BREAKING NEWS
 

Di Forum Digital 100 Negara

Akademisi UI Bawa Gagasan Indonesia: Dunia Punya AI, Kita Punya Ngopi

Reporter & Editor :
MUHAMMAD RUSMADI
Kamis, 15 Oktober 2026 16:36 WIB
Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS (kanan) [Foto: Dok]

 Sebelumnya 
Salah satu gagasan khas Indonesia yang diperkenalkan Devie dalam forum tersebut adalah NGOPI Protocol. Berangkat dari tradisi masyarakat Indonesia yang akrab dengan percakapan, musyawarah, dan gotong royong, Devie menawarkan lima prinsip kolaborasi dalam pengembangan teknologi yaitu :  N — Notice: mendengarkan dan mengenali kebutuhan sebelum merancang teknologi. G — Gather: mempertemukan pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas.

Kemudian O — Open: membuka ruang pertukaran pengetahuan dan partisipasi secara bertanggung jawab. P — Prototype: menguji solusi dalam skala kecil sebelum diterapkan lebih luas. I — Improve: melakukan perbaikan berdasarkan pengalaman dan masukan masyarakat.

Di pusat kelima prinsip tersebut terdapat satu fondasi yaitu TRUST atau kepercayaan.  “Kita bisa membeli server, menggunakan model AI, dan membangun infrastruktur komputasi. Tetapi kita tidak bisa mengunduh kepercayaan,” seru peneliti tentang Digital Religion and The Virality of Religious Rhetoric : The Case of Mama Gufron on Social Media ini.

“Dalam budaya Indonesia, ngopi bukan hanya tentang minuman. Ngopi adalah kesempatan untuk mendengarkan, membangun hubungan, dan menemukan jalan keluar bersama. Mungkin terobosan AI berikutnya tidak selalu dimulai dari penambahan miliaran parameter. bisa jadi, terobosan itu dimulai ketika kita menyediakan satu kursi lagi di meja perundingan untuk masyarakat yang selama ini belum didengarkan,” seru Devie.

Baca juga : Sudahkah Indonesia Mengubah Kekayaannya Menjadi Kekuatan Digital?

NGOPI Protocol diperkenalkan sebagai kerangka gagasan kolaboratif, bukan sebagai standar teknis AI yang telah ditetapkan secara internasional. Dalam diskusi mengenai pengembangan teknologi bahasa, Devie juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara keterbukaan kolaborasi dan perlindungan kepentingan masyarakat.

Menurutnya, keterbukaan pengetahuan tidak boleh diartikan sebagai kebebasan mengambil seluruh data tanpa mempertimbangkan hak masyarakat yang menghasilkannya. Sebaliknya, perlindungan yang terlalu tertutup juga dapat menghambat kolaborasi penelitian dan inovasi. Karena itu, prinsip yang ditawarkan ialah  “Open where it helps. Protect where it matters."

“Berbagilah ketika pengetahuan dapat menghasilkan manfaat, tetapi lindungilah ketika hak, privasi, dan kepentingan manusia dipertaruhkan,” ujar peneliti KnowledgeKnowledge Dynamics among Dota 2 Online Gamers at Indonesia. 

Devie menilai, kedaulatan digital bukan berarti Indonesia harus mengembangkan seluruh teknologi sendirian atau menutup diri dari kemitraan internasional. Kedaulatan justru berkaitan dengan kemampuan memilih teknologi, menjaga kepentingan nasional, dan memastikan masyarakat memperoleh manfaat yang adil.

Baca juga : Pesan UI dari Skolkovo, Ajak Dunia Membesarkan Manusia

“Kedaulatan digital bukan tentang membangun tembok yang memisahkan kita dari dunia. Kedaulatan adalah kemampuan membangun jembatan kerja sama tanpa menyerahkan kunci rumah kita sendiri, “ ujar alumni Beasiswa DAAD Jerman ini. 

“AI boleh bersifat artifisial, tetapi bahasa adalah milik manusia. Budaya memberinya makna, dimana kepercayaan membuatnya berharga.”

Di hadapan komunitas internasional, Devie mengakhiri paparannya dengan ajakan kolaborasi yang hangat dan khas Indonesia “Bring your technology. Bring your knowledge. Bring your culture. Indonesia will bring the coffee!”

Sebuah pesan sederhana yang mencerminkan gagasan lebih besar yaitu masa depan digital dunia tidak cukup dibangun oleh mesin yang semakin cerdas, tetapi membutuhkan manusia yang semakin bersedia mendengarkan, bekerja sama, dan saling memahami.

Baca juga : Delegasi Indonesia Temukan Wajah Diplomasi Baru di KBRI Moskow

Kegiatan juga dihadiri peserta dari Indonesia yang terdiri atas akademisi, ahli IT, pakar dan pemengaruh di antaranya Fauzan Al-Rasyid, INPC WYF; Indira Rizky Azzahra, eCloudvalley Digital Technology; M. Arditama Febrianza (Communication Specialist); Maryati, Politeknik Digital Indonesia; Meisa Marsella, Berkat Kreatif Global; Randy Mulyanto Founder & CEO RadVoice Indonesia. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense