BREAKING NEWS
 

Ketika Mesin Lebih Cepat dari Makna: Catatan dari Dialog Generasi Muda di Jepang

Sabtu, 24 Januari 2026 18:10 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial

RM.id  Rakyat Merdeka - Selama enam hari di Jepang, saya kembali diingatkan bahwa teknologi berkembang sangat cepat, tetapi manusia, terutama anak muda, semakin kelelahan secara batin. 

Kunjungan ini dilakukan bersama M. Zaky Ramadhan, praktisi transformasi organisasi, Wiratri Anindhita (Universitas Negeri Jakarta), dan La Mani (Bina Nusantara University), terkait dialog lintas disiplin dengan siswa, mahasiswa, dan komunitas Jepang tentang masa depan generasi muda di era Artificial Intelligence (AI).

AI bukan lagi sekadar alat bantu belajar, tetapi juga ruang hidup baru yang membentuk cara berpikir, merasa, dan memaknai diri.

Kunjungan ini bukan wisata akademik. Saya berada di Jepang untuk mengajar, melakukan riset, dan berdialog, lintas usia dan latar, tentang kesejahteraan generasi muda di era digital. Dari ruang kuliah hingga kelas sekolah menengah, dari forum mahasiswa hingga percakapan komunitas, kegelisahan yang muncul memiliki pola serupa yaitu tekanan digital, kesepian emosional, dan pencarian makna.

AI dan Generasi Alpha: Cerdas, Tetapi Rapuh?

Generasi yang lahir dan tumbuh bersama AI, sering disebut Generasi Alpha, memiliki kecakapan digital luar biasa. Mereka terbiasa dengan personalisasi, jawaban instan, dan efisiensi tinggi. Namun, kemudahan ini membawa risiko yaitu berkurangnya ruang refleksi, menipisnya ketahanan emosi, dan kecenderungan menggantungkan otoritas pada mesin.

Baca juga : Dari Florida ke Finlandia, Mereka Didik Anak-anak Jadi Penyelamat Jalan Raya. Kita Kapan?”

Di beberapa diskusi, mahasiswa menyampaikan paradoks yang jujur, AI membantu menyelesaikan tugas, tetapi tidak membantu menjawab pertanyaan eksistensial. AI bisa memberi respons cepat, tetapi tidak memberi makna hidup. Di sinilah kekosongan mulai terasa, bukan karena kurang informasi, melainkan karena kurang dialog.

Di salah satu forum, M. Zaky Ramadhan, menyampaikan pandangan yang menenangkan sekaligus tegas bahwa kehadiran teknologi adalah keniscayaan, bukan ancaman yang harus ditakuti.

Teknologi akan terus berkembang. Persoalannya bukan pada teknologinya, tetapi apakah manusia memiliki kesiapan nilai dan sistem untuk menggunakannya,” ujarnya. Ketakutan berlebihan hanya melahirkan penolakan atau penggunaan tanpa arah. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan nilai.

Daisaku Ikeda dan Value Creation di Era Digital

Adsense

Di titik ini, pemikiran Daisaku Ikeda terasa sangat relevan, karena tidak menolak teknologi, namun, menolak kehilangan kemanusiaan. Konsep value creation, kemampuan manusia untuk menemukan makna, memperkaya eksistensi, dan berkontribusi bagi orang lain dalam keadaan apa pun, menjadi penyangga penting ketika dunia digital mempercepat segalanya, kecuali kebijaksanaan.

Ikeda menegaskan bahwa dialog bukan teknik komunikasi, melainkan keputusan moral yaitu memilih untuk melihat manusia lain sebagai sesama, bukan objek. Di era AI yang memperluas suara tetapi sering mengecilkan hati, dialog menjadi tindakan perlawanan terhadap dehumanisasi.

Pelajaran Mengejutkan dari SMP–SMA Soka

Baca juga : Gen Z: Kuat Di Luar, Rapuh Di Dalam…

Di tengah kekhawatiran global tentang generasi muda yang dianggap semakin individualistis, pengalaman berdialog dengan siswa SMP dan SMA Soka justru menghadirkan kontras yang menyejukkan. Anak-anak ini menunjukkan ketenangan berpikir, empati, dan kepedulian pada orang lain serta dunia yang lebih luas. Mereka berbicara tentang perdamaian, tanggung jawab sosial, dan masa depan bersama, bukan sekadar prestasi pribadi.

Ini bukan kebetulan. Metode pembelajaran Soka secara sadar menerapkan nilai Ikeda dalam praktik harian yaitu dialog setara, keberanian berpikir mandiri, dan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia. Di kelas, siswa dilatih mendengar sebelum menjawab, memahami perbedaan sebelum berdebat, dan menimbang dampak tindakannya. Pendidikan tidak diarahkan untuk memenangkan kompetisi, tetapi menumbuhkan kebijaksanaan dan empati.

Pengalaman ini membantah asumsi bahwa generasi muda “rusak oleh teknologi.” Yang sering rusak adalah ekosistem pendidikannya. Ketika nilai diterjemahkan ke dalam praktik keseharian, anak muda justru mampu tumbuh damai di tengah dunia yang gaduh.

Refleksi untuk Indonesia

Indonesia menghadapi tantangan yang lebih kompleks dimana populasi muda besar, penetrasi digital cepat, dan dukungan pendampingan emosional yang belum merata. Jika AI hanya diposisikan sebagai alat efisiensi akademik, kita berisiko melahirkan generasi cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara batin.

Dialog lintas usia yang saya alami di Jepang memperlihatkan benang merah bahwa di semua kelompok umur, kegelisahan terhadap AI berakar pada kehilangan makna dan relasi. Namun, kondisi ini juga memperlihatkan harapan yaitu ketika sekolah, keluarga, dan komunitas hadir sebagai ruang dialog hidup, teknologi tidak lagi menjadi ancaman, tetapi menjadi alat yang bisa diarahkan untuk memperkuat kemanusiaan.

Rekomendasi Konkret untuk Indonesia

  1. Pendidikan berbasis dialog, bukan hanya kurikulum digital, tetapi praktik mendengar, bertanya, dan refleksi.
  2. Literasi AI yang humanis yang mengajarkan etika, empati, dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar keterampilan teknis.
  3. Ruang offline bermakna melalui seni, olahraga, pelayanan sosial, dan komunitas sebagai penyeimbang dunia layar.
  4. Pendampingan lintas peran dari mulai guru, orang tua, komunitas, dan negara hadir bersama secara konsisten.
  5. Spiritualitas inklusif sebagai jangkar makna, bukan dogma, melainkan sumber ketahanan.

Penutup

Baca juga : Dari Warna ke Perlawanan: Saat Ojol dan Diaspora Buka Bab Baru Demokrasi Kita

Pengalaman enam hari di Jepang menegaskan satu hal penting: masa depan tidak ditentukan oleh seberapa canggih AI yang kita gunakan, tetapi oleh seberapa manusiawi cara kita mendidik generasi yang menggunakannya. Seperti diajarkan Daisaku Ikeda, perdamaian dan ketahanan lahir dari dialog, keberanian mencipta makna, dan kesediaan untuk peduli. Di era AI, pelajaran ini bukan nostalgia, tetapi kebutuhan paling mendesak.

Dr. Devie Rahmawati, CICS
Vokasi UI & YPKBI

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense