BREAKING NEWS
 

AI Makin Canggih, Penjahat Makin Pintar?

Di Forum Digital Dunia, Akademisi UI Soroti Arah Baru Polri Lindungi Rakyat

Reporter & Editor :
MUHAMMAD RUSMADI
Senin, 12 Oktober 2026 20:48 WIB
Sejumlah pembicara di Global Digital Forum II 2026 di Moskow, dari kiri; Mikhail Anisimov, Kepala Global Stakeholder Engagement for Eastern Europe and Central Asia, ICANN (Internet Corporation for Assigned Names & Numbers); Festin Elisee Lemana, Dirjen Office of Public Radio and Television of Madagascar (ORTM);   Andrey Mikheev, Direktur Teknis Yandex; Diriba Eticha Tujuba, Presiden Gambella University, Ethiopia; Prof, Dr. Devie Rahmawati, CICS. [Foto: Dok]

 Sebelumnya 
Apabila informasi tersebut diolah secara bertanggung jawab, tanpa mengorbankan kerahasiaan penyelidikan dan perlindungan data pribadi, hasilnya dapat digunakan untuk memperkuat edukasi masyarakat. Devie menyebut pendekatan ini sebagai “Dari Kasus Menjadi Pengetahuan, dari Pengetahuan Menjadi Pencegahan."

“Satu kasus yang berhasil diungkap seharusnya tidak hanya berakhir pada penindakan terhadap pelaku. Pelajaran dari kasus tersebut juga perlu membantu masyarakat mengenali modus serupa agar tidak muncul korban berikutnya,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Devie melihat peluang kolaborasi antara Polri, Komdigi, BSSN, perguruan tinggi, industri teknologi, dan komunitas literasi digital. Polri memiliki pengalaman mengenai pola kejahatan.

Perguruan tinggi dapat membantu menganalisis dan mengevaluasi informasi. Komunitas literasi digital dapat menerjemahkan pesan pencegahan menjadi materi yang mudah dipahami masyarakat. Pengalaman Klinik Digital dalam mengembangkan buku dan modul literasi digital ke dalam sedikitnya sepuluh bahasa daerah, menjadi salah satu contoh pentingnya komunikasi pencegahan yang sesuai dengan konteks lokal.

Baca juga : Jadi Kakorlantas, Brigjen Aries Syahbudin Pernah Catatkan Sejarah Mudik Terbaik

“Peringatan yang tidak dipahami masyarakat akan kehilangan manfaatnya. Karena itu, pengetahuan tentang modus kejahatan perlu diterjemahkan menjadi edukasi yang dekat dengan bahasa dan kehidupan sehari-hari,” jelas pengajar tamu di kampus di antaranya di Inggris, Jepang, Malaysia ini. 

Devie turut menghubungkan tantangan kejahatan digital, dengan apresiasi pengalaman kepemimpinan Suyudi Ario Seto dalam penanganan persoalan narkotika selama di BNN.  Menurutnya, meskipun kejahatan narkotika dan kejahatan digital memiliki karakter berbeda, keduanya memperlihatkan pentingnya memahami kerentanan manusia dan memperkuat pencegahan.

Pelaku penipuan memanfaatkan ketidaktahuan, tekanan psikologis, atau kebutuhan ekonomi. Jaringan narkotika juga dapat mengeksploitasi kerentanan individu dan lingkungan sosial. Karena itu, penegakan hukum dan pencegahan tidak semestinya dipertentangkan.

“Penindakan sangat penting untuk melindungi masyarakat. Tetapi ukuran keberhasilan yang lebih luas juga harus mencakup seberapa banyak kejahatan dapat dicegah dan seberapa banyak kehidupan dapat diselamatkan,” jelas Devie.

Baca juga : Kapolres Bogor Bantu Fiki, Korban Perompak Somalia yang Alami Luka Tembak

Menurutnya, perspektif ini relevan bagi penguatan kepolisian modern yang tidak hanya responsif ketika kejahatan terjadi, tetapi juga mampu membangun ketahanan masyarakat sebelum ancaman berkembang. Hal ini sudah dipraktikkan dengan baik di BNN.

“Keberhasilan penegakan hukum tidak hanya terlihat dari pelaku yang ditindak, tetapi juga dari masyarakat yang berhasil dilindungi.”

Dalam forum internasional tersebut, Devie mengangkat konsep human-centred AI, yakni pengembangan teknologi yang menempatkan kebutuhan, keselamatan, hak, dan kesejahteraan manusia sebagai orientasi utama, yang dapat diterapkan dalam penguatan pelayanan kepolisian.

Masyarakat tidak harus memahami istilah deepfake, synthetic identity, social engineering, atau teknologi AI generatif untuk memperoleh perlindungan. Seorang korban mungkin hanya datang dengan kalimat sederhana bahwa  “Saya ditipu.” Di balik kalimat tersebut terdapat kebutuhan akan informasi, bantuan, kepastian proses, dan perlakuan yang manusiawi.

Baca juga : Prabowo Gelar Sarasehan Dengan Perwira TNI-Polri Di Istana

“Di era AI, polisi memiliki peran yang semakin penting sebagai wajah manusia dari sistem keamanan negara. Masyarakat mungkin tidak memahami seluruh kompleksitas teknologi dan kejahatan, tetapi mereka berhak mendapatkan perlindungan yang jelas, adil, dan dapat dijangkau. Inilah mengapa pendekatan Polisi Bersama Masyarakat menjadi napas kebijakan yang kuat,” ungkap Devie.

Indonesia memiliki kesempatan untuk mempertemukan pengembangan AI, literasi digital, keamanan siber, dan pemolisian berbasis masyarakat dalam sebuah ekosistem perlindungan yang semakin kuat.

“Di masa depan, AI mungkin dapat membantu polisi membaca jutaan data dalam hitungan detik. Tetapi satu hal tetap tidak dapat digantikan, yaitu kemampuan mendengarkan seorang manusia yang membutuhkan pertolongan. Biarkan teknologi semakin canggih, tetapi perlindungan harus semakin dekat. Biarkan mesin semakin pintar, tetapi keadilan harus semakin nyata. Sebab, keamanan digital yang sesungguhnya bukan hanya tentang sistem yang mampu mendeteksi ancaman, melainkan tentang manusia yang merasa aman,” tutup Penerima Australia Award ini.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense