Dark/Light Mode

ABK Arupadatu I Ditemukan di Enggano, Bagaimana Arus Membawanya Sejauh Itu?

Jumat, 25 September 2026 12:12 WIB
Keluarga korban kapal Speed Boat Arupadatu melaksanakan tabur bunga di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, Jumat (18/9/2026). (Foto: Polda Banten)
Keluarga korban kapal Speed Boat Arupadatu melaksanakan tabur bunga di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, Jumat (18/9/2026). (Foto: Polda Banten)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jenazah salah satu anak buah kapal (ABK) KM Arupadatu I yang bernama Surakman ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu pada 12 September 2026. Atau lima hari setelah kapal yang membawa lima jurnalis foto untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau hilang kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026.

Konfirmasi resmi atas penemuan jenazah tersebut disampaikan Polda Banten pada 23 September 2026, setelah dilakukan pencocokan sampel DNA dengan anak kandung Surakman.

Jarak antara Selat Sunda dan Enggano yang cukup jauh memunculkan pertanyaan: bagaimana mungkin korban dari kawasan tersebut ditemukan di Pulau Enggano?

Dalam perspektif oseanografi, kemungkinan itu dapat dijelaskan melalui dinamika arus laut, pasang-surut, angin, dan gelombang yang memengaruhi pergerakan benda atau tubuh yang mengapung di laut.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr. Daryono menjelaskan, temuan korban di Enggano dapat menjadi petunjuk penting untuk memahami kemungkinan jalur hanyutan dari Selat Sunda menuju Samudra Hindia.

"Ditemukannya jenazah salah satu ABK kapal yg hilang di kawasan Selat Sunda hingga Pulau Enggano, Bengkulu, menjadi petunjuk oseanografis yang sangat penting," kata Daryono melalui akun Instagram resminya, Kamis (24/9/2026).

Baca juga : 1 ABK Ditemukan Di Pulau Enggano

"Meskipun Enggano berada jauh di sebelah barat laut kawasan Anak Krakatau, secara dinamika laut perpindahan benda atau tubuh yang mengapung, hal itu memang mungkin terjadi," imbuhnya. 

Daryono yang juga mantan Direktur Gempa bumi & Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, laut bukanlah perairan yang diam. Benda terapung akan terus mengalami hanyutan akibat gabungan arus laut, pasang surut, angin, dan gelombang.

Arus Selat Sunda Sangat Dinamis 

Selat Sunda merupakan pintu pertukaran massa air antara Laut Jawa dan Samudra Hindia. Arusnya sangat dinamis dan tidak selalu bergerak satu arah. Dalam skala jam, pasang surut bahkan dapat membalik arah arus.

Namun, dalam skala waktu yang lebih panjang, terdapat arus residu atau transport netto (arah perpindahan air yg tersisa setelah gerakan bolak-balik akibat pasang-surut dirata-ratakan dalam periode tertentu).

Pada periode monsun tenggara, termasuk sekitar Juni - September, kecenderungan ekspor massa air dari Laut Jawa melalui Selat Sunda menuju Samudra Hindia menguat.

Penelitian berbasis HF Radar juga menunjukkan bahwa arus residu di Selat Sunda dapat bergerak ke arah barat daya.

Baca juga : Benarkah Gunung Anak Krakatau Kini Punya Cucu? Simak Penjelasan Ahli

"Karena itu, apabila seseorang atau benda terapung dari kawasan Anak Krakatau telah masuk ke aliran yang mengarah keluar Selat Sunda, ia dapat tertransport menuju perairan Samudra Hindia," beber Daryono. 

"Setelah keluar dari selat, lintasannya menjadi semakin kompleks karena mulai berinteraksi dengan sistem sirkulasi yang lebih luas di perairan barat Sumatra dan selatan Jawa," lanjutnya.

Pada musim tenggara, sirkulasi di sepanjang pantai selatan Jawa - barat Sumatra juga mengalami perubahan musiman yang dapat mendukung transport ke arah barat.

Bagaimana dengan faktor angin?

"Angin juga penting, tetapi pengaruhnya perlu dibedakan dari arus laut," ujar Daryono.

Arus mengangkut benda bersama massa air atau disebut adveksi, sedangkan angin dapat memberikan dorongan tambahan terhadap bagian benda yg berada di atas permukaan laut atau windage.

Baca juga : Basarnas Belum Buka Lagi Operasi Pencarian KM Arupadatu 1

Besarnya pengaruh angin sangat tergantung pada karakter objek.

"Kapal, serpihan kapal, pelampung, dan tubuh manusia tidak mempunyai respons hanyutan yang sama karena luas bagian yang muncul di atas air, daya apung, dan hambatan terhadap angin berbeda," papar Daryono.

Menurutnya, gelombang tak hanya sekadar membuat benda naik turun. Gelombang dapat memberikan perpindahan netto melalui mekanisme yang dikenal sebagai stokes drift (gelombang tidak hanya mengombang-ambingkan benda, tetapi juga dapat sedikit demi sedikit mendorongnya berpindah).

Karena itu, arah hanyutan suatu objek di laut tidak selalu identik dengan arah arus yang diukur pada satu titik.

"Secara sederhana, lintasan akhirnya merupakan resultan dari arus laut, arus pasang-surut, dorongan angin, stokes drift gelombang, serta kondisi daya apung objek," kata Daryono.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.