RM.id Rakyat Merdeka - Rakyat Palestina tidak terlalu memikirkan siapa yang akan menang Pemilihan Umum (Pemilu) di Israel. Mereka hanya mempertanyakan, apakah akan ada perubahan nyata untuk kesejahteraan rakyat, utamanya di Jalur Gaza yang porak-poranda akibat perang.
Apakah Benjamin Netanyahu akan tetap berkuasa bersama sekutu-sekutu sayap kanannya, atau justru rivalnya dari kubu Gadi Eisenkot, hanya sedikit warga Palestina yang menaruh harapan pada pemungutan suara 27 Oktober 2026 itu.
“Kami khawatir pemilihan ini justru bisa menghadirkan pemimpin yang jauh lebih bengis,” ujar warga pengungsi dari Khan Yunis di wilayah selatan Gaza, Huda al-Houli, dikutip dari AFP, Kamis (29/10/2026).
Warga Gaza, Adnan Al-Assar, juga tidak menaruh banyak harapan. “Netanyahu mungkin saja menang. Namun, apa pun yang terjadi, mereka semua menjalankan kebijakan mendasar yang sama, yang ditujukan untuk melawan rakyat Palestina,” tegas Al-Assar.
Di Ramallah, Tepi Barat, Ahmed Awad (67), juga menunjukkan sikap skeptis yang serupa. “Apa pun hasilnya, dan bahkan jika para politisi berganti, menurut saya tidak akan ada perubahan kebijakan drastis terkait konflik Palestina-Israel,” ujarnya.
Baca juga : Sherina Munaf Sedih, Banyak Orang Berpendidikan Di-PHK
Dengan 90 persen surat suara telah dihitung, kubu Netanyahu tetap unggul, namun gagal meraup mayoritas suara. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian mengenai Pemerintahan di Israel berikutnya.
Bagi Netanyahu yang tengah berjuang demi kelangsungan karier politiknya, sejumlah jalan masih terbuka. Dia bisa memperbarui aliansi dengan kelompok sayap kanan, membangun koalisi yang lebih luas, atau menghadapi kebuntuan politik lainnya.
Menteri dari kelompok sayap kanan, Itamar Ben Gvir, telah mengisyaratkan, jika koalisi saat ini tetap bertahan, dia mengincar jabatan Menteri Pertahanan dan mendesak pengusiran penduduk Gaza.
Peneliti dari European Council on Foreign Relations Beth Oppenheim punya pandangan berbeda. Menurutnya, jika Gadi Eisenkot berkuasa, dapat meredam pengaruh kelompok sayap kanan pendukung perluasan permukiman Israel.
“Pemerintahan itu juga dapat mengurangi tekanan terhadap Otoritas Palestina, serta mengambil pendekatan yang lebih fleksibel terkait bantuan dan gencatan senjata di Gaza,” ucap Oppenheim.
Baca juga : Menlu Singapura Sowan ke Prabowo
Kendati begitu, menurutnya, memang lebih baik tidak berharap banyak pada politisi Israel. “Pastinya tidak akan ada pergeseran besar terkait status kenegaraan Palestina atau proses perdamaian,” prediksinya.
Kepala Program Palestina-Israel di Arab Centre Washington Yousef Munayyer mengatakan, kekalahan Netanyahu bisa membuat nasib warga Palestina lebih buruk dalam jangka pendek.
“Ada banyak alasan bagi warga Palestina untuk merasa khawatir,” katanya.
Munayyer mencatat, Gadi Eisenkot pernah menjabat dalam kabinet masa perang Israel selama serangan di Gaza.
Di Tepi Barat, lanjutnya, kekerasan bisa meningkat jika kelompok sayap kanan kehilangan kekuasaan. Pasalnya, para pemukim yang mungkin akan melancarkan aksi terhadap Pemerintahan baru.
Baca juga : Hasil Pemilu Israel Ketat, Netanyahu Dipepet Oposisi
“Penting untuk dipahami, sebagian besar kekerasan pemukim di Tepi Barat bersifat struktural. Hal ini tidak bergantung pada siapa pemerintahan yang sedang berkuasa,” tuturnya.
Dikutip dari Al Jazeera, Kamis (29/10/2026), kubu Netanyahu dan Eisenkot belum berhasil mengamankan sedikitnya 61 kursi dari total 120 kursi di Knesset, parlemen Israel. Padahal, jumlah tersebut diperlukan untuk mencapai mayoritas dan membentuk Pemerintahan.
Berdasarkan data Komite Pemilihan Umum Pusat Israel hingga Rabu (28/10/2026) pukul 21.00 waktu setempat, lebih dari lima juta suara telah dihitung. Blok Netanyahu diproyeksikan meraih 53 kursi di Knesset. Sementara, blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot diperkirakan mengamankan 48 kursi. Sedangkan partai-partai Arab, Joint List dan Ra’am, berpotensi meraih total 19 kursi.
Peta politik ini masih akan berubah karena lebih dari 500.000 surat suara khusus belum dihitung. DAY
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Jumat, 30 Oktober 2026 dengan judul "Netanyahu Vs Eisenkot Berebut Kursi PM Israel, Rakyat Palestina Skeptis Kehidupan Makin Buruk"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.