RM.id Rakyat Merdeka - Perdamaian lahir dari kesadaran yang tumbuh melalui pengalaman manusia memahami penderitaan dan nilai kehidupan. Ia berawal dari keyakinan bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan tidak membawa manfaat bagi siapa pun.
Dalam sejarah perang, manusia dipenuhi oleh keinginan untuk menguasai. Akan tetapi, di dalam setiap pergumulannya selalu muncul jiwa-jiwa yang memilih jalan kebijaksanaan. Dari mereka, dunia belajar bahwa kedamaian adalah hasil dari nalar, kesabaran, dan keikhlasan hati.
Pidato Presiden Prabowo di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 2025 menjadi momen penting bagi arah baru politik luar negeri Indonesia dan pengaruhnya kepada dunia. Dalam forum itu, ia menampilkan pandangan yang berakar pada rasionalitas dan moralitas.
Prabowo menguraikan gagasan perdamaian dunia dengan penekanan pada keadilan dan kemanusiaan. Ia menyampaikan keyakinan bahwa stabilitas global hanya dapat tumbuh apabila setiap bangsa menghormati hak hidup bangsa lain.
Pidato tersebut menghadirkan wajah Indonesia yang teguh dan seimbang. Prabowo berbicara tentang pentingnya solusi dua negara bagi Palestina dan Israel sebagai jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Ia mengajak negara-negara untuk kembali pada semangat dasar PBB yang menempatkan nilai kemanusiaan di atas persaingan dan ambisi. Pidato itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu suara rasional.
Filosofi Damai dan Rasionalitas Diplomasi
Baca juga : Sabar Menilai, Kuatkan Asa Bersama Prabowo-Gibran
Filsuf Prancis-Jerman Eric Weil menjelaskan bahwa kekerasan muncul ketika manusia berhenti berpikir. Menurutnya, rasionalitas adalah kemampuan untuk memilih dialog diatas perang. Manusia mencapai tingkat tertinggi peradaban ketika menggunakan akal sehatnya untuk menjaga kehidupan. Pemikiran Weil menegaskan bahwa perdamaian adalah tindakan aktif, hasil dari pikiran yang terlatih dan hati yang tenang.
Gagasan ini sejalan dengan ajaran Stoik yang menempatkan kendali diri sebagai dasar kebijaksanaan. Epictetus dan Marcus Aurelius mengajarkan bahwa ketenangan batin adalah kunci bagi tatanan hidup harmonis. Seseorang yang mengenal dirinya akan lebih mampu menjaga kedamaian di sekitarnya. Dalam pandangan ini, kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan menata diri sebelum menata dunia.
Sosiolog Johan Galtung menambahkan dimensi sosial pada pemahaman tentang damai. Ia menyebut perdamaian positif sebagai kondisi di mana keadilan dan kesejahteraan hadir bersama. Kedamaian tidak hanya berarti berhentinya konflik, tetapi juga terciptanya ruang saling menghargai dan memperbaiki.
Semua pemikiran itu menemukan wujudnya dalam arah diplomasi yang ditempuh Prabowo. Ia membawa cara pandang yang tenang, rasional, dan konsisten. Diplomasi yang dijalankannya berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap kedaulatan setiap bangsa. Setiap langkahnya memperlihatkan tekad untuk menjaga agar dunia tetap memiliki ruang bagi dialog.
Pidato Prabowo di PBB memberi gema yang panjang. Dalam waktu singkat, dunia menaruh perhatian pada kehadiran Indonesia sebagai penjaga moral global. Prabowo tampil dengan gaya yang sederhana namun tegas, berorientasi pada penyelesaian dan keseimbangan. Dari podium itu, diplomasi Indonesia memperoleh bentuk baru: diplomasi yang berakar pada akal dan dipandu oleh hati nurani.
Diplomasi Perdamaian dan Kehadiran di Kairo
Setelah Sidang Umum PBB, Prabowo menerima undangan dari Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Perdamaian Gaza di Kairo pada 13 Oktober 2025.
Baca juga : Prabowo, Gajah Dan PSI Baru
Pertemuan yang dihadiri lebih dari 20 kepala negara itu menjadi lanjutan alami dari pandangan yang telah disampaikan di New York. Dalam forum tersebut, Prabowo akan menyampaikan pandangan yang berpusat pada rekonstruksi sosial dan kemanusiaan.
Indonesia mengajukan gagasan tentang langkah pemulihan yang komprehensif bagi Gaza, mencakup penghentian kekerasan, pembebasan tawanan, dan pemulihan kehidupan sipil. Gagasan itu diterima luas karena berpijak pada keseimbangan antara kemanusiaan dan tanggung jawab global. Diplomasi ini menjadi ruang harapan di dunia yang penuh ketegangan.
Prabowo menjalankan perannya. Ia membawa ketenangan dalam forum yang sarat dengan perbedaan pandangan. Setiap ucapannya menunjukkan pemahaman yang matang terhadap peran seorang pemimpin dunia. Diplomasi yang ia jalankan tidak terjebak dalam kepentingan jangka pendek, melainkan diarahkan pada pembentukan peradaban yang lebih damai.
Usia dan pengalaman yang panjang memberi kedalaman pada sikapnya. Ia telah melalui masa peperangan, masa politik, dan kini masa kepemimpinan nasional. Setiap tahap kehidupan menjadi bagian dari perjalanan menuju kedewasaan dalam memaknai kekuatan. Kekuatan baginya bukan sarana untuk menekan, melainkan kemampuan untuk menjaga agar kekerasan tidak tumbuh.
Prabowo memperlihatkan makna sejati dari istilah peacemaker. Seorang pembawa damai tidak menunggu keadaan tenang, tetapi menciptakan ketenangan di tengah kekacauan. Ia hadir sebagai penjaga harmoni yang mampu menyalurkan kekuatan untuk tujuan yang lebih besar. Dalam dirinya, konsep perdamaian tidak berhenti sebagai ide, tetapi berubah menjadi tindakan yang hidup.
Dari podium PBB hingga meja perundingan di Kairo, Indonesia berbicara dengan suara yang teguh dan menenangkan. Diplomasi yang dijalankan Indonesia memperlihatkan kesatuan antara kata dan perbuatan. Dunia menyaksikan bangsa yang tetap setia pada nilai-nilai universal: keadilan, kemanusiaan, dan nalar sehat.
Baca juga : Danantara Mengglobal, Prabowo Bawa Pulang 162 Triliun
Perdamaian tumbuh dari pikiran yang jernih dan hati yang lapang. Prabowo menampilkan keduanya dengan keseimbangan yang sempurna. Dalam dirinya, dunia melihat kekuatan yang meneduhkan dan kebijaksanaan yang mempersatukan.
Perjalanan ini menandai babak baru bagi diplomasi Indonesia. Dari ruang PBB yang sakral hingga forum internasional yang dinamis, Indonesia kembali membawa pesan luhur yang telah menjadi jati dirinya sejak awal kemerdekaan: dunia yang beradab adalah dunia yang damai.
Prabowo menjadi cerminan dari pesan itu. Ia memimpin dengan nalar, berbicara dengan ketenangan, dan bertindak dengan kebijaksanaan. Dalam wajahnya, dunia menemukan harapan bahwa kemanusiaan masih memiliki tempat di tengah hiruk pikuk kekuasaan.
Oleh: Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M. Si
- Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional
- Guru Besar BUFS Korea Selatan
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.