Sebelumnya
Maka kedaulatan energi, diversifikasi ekonomi, serta keberanian membangun kerja sama internasional yang setara bukan pilihan ideologis, melainkan kebutuhan historis. Venezuela mengingatkan bahwa jalan kemandirian memang sunyi, mahal, dan penuh risiko, tetapi kehilangan kedaulatan adalah harga yang jauh lebih berbahaya —bukan hanya bagi satu bangsa, melainkan bagi dunia yang gagal belajar dari tanda-tanda zaman sebelum terlambat.
Keputusan Venezuela untuk menjual minyak di luar denominasi dolar bukan sekadar kebijakan teknis ekonomi, melainkan tindakan politik-ekonomi yang menantang fondasi sistem petrodollar. Sistem ini, yang berakar sejak kesepakatan Amerika Serikat–Arab Saudi pada 1970-an, telah menjadikan dolar sebagai bahasa tunggal energi dunia. Selama minyak —urat nadi peradaban modern— diperdagangkan dalam dolar, dunia dipaksa menimbun dan bergantung pada mata uang yang dikendalikan oleh satu negara.
Di titik itulah dolar berhenti menjadi alat tukar netral; ia menjelma simbol kekuasaan global yang hidup dari kebutuhan paling mendasar umat manusia. Petrodollar bekerja tanpa suara. Ia tidak memerlukan deklarasi perang atau penjajahan terbuka. Ia menenun ketergantungan secara perlahan, melalui kebiasaan global yang diwariskan dan diterima sebagai keniscayaan. Negara-negara lain harus bekerja keras untuk memperoleh dolar, menjaga stabilitas cadangannya, dan tunduk pada fluktuasinya, sementara satu negara dapat menciptakannya melalui kehendak politik domestiknya sendiri.
Baca juga : Pancasila Sebagai Kompas Arah Bangsa: BPIP Menjadi Keniscayaan Zaman
Keunggulan ini tidak lahir semata dari kapal induk atau kecanggihan senjata, melainkan dari penerimaan global yang lama tak dipertanyakan. Justru karena tampak mapan, banyak yang lupa bahwa fondasi sistem ini rapuh —ia berdiri di atas satu syarat tunggal: minyak harus terus berbicara dalam bahasa dolar. Ketika bahasa itu mulai diterjemahkan ke dalam lidah lain, getaran geopolitik pun tak terelakkan.
Dalam konteks inilah Venezuela harus dibaca. Negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu berupaya keluar dari jerat lama, memperluas kerja sama energi dengan China, Rusia, dan sesama negara Global South, serta mendefinisikan ulang kedaulatan ekonominya. Respons yang diterima pun nyaris selalu sama: sanksi, isolasi, delegitimasi, dan pada akhirnya tekanan militer. Dalihnya berganti-ganti, tetapi polanya konsisten.
Sejarah memberi cermin yang jujur. Irak pernah mencoba mengganti dolar dengan euro dalam transaksi minyaknya, dan dunia menyaksikan bagaimana keputusan moneter dibalas dengan invasi. Muammar Gaddafi bermimpi tentang dinar emas Afrika, dan Libya dihancurkan sebelum mimpi itu beranjak dewasa. Venezuela kini berjalan di jalur serupa, seolah ada garis tak kasatmata yang tak boleh dilampaui, meski garis itu tidak pernah disepakati secara adil oleh komunitas internasional.
Baca juga : Pancasila Sebagai Kompas Penanganan Bencana Alam Untuk Indonesia Raya
Pola ini mengirim pesan yang mengkhawatirkan di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Dalam kondisi demikian, wacana Perang Dunia III tidak lagi terdengar hiperbolik, melainkan peringatan dini atas akumulasi ketegangan yang tak tersalurkan melalui dialog setara. Dari sinilah sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan menemukan relevansinya di level global: tata dunia yang sehat seharusnya dibangun melalui musyawarah antarbangsa, bukan paksaan sepihak.
Bagi Indonesia, serangan terhadap Venezuela bukanlah berita luar negeri yang jauh dan asing. Ia adalah gema sejarah yang berulang, pengingat bahwa kedaulatan politik dan ekonomi tidak pernah diberikan secara cuma-cuma. Sebagai bangsa yang lahir dari pergulatan melawan dominasi dan menjadikan Pancasila sebagai kompas nurani, Indonesia dituntut untuk membaca arah angin sejarah dengan kewaspadaan. (Bersambung)
Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati Geopolitik, dan Geostrategi, serta Manajemen Pemerintahan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.