Dark/Light Mode

Tumbuh Di Tengah Hiruk Pikuk Era Digital

Gen Z: Kuat Di Luar, Rapuh Di Dalam…

Jumat, 3 Oktober 2025 13:17 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial

RM.id  Rakyat Merdeka - Beberapa hari ini, Masjid Istiqlal menjadi saksi perhelatan penting: Pameran Dialog Peradaban Gus Dur & Daisaku Ikeda. Pameran ini menghadirkan narasi persahabatan dua tokoh dunia yang berbeda agama, bangsa, dan latar belakang, namun sama-sama menjadikan dialog sebagai jalan hidup. Gus Dur, Presiden ke-4 RI yang dikenal sebagai “Bapak Pluralisme”, dan Ikeda Sensei, filsuf serta pemimpin perdamaian Jepang, mengajarkan bahwa peradaban dibangun bukan oleh kekerasan, melainkan oleh keberanian untuk mendengar dan saling menghormati.

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital saat ini, pesan itu terasa makin relevan. Sebab, kita hidup di zaman ketika percakapan bergeser menjadi kebisingan, dan dialog yang mendalam tergantikan oleh debat amarah, dan komentar tajam minim logika, di layar gawai.

Ekonomi Amarah dan Viralitas Emosi

Penelitian Berger dan Milkman (2012) membuktikan bahwa konten yang membangkitkan emosi kuat, baik positif seperti kagum, maupun negatif seperti marah dan cemas, lebih mungkin viral. Sebaliknya, konten yang datar atau sedih justru jarang dibagikan.

Dengan kata lain, algoritma media sosial bekerja seperti pedagang yang lihai: ia tahu amarah dan kecemasan lebih “laris”. Akibatnya, publik kerap digiring bukan pada informasi sehat, tetapi pada konten yang paling menggugah emosi. Tidak heran, ujaran kebencian, hoaks, hingga polarisasi politik justru subur.

Fenomena ini tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga terjadi di seluruh dunia. Sebuah penelitian di Science Advances (2021) menunjukkan bahwa ekspresi kemarahan di media sosial lebih cepat viral dibandingkan konten positif atau netral. Algoritma secara sistematis mendorong “konten marah” karena menghasilkan lebih banyak interaksi. Maka lahirlah apa yang disebut sebagai “ekonomi amarah”.

Baca juga : Dari Warna ke Perlawanan: Saat Ojol dan Diaspora Buka Bab Baru Demokrasi Kita

Di Indonesia, kita merasakannya dalam bentuk polarisasi politik, penyebaran hoaks, dan perpecahan sosial. Media sosial yang semestinya menjadi ruang bertukar ide justru sering menjadi ladang ujaran kebencian.

Kondisi ini, menggerus keterampilan dasar generasi muda untuk berdialog. Riset Forbes (2024) mencatat, banyak pekerja muda dari Generasi Z menunjukkan penurunan kemampuan sosial dan verbal. Mereka lebih fasih menulis caption atau chat singkat daripada berbicara panjang dalam forum tatap muka.

Generasi Z Sering Kesepian

Generasi Z sering digambarkan sebagai digital natives, yaitu generasi yang lahir dan besar dengan internet. Mereka terampil menggunakan teknologi, cepat beradaptasi dengan platform baru, dan sangat kreatif dalam menciptakan konten visual. Namun riset terbaru dari Stanford (Zaki, 2025) menunjukkan paradoks: meskipun Gen Z sangat terhubung secara digital, mereka justru merasa lebih kesepian. Mereka ingin berhubungan lebih dalam, tetapi salah menilai bahwa orang lain tidak menginginkan hal yang sama. Akibatnya, mereka memilih diam.

Kajian Acta Periodica menegaskan bahwa pola komunikasi Gen Z makin singkat dan terfragmentasi. Emoji, GIF, dan video 15 detik menggantikan percakapan panjang. Hal ini mengikis keterampilan mendengar, merespons dengan empati, dan membangun narasi kolektif

Dari sisi psikologis, riset kesehatan publik (BMC, 2025) mencatat tingginya kecemasan, depresi, dan rasa fear of missing out di kalangan anak muda. Mereka tampak berani di layar, tetapi rapuh di batin. Dalam ilustrasi, mereka layaknya pohon rindang berdaun lebat, tetapi berakar dangkal: indah di mata, tetapi mudah tumbang diterpa badai.

Mengapa Dialog Penting?

Baca juga : Roblox: Dunia Permainan atau Perangkap Anak, yang Mengintai di Balik Layar?

Dialog bukan sekadar sopan santun. Kajian Clare Cannon (2023) menyebutnya sebagai “transformative practice”: proses yang mampu mengubah konflik menjadi ruang pertumbuhan. Dialog menuntut kita berhenti sejenak dari reaksi instan, mendengar dengan niat baik, dan mencari kebaikan bersama.

Bagi bangsa, dialog adalah vaksin polarisasi. Tanpa dialog, perbedaan politik atau agama mudah meletup menjadi konflik. Bagi dunia kerja, dialog adalah kompetensi strategis yang meningkatkan produktivitas, mengurangi turnover, dan menciptakan inovasi.

Sebagai langkah konkret untuk mengatasi problem terbatasnya kemampuan dialog para siswa dan mahasiswa, sekolah dan kampus wajib melatih keterampilan komunikasi empatik, conflict de-escalation, serta literasi emosi.

Selain itu, yang tak kalah penting adalah menggelar Forum Komunitas Lintas Iman. Ruang percakapan antar-agama, antar-budaya, dan antar-generasi untuk membiasakan masyarakat berbeda tanpa bermusuhan.

Selanjutnya, perlu mendesain Platform Pro Dialog. Langkah itu bisa dilakukan secara kolaborasi dengan platform media sosial untuk memberi ganjaran pada percakapan sehat, bukan hanya yang paling emosional.

Baca juga : Ketika Anak Jadi Pelaku Kekerasan di Rumah: Salah Asuh, Salah Tonton, Salah Sistem

Berikutnya, menyelenggarakan Youth Dialogue Fellows. Yakni, program beasiswa bagi pemuda untuk menjadi fasilitator dialog, dengan showcase di panggung nasional.

Langkah selanjutnya, menciptakan Panggung Global. Menyambungkan anak muda Indonesia dengan jejaring dunia (misalnya Soka Gakkai di 192 negara) agar mereka belajar bahwa dialog adalah bahasa universal.

Indonesia, dengan warisan musyawarah dan gotong royong, memiliki modal besar untuk memimpin kebangkitan seni dialog. Kita juga punya teladan: Gus Dur dan Ikeda. Jika kita berani menanamkan dialog ke dalam pendidikan, kebijakan, dan budaya digital, generasi kita tidak hanya selamat dari “ekonomi amarah”, tetapi juga mampu melahirkan ekonomi dialog, sebagai warisan peradaban yang abadi.

Mungkin inilah saatnya kita bertanya: apakah kita masih bisa duduk mendengar, bukan hanya berkomentar? Apakah kita berani kembali ke seni dialog, sebelum kita benar-benar kehilangan kemampuan bicara sebagai manusia?

DR. Devie Rahmawati
Assoc. Prof. Vokasi UI 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.