Dark/Light Mode

Dunia Sibuk Membesarkan Mesin

Pesan UI dari Skolkovo, Ajak Dunia Membesarkan Manusia

Kamis, 15 Oktober 2026 06:26 WIB
Global Digital Forum II 2026 di Moskow.  [Foto: Dok]
Global Digital Forum II 2026 di Moskow. [Foto: Dok]

RM.id  Rakyat Merdeka - Persaingan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dunia mulai menghadirkan pertanyaan baru. Bukan hanya negara mana yang memiliki komputer tercepat, data terbanyak, atau model terbesar, tetapi siapa yang paling mampu menjadikan teknologi relevan bagi kehidupan manusia.

Perspektif tersebut disampaikan Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, yang menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian Global Digital Forum II 2026 di Moskow. Ajang dunia ini mempertemukan akademisi, pengembang teknologi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan digital dengan partisipasi lebih dari 100 negara, dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 tamu VVIP (level menteri), serta lebih dari 50 perusahaan teknologi.

Di sela kegiatan, Devie bersama sejumlah peserta Indonesia mengunjungi Skolkovo Innovation Center, pusat inovasi Rusia yang menghubungkan penelitian, pendidikan tinggi, pengembangan teknologi, dan industri.

Baca juga : Delegasi Indonesia Temukan Wajah Diplomasi Baru di KBRI Moskow

Berdasarkan informasi Skolkovo Foundation, ekosistem tersebut telah memiliki lebih dari 5.000 perusahaan rintisan residen pada Juli 2025, dengan pendapatan perusahaan residen mencapai 704,3 miliar rubel sepanjang 2024.

Menurut Devie, perkembangan Skolkovo memperlihatkan pentingnya membangun ekosistem yang memungkinkan inovasi berkembang. Namun, kemajuan teknologi juga perlu dinilai dari manfaatnya bagi masyarakat.

“Skolkovo memberikan contoh bagaimana pengetahuan, teknologi, dan industri dapat dipertemukan. Tetapi tantangan berikutnya bagi semua negara adalah memastikan inovasi yang dihasilkan benar-benar memahami kebutuhan manusia. Teknologi menciptakan kemungkinan, masyarakat menentukan kebermaknaannya,” ujar Devie.

Baca juga : Akademisi UI Apresiasi Terobosan Kemenpora

Dalam presentasi bertajuk Can AI Speak Our Language Without Understanding Our Humanity?, Devie mengangkat perubahan penting dalam persaingan AI global, yakni dari compute menuju context.

Menurutnya, investasi pada infrastruktur komputasi, pusat data, dan pengembangan model AI tetap penting. Namun, keunggulan teknologi juga akan ditentukan oleh kemampuannya memahami bahasa, budaya, nilai, dan persoalan nyata masyarakat.

“AI dapat sangat cerdas secara global, tetapi keliru memahami kebutuhan lokal. Karena itu, negara berkembang tidak harus selalu memulai dengan membangun seluruh teknologi dari nol. Kita dapat mengambil pendekatan yang lebih strategis yaitu Adapt, Align, Apply, sesuaikan dengan bahasa kita, selaraskan dengan nilai kita, dan terapkan untuk menyelesaikan masalah kita,” jelasnya.

Baca juga : Akademisi UI Apresiasi Fondasi Baru Pembangunan Indonesia

Devie menekankan bahwa ukuran keberhasilan AI tidak cukup berhenti pada jumlah pengguna atau kecepatan adopsi teknologi. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan, berkontribusi, bahkan ikut menciptakan solusi.

“Jangan hanya bertanya berapa banyak masyarakat yang menggunakan AI. Tanyakan juga berapa banyak yang mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas, menyelesaikan persoalan, dan menciptakan peluang baru. Kita perlu bergerak dari konsumen teknologi menjadi kontributor inovasi,” ujar penulis buku Penelitian Digital Sosial : Menelaah Kehidupan Masyarakat di era Teknologi Informasi.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.