Baca juga : Tak Gondol Piala, Tim Indonesia Bawa Cerita

CEO Formula One Management Stefano Domenicali juga menyebut tim kesehatan dan keselamatan terus memantau perkembangan kualitas udara. Ia tetap optimistis gelaran F1 Singapura dapat berlangsung lancar.

“Tidak ada indikasi akan menjadi masalah sama sekali selama akhir pekan ini,” ujar Domenicali dalam wawancara dengan Bloomberg Television, Jumat.

Kekhawatiran muncul karena kabut asap telah menyelimuti Singapura dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data IQAir yang dikutip pada Jumat (9/10/2026), indeks kualitas udara Singapura sempat mencapai 216 pada pukul 12.00 waktu setempat. Angka tersebut masuk kategori Very Unhealthy atau sangat tidak sehat.

Data Indeks Standar Pencemar Udara (PSI) 24 jam juga menunjukkan kondisi tidak sehat di sejumlah wilayah. PSI di kawasan Central tercatat 186, West 177, South 164, East 159, dan North 130.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat dan kelancaran kegiatan luar ruangan selama akhir pekan balapan. Maklum, F1 Singapura bukan sekadar ajang adu cepat para pembalap dunia. Balapan malam di Marina Bay itu juga diramaikan pertunjukan musik dan berbagai hiburan.

Baca juga : Periksa Bupati & Sopir, KPK Tetapkan 8 Tersangka Baru

Sejumlah musisi internasional, termasuk Lana Del Rey dan Mark Ronson, dijadwalkan tampil dalam rangkaian acara. Gelaran tahun ini diperkirakan menarik sedikitnya 300 ribu pengunjung.

Dewan Pariwisata Singapura turut memantau tingkat polusi dan menyiapkan informasi terbaru bagi pihak-pihak di sekitar kawasan sirkuit. Bantuan medis dan masker N95 juga akan disediakan apabila diperlukan.

Jika kabut asap menimbulkan persoalan terkait jarak pandang, kesehatan masyarakat, atau operasional acara, lembaga terkait akan berkoordinasi dengan Singapore GP untuk menilai situasi sebelum mengambil keputusan bersama.

Sebenarnya, kabut asap bukan kali pertama menjadi perhatian dalam penyelenggaraan F1 Singapura. Pada 2019, ketika kualitas udara juga berada dalam kategori tidak sehat selama balapan, penyelenggara menyiagakan layanan pertolongan pertama dan menyediakan masker N95 bagi pengunjung yang membutuhkan.

Menanggapi kabut asap yang menyelimuti negara tetangga, Wakil Menteri Kehutanan RI, Rohmat Marzuki mengatakan, pemerintah Indonesia terus memperkuat penanganan karhutla, terutama di wilayah-wilayah rawan kebakaran.

Baca juga : PKS Dorong Pemerintah Percepat Penanganan Karhutla

“Kita juga BKO-kan (bawah kendali operasi) Polisi Kehutanan dari seluruh Indonesia ke enam provinsi yang rawan karhutla, terutama Kalbar, Kalteng, Kalsel, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan,” kata Rohmat saat ditemui di Fakultas Kehutanan UGM, Sleman, Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).

Menurut Rohmat, Kementerian Kehutanan juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memperkuat operasi pemadaman. Upaya dilakukan melalui water bombing atau pengeboman air dari udara, serta operasi modifikasi cuaca untuk memicu hujan.

Namun, pelaksanaan modifikasi cuaca bergantung pada ketersediaan awan di atmosfer. Rohmat menjelaskan, kondisi karhutla tahun ini turut dipengaruhi fenomena El Nino yang cukup kuat. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.