RM.id Rakyat Merdeka - Di kegelapan kedalaman Selat Sunda, bersemayam sebuah monumen bisu Perang Dunia II, yakni bangkai kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Houston (CA-30). Kapal yang karam pada 1 Maret 1942 ini menjadi makam perang (grave war) bagi lebih dari 650 pelaut dan personel Korps Marinir Amerika Serikat (AS) yang gugur dalam Pertempuran Selat Sunda.
Negeri Paman Sam mengucurkan hibah bernilai 227.000 dolar AS (sekitar Rp 4 miliar, kurs Rp 18.000) melalui program Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP). Dana tersebut diberikan demi menjaga tempat peristirahatan terakhir para pahlawan AS, sekaligus warisan sejarah bahari bersama di Selat Sunda.
Peluncuran proyek pelestarian berjangka dua tahun ini digelar di pusat kebudayaan @america, Pacific Place, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Acara ini dihadiri Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar AS di Jakarta, Joy Sakurai serta Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KKP) I Nyoman Radiarta.
Sakurai mengatakan, perairan Selat Sunda menyimpan ikatan emosional dan sejarah yang mendalam antara Indonesia dan AS. Bagi Angkatan Laut dan keluarga para pelaut, situs ini lebih dari sekadar tempat bersejarah.
Baca juga : ABK Arupadatu I Ditemukan di Enggano, Bagaimana Arus Membawanya Sejauh Itu?
“Ini adalah makam perang yang menjadi pengingat sakral akan besarnya harga sebuah kemerdekaan. Kami sangat berterima kasih Indonesia terus menjadi garda pelindung bagi USS Houston,” tutur Sakurai dalam sambutannya.
Senada dengan hal tersebut, I Nyoman Radiarta menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia dalam menjaga warisan budaya bawah air (underwater cultural heritage). Bagi Indonesia, situs ini menjadi simbol sejarah dan kerja sama yang kokoh dengan AS.
“Melalui dukungan AFCP, kita tidak hanya melindungi situs, tetapi juga menghormati jiwa-jiwa pemberani yang beristirahat di sana,” ungkap Nyoman.
Langkah pelestarian ini tidak hanya mengandalkan riset sains di atas kertas. Arkeolog Maritim dari KKP Nia Naelul Hasanah Ridwan ditunjuk langsung menjadi kepala proyek pelestarian (project lead) AFCP USS Houston tersebut.
Baca juga : Jenazah di Pulau Enggano Teridentifikasi sebagai Surakman, ABK KM Arupadatu 1
Nia menegaskan, masyarakat pesisir adalah kunci keselamatan situs bersejarah tersebut. Para peneliti menggandeng langsung warga lokal sebagai benteng utama dari ancaman penjarahan besi tua ilegal (illegal salvage) hingga praktik penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing).
“Kami para peneliti hanya orang-orang yang datang dan pergi, tetapi masyarakatlah yang tinggal menetap di sana dan tahu persis kondisi lingkungan mereka,” ujar Nia dalam paparannya.
KKP menjalin kemitraan dengan Yayasan Exotica Desa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Pemerintah Daerah untuk meneliti dan memelihara situs ini. Proyek ini akan membentuk tiga Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokwasmas) di wilayah titik akses utama, yakni Pulau Panjang, Pelabuhan Karangantu, dan Bojonegara.
Selain dibekali pemahaman arkeologi dan pengawasan berbasis komunitas, warga juga didorong untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif berkelanjutan. Mulai dari destinasi wisata selam bersejarah hingga kerajinan khas bernilai ekonomi.
Baca juga : Kampus Di Amerika Buka Peluang Bagi Pelajar Indonesia
Nia mengatakan, saat ini situs kapal USS Houston masih sering dikunjungi oleh keluarga veteran untuk berziarah atau melakukan prosesi tabur bunga. Namun, selama ini kegiatan tersebut biasanya difasilitasi oleh Angkatan Laut AS atau para keluarga tentara datang secara mandiri.
“Jika masyarakat desa dan pulau di sekitar situs sudah siap dan terorganisir, keberadaan peziarah ini bisa dikelola oleh warga. Misalnya dengan menyediakan penginapan (homestay), pameran sejarah, hingga atraksi wisata edukasi kapal karam. Hal ini akan menciptakan ekosistem yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sebelumnya pada 15 Oktober 2026, Sakurai bersama Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal), Laksamana Madya TNI Edwin, telah menandatangani prasasti peringatan khusus untuk mengenang awak kapal USS Houston.
Prasasti tersebut dijadwalkan akan dipasang langsung di dasar laut dekat bangkai kapal pada awal November 2026. [LDU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.