BREAKING NEWS
 

400 Ribu Orang Demo, 1.000 Orang Ditangkap

Prancis Masih Membara

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : ADITYA NUGROHO
Senin, 26 Oktober 2026 07:40 WIB
Prancis dilanda gelombang demonstrasi yang berujung pada kerusuhan di sejumlah kota. (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Prancis masih membara. Ratusan ribu orang kembali turun ke jalan menggelar demonstrasi yang berujung bentrok dan kerusuhan di sejumlah kota, Sabtu (24/10/2026). Hampir 1.000 orang ditangkap.

Melansir Reuters, demonstrasi utama berlangsung di Paris dengan lebih dari 110.000 orang mengikuti long march di jalanan ibu kota. Mereka mengecam kenaikan biaya hidup dan ketidaksetaraan.

Sebagian besar pusat Kota Paris seperti kota mati. Para pemilik toko menutup etalase, sementara museum dan lebih dari 20 stasiun metro ditutup. Langkah tersebut dilakukan setelah ribuan toko dan pusat bisnis di seantero Prancis rusak dan dijarah dalam demo besar akhir pekan sebelumnya.

Aksi di Paris kemudian berujung bentrok. Polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan ratusan pemuda bermasker dan berpenutup kepala yang melemparkan batu ke arah petugas.

Aksi massa juga berlangsung di Lille, Strasbourg, Mulhouse, Grenoble, Toulouse, dan Amiens. Di Marseille, kota terbesar kedua di Prancis, para pemuda membawa lembaran logam besar untuk memblokir jalan, membakar tempat sampah, serta melemparkan batu dan botol ke arah polisi antihuru-hara.

Sejumlah demonstran di Marseille juga terlihat membawa bendera Prancis dan suar asap.

Baca juga : Ahmad Irawan: Masukan Ini Sebaiknya Disampaikan Ke DPR

Pihak berwenang mengerahkan 70.000 petugas polisi dan pasukan elite Gendarmerie Nasional Prancis (GIGN), anggota kepolisian yang berstatus militer atau merupakan bagian dari angkatan bersenjata. Pemerintah Prancis menangkap hampir 1.000 orang dalam aksi protes terbaru yang berlangsung di berbagai wilayah.

“Kelompok ultra-kiri melemparkan berbagai benda dan mengarahkan kembang api ke arah polisi untuk memicu bentrokan. Hampir 1.000 orang telah ditangkap. Jumlah ini akan bertambah,” kata Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez seperti dikutip BBC, Minggu (25/10/2026).

Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan jumlah peserta demonstrasi pada Sabtu (24/10/2026) mencapai 410.000 orang. Sementara itu, serikat pekerja memperkirakan jumlahnya lebih dari 800.000 orang.

Nunez mengatakan, meskipun sejumlah toko dan tempat usaha sempat dirusak dan dijarah, skalanya jauh lebih kecil dibandingkan aksi kerusuhan pekan sebelumnya. Pusat-pusat perbelanjaan kali ini juga telah dijaga lebih ketat.

Adsense

“Pihak berwenang akan tetap dalam status siaga tinggi sepanjang malam hingga hari Minggu (25/10/2026),” tambahnya.

Dilansir AFP, Sabtu (24/10/2026), Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar rapat dengan dewan pertahanan yang dihadiri para menteri dan pejabat tinggi Prancis. Macron dilaporkan menunda kunjungan ke Nigeria dan Senegal pada akhir bulan ini.

Baca juga : Muhammad Zulfan Raghibie: Untuk Beri Kepastian Masa Transisi Pemilu

Setelah demo besar pekan lalu, Macron untuk pertama kalinya menggelar pertemuan dengan perwakilan siswa sekolah menengah di Prancis. Namun, pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil.

Perwakilan siswa justru menyerukan rekan-rekan mereka untuk terus berunjuk rasa.

Sementara itu, Pemerintah Prancis dilaporkan meminta operator telekomunikasi menangguhkan akses ke platform media sosial jika terjadi potensi kekerasan selama aksi unjuk rasa.

Menurut media Prancis, Blast, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengirimkan surat kepada perwakilan Orange, SFR, Free, dan Bouygues Telecom pada Kamis (22/10/2026). Dalam surat tersebut, para operator telekomunikasi diminta memblokir sementara akses ke sejumlah platform media sosial, termasuk TikTok, Instagram, Snapchat, dan X, jika terjadi kekerasan selama demonstrasi lanjutan.

Sejumlah anggota kabinet Lecornu dan direktur hukum perusahaan operator telekomunikasi Prancis juga mengadakan pertemuan daring menjelang aksi protes tersebut. Namun, para operator menyatakan keberatan dan tidak memiliki kapasitas untuk menerapkan langkah-langkah tersebut.

Demonstrasi di Prancis sebelumnya diawali protes pelajar sekolah menengah (lycées) yang mengkritik kekurangan guru dan buruknya kondisi bangunan sekolah. Aksi tersebut kemudian mendapat dukungan dari kelompok serikat pekerja dan aktivis gerakan Rompi Kuning (Gilets Jaunes).

Baca juga : Zulhas Salurkan Bantuan Beras Untuk Warga Nganjuk

Isu demonstrasi kemudian melebar. Massa juga memprotes lonjakan harga pangan dan energi, inflasi, serta kebijakan ekonomi Presiden Emmanuel Macron. Aksi besar pecah di hampir seluruh kota di Prancis pada Sabtu (17/10/2026). Diperkirakan 550.000 hingga 800.000 orang turun ke jalan, sedangkan 2.700 orang ditangkap.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir mengingatkan, warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Eropa agar berhati-hati di tengah gelombang demonstrasi yang melanda sejumlah wilayah.

WNI diminta tidak terlibat dalam unjuk rasa maupun kegiatan politik di negara tempat mereka berada. FAQ

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense