BREAKING NEWS
 

Tidak Ada Pemimpin Sesempurna Muhammad SAW

Sabtu, 9 Agustus 2025 18:36 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si

RM.id  Rakyat Merdeka - Saya baru saja membaca sebuah tulisan berjudul “Memimpin Tanpa Mendidik.” 
Bahasanya indah, nada kritiknya kuat, dan niatnya, saya percaya, ingin mengingatkan. Namun izinkan saya ikut menyampaikan pandangan. 

Tulisan tersebut menyisakan sejumlah pertanyaan penting. Semangatnya kita hargai, tapi nuansanya terasa terburu-buru dalam menyimpulkan arah kepemimpinan hari ini.

Membangun bangsa tidak seperti membalik telapak tangan. Ia bukan cerita pendek yang tuntas dalam satu halaman. Kita sedang menjalani estafet peradaban, di mana setiap pemimpin hanya mendapat satu giliran untuk berlari. 

Setelahnya, tongkat itu berpindah. Demokrasi mengajarkan kita bahwa tidak ada satu pun pemimpin yang bisa menyelesaikan segalanya dalam satu waktu. Karena itu, menuntut kesempurnaan dalam sekejap justru bertentangan dengan semangat demokrasi itu sendiri.

Rakyat Indonesia adalah rakyat yang penuh cinta pada negerinya. Harapan mereka besar, keyakinan mereka tulus. Namun dari harapan yang begitu tinggi, terkadang lahir juga rasa kecewa yang terlalu cepat. Baru satu kekurangan muncul, langsung dianggap sebagai tanda kegagalan total. Tanpa sadar kita terjebak dalam cara berpikir yang terburu-buru. Kalau pemimpin belum sempurna, langsung dianggap gagal total. Kalau satu kebijakan belum terasa hasilnya, langsung disimpulkan sebagai pengabaian.

Padahal hidup tidak bekerja dengan pola hitam putih seperti itu. Cara berpikir seperti ini dalam dunia logika disebut false dilemma. Cacat logika ini menganggap hanya ada dua pilihan mutlak, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks dan penuh proses.

Kita tidak bisa menilai kepemimpinan hanya dari satu sisi. Apakah benar negara abai terhadap misi mencerdaskan kehidupan bangsa? Apakah benar pembangunan fisik dilakukan dengan mengorbankan akal budi rakyat? Pertanyaan seperti ini layak diajukan, tetapi juga layak dijawab dengan fakta. 

Baca juga : Kapolri Pimpin Apel Akbar Kokam Pemuda Muhammadiyah 2025 Di Yogya

Pemerintah saat ini terus bekerja di banyak lini. Sekolah dibangun, beasiswa diperluas, kurikulum dibenahi, digitalisasi pendidikan berjalan, kesejahteraan guru diperjuangkan, dan pelatihan vokasi diperluas. Apakah semuanya sudah cukup? Tentu belum. Tapi kalau disebut tidak ada sama sekali, itu jelas tidak benar.

Presiden Prabowo memimpin negeri ini dengan bekal semangat dan pengalaman panjang. Beliau tidak pernah mengklaim diri sebagai pemimpin yang sempurna. Justru sejak awal, ia menyadari betul bahwa masa kepemimpinannya adalah masa belajar, masa memperbaiki, masa merespons tantangan yang diwariskan dari masa lalu dan yang muncul dari zaman baru. 

Kabinet yang dibentuk, bukan tanpa celah. Kritik banyak, perbaikan masih diperlukan. Tapi semua ini tidak bisa serta-merta dilihat sebagai tanda bahwa negara gagal total. Kadang kita hanya perlu sedikit bersabar. Pemimpin tidak bisa menjawab semua tuntutan sekaligus.
 
Bahaya terbesar dalam demokrasi bukanlah ketika rakyat mengkritik, melainkan ketika kritik berubah menjadi cemoohan, ketika refleksi berubah menjadi sinisme, dan semua kebijakan selalu diasumsikan sebagai muslihat kekuasaan. 

Demokrasi bukan sistem yang menuntut pemimpin selalu benar. Tapi juga bukan sistem yang membolehkan kita terus-menerus memvonis sebelum melihat prosesnya dengan jernih.

Di sinilah saya ingin mengajak para cendekiawan, para pemikir, para tokoh agama, para dosen, budayawan, filsuf, dan siapa saja yang dipercaya kata-katanya oleh masyarakat, untuk berperan aktif menjaga narasi yang sehat. Bukan untuk membela siapa pun, tapi untuk memastikan bahwa ruang publik kita tidak dipenuhi tuduhan yang membakar, melainkan pertanyaan yang mencerahkan. 

Adsense

Kita semua punya peran, bukan hanya dalam mengoreksi, tapi juga dalam mengarahkan. Dalam dunia yang penuh kebisingan, suara jernih dari para pemikir sangat dibutuhkan untuk menenangkan, menimbang, dan membimbing.

Tidak ada satu pun pemerintah yang berniat menyengsarakan rakyatnya. Yang ada adalah keterbatasan. Ada tekanan dari waktu, dari tantangan global, dari kondisi ekonomi, dari kerumitan birokrasi, dari manusia-manusia yang belum semuanya bergerak dengan semangat yang sama.

Baca juga : Bermodal Rp1,5 Triliun, Spurs Sah Miliki Mohammed Kudus

Dalam keadaan seperti ini, kita tidak butuh tudingan. Kita butuh ketekunan dan kemauan untuk bersama-sama menjaga arah.

Apakah kita menutup mata terhadap kerja-kerja nyata yang sudah dimulai sejak hari-hari pertama pemerintahan ini berjalan? Presiden Prabowo langsung tancap gas dengan program besar seperti Makan Bergizi Gratis untuk anak-anak Indonesia, sebuah agenda mulia yang bukan hanya soal gizi, tetapi soal masa depan generasi bangsa. 

Di sisi lain, pengelolaan aset negara mulai ditata serius melalui Danantara, sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian fiskal. Upaya membuka kepercayaan dunia internasional juga terus digenjot. 

KiMaka pertanyaannya, di tengah semua ikhtiar ini, masa kita tidak memberikan dukungan dan dorongan? Kalau kita memang cinta pada negeri ini, apresiasi pun adalah bagian dari kerja kebangsaan.

Maka, ketika kritik disampaikan, sampaikanlah dengan niat baik, bukan dengan amarah. Kalau ada kekeliruan, tegur dengan empati. Bukan dengan kemegahan moral yang seolah hanya satu pihak yang benar. Demokrasi juga butuh cendekiawan yang sabar dan tetap jernih dalam berpikir. Pengamat yang tahu kapan bicara, tahu kapan bekerja, dan tahu kapan saling menguatkan.

Saya memahami jika ada yang belum puas dengan keadaan sekarang. Tapi jika kita ingin bangsa ini melaju, jangan kita jatuhkan semangat sebelum waktunya. Jangan kita anggap kritik sebagai kemenangan, dan jangan kita pikir bahwa bait-bait indah di atas kertas bisa menggantikan kerja-kerja sunyi yang dijalankan di lapangan. 

Negara ini dibangun oleh banyak tangan. Oleh guru di pelosok, oleh petugas di desa, oleh pemimpin di pusat, dan juga oleh rakyat yang tidak menyerah menjaga harapan.

Baca juga : Mauricio Souza Tidak Akan Bedakan Pemain Asing Dan Lokal

Kalau hari ini belum selesai, mungkin karena prosesnya memang sedang berlangsung. Kalau Prabowo dan kabinetnya belum bisa menjawab semua, mari kita bantu, kita dorong, kritik, dan kita doakan. Karena negara ini bukan milik satu orang saja. Indonesia milik kita semua.

Dan kalau nanti tongkat estafet itu berpindah tangan, biarlah pemimpin yang datang berikutnya bisa berlari lebih cepat. Karena jalan yang dilaluinya pernah dibersihkan oleh kita semua, dengan kerja, dengan niat baik, dan dengan cinta yang tak pernah padam.

Memimpin memang butuh waktu. Tapi yang lebih penting dari waktu, adalah memberi ruang untuk tumbuh. Dan untuk itu, bangsa ini harus saling menopang, bukan saling menyudutkan. ‎

Penulis dari:  Ketua Umum PP. BAKOMUBIN dan Professor Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense