Dark/Light Mode

Hasil Pemilu Israel Ketat, Netanyahu Dipepet Oposisi

Kamis, 29 Oktober 2026 08:14 WIB
Ilustrasi persaingan ketat koalisi Benjamin Netanyahu dan Gadi Eisenkot dalam Pemilu Israel. (Gambar dibuat dengan Gemini)
Ilustrasi persaingan ketat koalisi Benjamin Netanyahu dan Gadi Eisenkot dalam Pemilu Israel. (Gambar dibuat dengan Gemini)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemilu Israel 2026 berlangsung ketat. Perolehan suara koalisi incumbent Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dipepet koalisi oposisi.

Pemungutan suara Pemilu Israel 2026 digelar Selasa (27/10/2026). Penghitungan suara dimulai sejak tempat pemungutan suara ditutup pada Selasa (27/10/2026) malam, pukul 22.00 waktu setempat. Hasil akhir resmi akan diumumkan paling lambat 4 November mendatang.

Hasil quick count atau exit poll dan data awal dari Komite Pemilu Pusat atau Central Elections Committee (CEC) mulai dirilis berkala sejak Rabu (28/10/2026). Dua kubu yakni koalisi Netanyahu dari Partai Likud dan koalisi oposisi di bawah Gadi Eisenkot dari Partai Yashar bersaing ketat.

Dengan total 120 kursi Knesset (parlemen) yang diperebutkan, diperlukan minimal 61 kursi untuk mencapai mayoritas parlemen dan membentuk pemerintahan baru. Hingga saat ini, belum ada kubu yang berhasil mengamankan mayoritas mutlak kursi di parlemen.

Hasil sementara, koalisi Netanyahu masih mempertahankan keunggulan atas kubu Eisenkot. Dengan 66,2 persen suara masuk per Rabu (28/10/2026), pukul 09.20 waktu setempat, Partai Likud yang disetir Netanyahu berada di posisi atas dengan 28 kursi parlemen, disusul Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot di posisi kedua dengan perolehan 21 kursi parlemen.

Baca juga : Bahlil Cari Pasokan ke China & India, Tenang Stok BBM Aman

Jika dihitung berdasarkan blok politik yang terbentuk, koalisi Netanyahu masih unggul dengan raihan total 56 kursi parlemen. Sedangkan kubu Eisenkot baru memperoleh total 48 kursi parlemen. Partai-partai Arab, yang melawan Netanyahu dan tidak berkoalisi dengan oposisi, mengamankan total 16 kursi.

The Times of Israel, Rabu (28/10/2026), memperkirakan, karena tidak ada blok politik utama yang mencapai ambang batas 61 kursi, kemungkinan akan terjadi negosiasi koalisi yang alot untuk menentukan siapa yang akan menjabat sebagai PM selanjutnya.

Pemimpin kedua kubu pun saling mengklaim kemenangan. Netanyahu menyatakan, bloknya telah meraih suara kursi mayoritas. "Kita harus membentuk pemerintahan sayap kanan yang kuat," kata Netanyahu, di depan para pendukungnya saat proses perhitungan, seperti dilansir AFP dan Al Jazeera, Rabu (28/10/2026).

Netanyahu mengatakan, hasil akhir sementara Pemilu diperkirakan akan keluar dalam satu atau dua hari ke depan. Namun, ia merasa partainya yang terbesar dan tidak ada yang bisa menyaingi. "Likud partai terbesar, blok sayap kanan memiliki mayoritas, mayoritas yang mutlak," klaimnya.

Netanyahu menyatakan, Israel tidak boleh bergantung pada partai-partai yang dipimpin oleh pihak Arab. "Mayoritas Yahudi dan Zionis harus bersatu. Tidak mungkin Israel memiliki pemerintahan yang didukung partai-partai Arab," serunya.

Baca juga : Bertemu Luhut, Yusril Mau Revisi Definisi Korupsi

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang merupakan sekutu Netanyahu, ikut mengklaim kemenangan. Ia menepuk dana dengan menyebut dukungannya telah mendorong kemenangan Netanyahu. 

"Ketika Presiden Trump mendukung Bibi Netanyahu, arah situasi berubah total. Sekarang, alih-alih mengalami kekalahan telak, sang Perdana Menteri yang hebat itu justru tampak berhasil bangkit hingga mencapai posisi imbang, atau bahkan meraih kemenangan," kata Trump, seperti dilansir Ynetnews dan The Times of Israel, Rabu (28/10/2026).

Trump paham, hasil Pemilu Israel belum final. Namun, dia mengisyaratkan, koalisi Netanyahu telah melampaui ekspektasi. "Masih terlalu dini. Mungkin hasilnya imbang, atau bahkan menang. Kita lihat saja nanti apa yang terjadi," ujarnya.

Eisenkot juga mengklaim kemenangan. Mantan Kepala Staf Militer Israel bertekad segera mengambil langkah membentuk pemerintahan baru menggantikan Netanyahu.

Dalam laporan Gulf News dan Al Jazeera, Rabu (28/10/2026), Eisenkot menyebut, hasil Pemilu kali ini adalah kemenangan bagi kelompok politik yang menentang kelanjutan pemerintahan Netanyahu. "Kami menang," tegas Eisenkot, di hadapan para pendukung Partai Yashar di Tel Aviv. 

Baca juga : MBG Serap 1,3 Juta Tenaga Kerja & Kurangi Kemiskinan Ekstrem

Eisenkot menambahkan, hasil sementara Pemilu menunjukkan bahwa rakyat Israel menginginkan perubahan kepemimpinan. "Bukti hilangnya kepercayaan sepenuhnya terhadap Netanyahu dan pemerintahan yang berkuasa saat serangan 7 Oktober," ujarnya. 

Namun, dia mengajak pendukungnya menunggu hasil akhir Pemilu resmi. "Ini masih hasil hitung cepat dan kita harus menunggu penghitungan akhir," pesannya.

Eisenkot berjanji akan membentuk pemerintahan baru yang melayani seluruh masyarakat Israel dan menghormati berbagai kelompok masyarakat serta berkomitmen memperkuat lembaga-lembaga negara.

Pemimpin partai Arab dalam Pemilu Israel, United Arab List atau Ra'am, Mansour Abbas berharap, partainya dan kubu oposisi menjalin koalisi untuk menggulingkan Netanyahu. "Saya berharap kita dapat mengubah pemerintahan ini dan jumlah kursi yang terkumpul mencapai 61 kursi, yakni dari blok oposisi bersama dengan Ra'am," ucap Abbas, seperti dikutip Channel 12, Rabu (28/10/2026).

Pemilu Israel 2026 digelar dengan tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen. Angka jni mencetak rekor tertinggi sejak 1999, dan naik 7,1 persen dibandingkan Pemilu 2022.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.