Dark/Light Mode

Myanmar Membara, Filipina Pernah Menyala: Diplomasi Selalu Menang

Jumat, 4 Juli 2025 13:51 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si

RM.id  Rakyat Merdeka - Tulisan ini lahir dari pengalaman saya langsung di medan-medan paling sunyi dalam diplomasi kita. Sebagai wakil rakyat di Komisi I DPR RI periode 2004-2009 yang membidangi masalah Pertahanan, Komunikasi, Informatika dan Intelijen. Perjalanan diplomatik telah mengajarkan banyak hal tentang kekuatan sejati sebuah bangsa.

Perjalanan saya dan tim ke jantung konflik bersenjata di Filipina Selatan masih terpatri jelas—berbicara dengan tokoh besar Moro, Nur Misuari, untuk menyelamatkan Anak Buah Kapal yang disandera dan bahkan telah dijatuhi vonis mati. Begitu pula pengalaman berdiri di tanah Lebanon, berbicara dengan presiden resmi dan pemimpin Hizbullah demi memastikan pasukan TNI aman dalam misi perdamaian.

Semua itu dilakukan bukan dengan senjata, tapi dengan diplomasi, keberanian, dan doa. Maka, keyakinan ini teguh: jalan damai bukan jalan lemah—ia justru jalan yang paling kuat ketika ditempuh dengan kesungguhan dan cinta pada Tanah Air. Tulisan ini hadir karena pengalaman itu nyata. Tulisan ini hadir karena diplomasi itu bekerja.

Ketika Hati Berkata Tidak pada Dentuman Senjata

Seorang WNI ditangkap di Myanmar. Bukan tokoh politik. Bukan tentara. Bukan aktivis. Dia hanya seorang selebgram muda, berusia 33 tahun yang gemar membagikan konten sosial. Tapi pada 20 Desember 2024, hidupnya berubah.

Dia dituduh melanggar Undang-Undang (UU) Anti-Terorisme, Keimigrasian 1947, dan UU Asosiasi Terlarang oleh junta militer Myanmar—dan divonis tujuh tahun penjara di Penjara Insein, Yangon.

Kegelisahan publik begitu terasa. Lalu, muncullah suara-suara lantang yang menyerukan agar Pemerintah Indonesia mempertimbangkan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) untuk menyelamatkannya.

Ada yang menyebut UU TNI Nomor 3 Tahun 2025 sebagai payung hukumnya. Tapi entah mengapa, hati nurani saya langsung bergejolak dan menolaknya—bukan karena kurangnya cinta pada bangsa ini. Justru karena saya mencintainya dengan cara yang telah terbukti pamungkas selama bertahun-tahun. 

Lewat Diplomasi, Bukan Agresi

Baca juga : Dunia Masih Belum Tenang

Medan seperti Myanmar bukan tempat bermain otot. Betul bahwa negara itu sedang dalam perang saudara, sejak kudeta militer pada 2021. Junta kini hanya menguasai sekitar 21 persen wilayah; sisanya dikuasai kelompok perlawanan etnis yang jumlahnya lebih dari dua ribu.

Di tengah kekacauan tersebut, yakin kita ingin masuk dengan bendera operasi militer? 

Hati-hati

Satu langkah salah, bisa menjadi percikan besar yang bukan hanya membahayakan satu nyawa WNI, tapi nama baik bangsa ini di mata dunia. Apalagi jika berurusan dengan harga diri bangsa, lewat garda terdepan pertahanan, yakni TNI.

Jejak Air Mata di Pulau Sulu: Ketika Hati Bicara Lebih Keras dari Senjata

Karena itulah, penting untuk mengingatkan. Kita pernah melewati jalan serupa dan kita berhasil. Tahun 2005, sebagai anggota Komisi I DPR RI yang menangani hubungan luar negeri dan pertahanan, krisis penyanderaan tiga Anak Buah Kapal Indonesia—Erikson, Ahmad, dan Yamin—oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan menjadi ujian nyata. Mereka ditawan dan dijatuhi vonis mati oleh majelis syariah kelompok bersenjata itu.

Perjalanan langsung ke Pulau Sulu menjadi keputusan yang harus diambil. Berbicara dengan Nur Misuari, pemimpin besar Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF). Dengan bahasa Arab dan Tagalog, permohonan disampaikan dengan linangan air mata. Kami dilindungi secara protokol keamanan, namun kami tidak datang dengan senjata, kami tidak menunjukkan kekuasaan.

Kami membawa satu hal: hati. Kami datang bukan sebagai tamu, tapi sebagai saudara sesama manusia. Apa hasilnya? Harga diri bangsa ini tetap teguh, dan yang tidak kalah penting, nyawa mereka terselamatkan.

Erikson Hutagaul dan Yamin Labuso dibebaskan 12 Juni 2005. Ahmad Resmiadi menyusul pada 16 September 2005. Tidak ada tebusan, tidak ada tembakan, tidak ada hukum rimba, ketika mata ganti mata, gigi ganti gigi. Hal terbaik sudah bekerja, namanya diplomasi, empati, dan niat baik yang tulus.

Baca juga : Inter Milan Vs Fluminense, Pertahanan Diuji Bakat

Indonesia, Filipina, dan Myanmar bukan negeri yang jauh berbeda. Ketiganya sama-sama negara ASEAN. Filipina dan Myanmar juga memiliki konflik internal panjang. Kedua negara ini dikuasai oleh kekuatan bersenjata non-negara di sebagian besar wilayahnya. Dan yang paling penting: sama-sama bukan medan yang cocok untuk manuver militer asing. Bukankah kita, bangsa Indonesia juga pernah (dan mungkin masih) mengalami situasi ini?

Pengalaman di Lebanon juga menjadi pengingat. Saat pasukan TNI tergabung dalam misi perdamaian PBB, dan muncul tanda-tanda pergerakan senjata di sekitar lokasi mereka, pembicaraan langsung dengan Presiden Lebanon dan dengan tokoh Hizbullah menjadi pilihan. Karena kami tahu, satu gesekan bisa memicu krisis. Apa hasilnya? Lagi-lagi, diplomasi kembali menyelamatkan.

Wajah Indonesia yang Sejati: Bangsa Besar yang Tahu Kapan Harus Bicara, Kapan Harus Mendengar

Inilah wajah Indonesia yang sejati. Wajah yang tenang tapi teguh. Wajah yang tidak terjebak dalam euforia kekuasaan, tapi tetap jernih dalam mengambil keputusan.

Betul sekali bahwa negara ini punya UU yang memungkinkan opsi militer non-perang. Tapi, Indonesia ini bangsa besar, bangsa yang terhormat. Bangsa yang tidak tergesa-gesa menggunakan senjatanya. Bangsa besar justru tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus mendengar.

Tidak ada penolakan terhadap semangat membela WNI. Justru ingin memperjuangkannya sepenuh hati. Tapi percayalah: cara menyelamatkan AP di Myanmar bukan dengan mengerahkan pasukan, tapi dengan mengerahkan diplomasi.

Kita harus tahu siapa yang kita hadapi. Kita harus duduk bersama, mencari tahu alasan di balik tuduhan itu, menyampaikan keprihatinan kita dengan bermartabat. Indonesia bukan bangsa yang datang menekan, tetapi bangsa yang datang menyapa, bertanya, layaknya seorang sahabat.

Bangsa ini harus belajar dari masa lalu. Belajar dari pengalaman yang telah menyelamatkan nyawa. Warisan diplomasi adalah harta kekayaan yang kita miliki terukir dalam banyak peristiwa penting.

Baca juga : Perkuat Ekonomi Nasional, Serap 2 Juta Tenaga Kerja

Kita sudah punya jalur resmi, KBRI di Yangon bekerja, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sudah memfasilitasi pengacara dan pengampunan. Jalur damai itu masih terbuka lebar. Maka tempuhlah. Jangan terburu-buru menutupnya hanya karena kita ingin terlihat kuat. Karena di dalam showing off power, di sana ada perasaan menutupi ketakutan.

Negara ini tidak lemah karena memilih diplomasi. Negara ini kuat justru karena mampu menahan diri saat dunia lain memilih menyerang. Itulah yang membedakan Indonesia—negara besar, berdaulat, tapi tahu bahwa kekuatan yang sejati datang dari hati yang bijak.

Teruntuk ananda AP, meski jarak dan tembok penjara memisahkan, yakinlah bahwa Indonesia tidak pernah meninggalkanmu. Kami tidak melihatmu dari tuduhan yang kau terima, tapi dari hakmu sebagai anak bangsa yang harus dilindungi.

Negara ini sedang berusaha dengan cara terbaik—bukan dengan kekerasan, tapi dengan kasih, nurani, dan kehormatan. Bertahanlah. Karena di balik diplomasi yang sunyi, ada jutaan doa yang bersuara dan ikhtiar untuk memperjuangkanmu.

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan kalimat dari Ronald Reagan mengenai diplomasi dan jalan damai:

Peace is not absence of conflict; it is the ability to handle conflict by peaceful means.

Prof. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si.
Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan, Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.