Sebelumnya
LSP PRI: Sertifikasi Menjadi Semakin Relevan
Devie mengapresiasi kontribusi Lembaga Sertifikasi Profesi Public Relations Indonesia (LSP PRI) dalam memperkuat profesionalisme praktisi komunikasi. Lembaga yang mengembangkan skema sertifikasi kompetensi berlisensi BNSP tersebut menilai praktisi bukan hanya dari pengetahuan, tetapi juga keterampilan, kemampuan berpikir strategis, dan etika profesi.
Menurut Devie, pendekatan ini semakin relevan ketika AI mampu mengambil alih sebagian pekerjaan teknis komunikasi. Di era AI, ujarnya, kemampuan membuat konten bukan lagi pembeda utama. Yang semakin menentukan adalah kemampuan menilai risiko, mengambil keputusan, menjaga etika, dan mempertanggungjawabkan dampaknya.
Baca juga : Tips Kreator TikTok untuk Berkreasi & Menikmati Konten AI Lebih Bijak
"Karena itu, penguatan standar kompetensi dan sertifikasi profesi seperti yang dikembangkan LSP PRI patut diapresiasi," tegasnya.
Muslim Basya dan Pentingnya Kepemimpinan
PR Devie turut memberikan apresiasi kepada Muslim Basya, sebagai salah satu tokoh PR yang konsisten mendorong penguatan standar dan kompetensi profesi hubungan masyarakat di Indonesia. Muslim Basya sebelumnya menekankan bahwa sertifikasi membantu memastikan praktisi mampu menjaga dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta penerapannya dengan tetap memperhatikan etika dan ketentuan organisasi.
Baca juga : Negara Perluas Kesempatan, YPKBI Perkuat Keunggulan
“Kontribusi sosok seperti Bapak Muslim Basya penting karena profesionalisme tidak lahir hanya dari pengalaman bekerja, namun juga membutuhkan standar, pembelajaran berkelanjutan, dan kesediaan untuk diuji. Ketika teknologi berubah begitu cepat, fondasi profesi justru harus semakin kokoh,” ujar Devie.
Jangan Jadi Pabrik Konten, Jadilah Arsitek Kepercayaan
Devie juga mengingatkan bahwa masyarakat kini semakin sering memperoleh informasi langsung dari jawaban AI, bukan hanya melalui mesin pencari. Perubahan dari search economy menuju answer economy membuat organisasi perlu memastikan informasi resminya akurat, mutakhir, konsisten, dan dapat diverifikasi.
Baca juga : Akademisi UI Bawa Gagasan Indonesia: Dunia Punya AI, Kita Punya Ngopi
Alumni penerima beasiswa DAAD Jerman ini mendorong perguruan tinggi, asosiasi profesi, lembaga sertifikasi, dan industri komunikasi untuk bersama-sama memperbarui kompetensi PR, termasuk tata kelola AI, perlindungan data, manajemen krisis, dan audit reputasi digital. “Dunia tidak kekurangan konten, namun yang semakin langka adalah kepercayaan. Karena itu, praktisi komunikasi harus berani naik kelas, dari pembuat pesan menjadi penjaga integritas organisasi,” ujarnya.
Wakil Indonesia dalam pertemuan di OECD Paris ini menutup dengan penegasan, bahwa AI boleh semakin pintar membuat kata. Tetapi manusia harus semakin bijak menjaga fakta.
"Teknologi boleh mempercepat cerita. Namun, hanya integritas yang mampu merawat percaya,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.