BREAKING NEWS
 

Akhlak Nabi Terhadap Warga Non-Muslim (5)

Kisah Sapi Kuning

Jumat, 23 Agustus 2024 06:00 WIB
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu nama surah dalam Al-Qur’an ialah surah Al-Baqa­rah (Sapi Betina). Surah ini terpanjang dalam Al-Qur’an, hampir tiga juz, 286 ayat.

Kita tidak tahu mengapa Tuhan memberi nama surah dengan Al-Baqarah. Yang jelas dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada air susu sapi betina betapa banyak bayi yang tak tertolong, terutama ibu-ibu mereka yang tidak mempunyai air susu ibu (ASI).

Nama surah ini diambil dari kisah seorang konglomerat dari Bani Israil meninggal misterius, tidak jelas siapa pembunuhnya. Masyarakat bingung siapa pem­bunuhnya. Saat itulah muncul tetua adat yang menginformasi­kan jika ingin mengetahui siapa pembunuh orang kaya ini maka diperlukan seekor sapi.

Bani Israil yang terkenal sejak dulu tukang kritis dan kadang keras kepala bertanya sapi jenis apa yang dibutuhkan, apakah sapi jantan atau betina? Lalu dijawab apakah engkau akan memperma­lukan kami (Bani Israil) dengan menyuruh kami menyembelih sapi betina? Dijawab oleh Nabi Musa: Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil (Q.S. Al-Baqarah/67-74).

Pertanyaan diteruskan oleh mereka, apa jenis kelamin sapi itu, jantan atau betina? Dijawab “sapi betina”. Tuhan minta mereka agar melaksanakan perintah itu, tetapi masih “ngeyel” dan masih terus bertanya. Sapi betina muda atau tua? Dijawab tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu). Mereka terus bertanya, apa warna sapi betina itu: Dijawab “sapi betina yang kuning”. Mereka yang bertanya lagi kuning bagaimana, kuning tua atau kuning muda? Di jawab: kuning tua).

Baca juga : Kelompok Moderat Tidak Boleh Cengeng

Mereka terus bertanya tanpa henti, yang pertanyaan-pertanyaan itu sesungguhnya semakin memojokkan diri mereka sendiri. Pertanyaan selanjutnya, kuning tua yang bagaiman? Dijawab: Kuning yang menyenangkan semua orang memandangnya (tasur al-nadhirin). Kata al-nadhirin adalah bentuk jamak, jadi kuning di sini bukan hanya yang menyenangkan segolongan orang, tetapi kepada semua orang. Ini yang berat, karena boleh jadi satu pilihan hanya menyenangkan segolongan orang tetapi tidak yang lainnya.

Surah Al-Baqarah seperti mendemonstrasikan betapa keras kepalanya bani israil. Seteleh mereka semakin terpojok dengan jawaban-jawaban pertanyaannya sendiri, masih saja mencari cela pertanyaan. Yang mereka per­tanyaan ialah: Hakekat wujud sapi itu seperti apa? Dijawab: Belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya).

Dalam waktu yang bersamaan, ada seorang anak yatim yang didhalimi oleh keluarga dekatnya sendiri. Harta kekayaan diambil kakak-kakaknya yang lebih tua, sementara si anak bungsu yang masih kecil hanya diberi seekor anak sapi.

Adsense

Si anak yatim yang diasuh kakeknya hidup dengna penuh keterbatasan. Anak sapi dipeliharanya itu kemudian semakin hari sema­kin menunjukkan kekhususan, dari segi warna dan prilakunya.

Nabi Musa menasehati keluarga itu agar jangan menjual sapinya sekarang tetapi tunggu sampai tumbuh agak lebih besar, karena sapi ini akan dicari orang dan akan dibeli mahal.

Baca juga : Merawat Kelompok Moderat

Sikap kritis berlebihan Bani Israil ini diistilahkan dalam Al-Qur’an dengan: Hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi (ka al-hijarah au asyaddu qaswah).

Akhirnya Bani Israil menyadari bahwa tuntutan dan pertanyaan-pertanyaan yang berlebihan se­makin meberatkan mereka, lalu mereka memohon kepada Nabi Musa sebagai pemimpin spiritu­al di negeri itu untuk membantu menemukan sapi itu.

Mereka yakin melalui Nabi Musa akan menemukan sapi itu. Sejelek-jeleknya mereka masih punya i’tikad baik dengan mengatakan: Sesungguhnya kami Insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).

Sapi yang dicari oleh keluarga Bani Israil ialah sapi peliharaan anak yatim tadi. Sapi ini dibeli sangat mahal, lebih mahal dari harta yang dikorup oleh kakak-kakaknya. Sapi ini disembelih, lalu ekornya digunakan untuk memukulkan seorang orang kaya yang dibunuh oleh kemanakannya sendiri karena tergila-gila dengan harta warisan paman­nya. Setelah menunjuk si pem­bunuhnya maka ia mati kembali. Orang yang tergila-gila dengan harta warisan dengan membunuh pamannya ditahan dan dipenjara.

Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah yang dipilih menjadi nama surah ini ialah segala sesuatu yang berlebihan, sungguhpun itu sesuatu yang pada dasarnya baik, tetap dipandang tidak baik oleh Al-Qur’an.

Baca juga : Berkepribadian Istiqamah

Allah SWT menegaskan: “Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, justru menyusahkan kamu” (Q.S. Al-Maidah/5:101). Mengeritik boleh tetapi sebai­knya tetap di dalam batas-batas kewajaran, agar hasilnya produk­tif bukan kontra-produktif. Tuntutan dan pertanyaan yang berlebihan seringkali merepotkan semua pihak.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5 edisi Jumat, 23 Agustus 2024 dengan judul "Akhlak Nabi Terhadap Warga Non-Muslim (5), Kisah Sapi Kuning"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense