Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Nabi Muhammad SAW benar-benar sangat pantas dijadikan teladan dalam dunia kemanusiaan. Sikap beliau amat tegas terhadap penyimpangan moral.
Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa suatu saat ada seorang sahabat yang meninggal dunia ketika Perang Khaibar berkecamuk. Para sahabat menyampaikan hal tersebut kepada Nabi, barangkali beliau berkenan memimpin shalat jenazahnya. Namun Nabi justru bersabda kepada para sahabat: “Shalatkanlah kawanmu itu.”
Baca juga : Sikap Tegas Nabi Terhadap KKN
Para sahabat terkejut, sebab biasanya Rasulullah SAW selalu menjadi imam shalat jenazah para sahabatnya. Nabi kemudian melanjutkan: “Rekanmu itu telah berbuat korupsi dalam peperangan.”
Setelah ditelusuri, ternyata sahabat tersebut menyimpan manik-manik milik seorang Yahudi yang nilainya tidak lebih dari dua dirham, tetapi tidak disetorkan bersama harta ghanimah.
Baca juga : Korupsi Berjamaah Kaum Madyan
Dalam kesempatan lain, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah, diceritakan bahwa ketika menuruni sebuah lembah, seorang budak sedang berdiri melepaskan pelananya.
Tiba-tiba sebuah anak panah melesat tepat mengenainya hingga ia meninggal dunia. Abu Hurairah berkomentar, semoga orang ini masuk surga. Nabi menanggapi dengan bersabda: “Tidak mungkin! Demi Zat yang menguasai diri Muhammad, sesungguhnya ada sehelai baju yang dikorupsi orang ini saat Perang Khaibar dan tidak dimasukkannya sebagai bagian dari harta rampasan. Baju itu akan membakarnya nanti di neraka.” (HR Imam Bukhari)
Baca juga : Gratifikasi Spiritual Bisa Membahayakan
Kedua hadis di atas menunjukkan betapa tegas sikap Nabi terhadap KKN. Dalam kasus pertama, hanya karena manik-manik kecil seharga dua dirham—yang nilainya pada masa Nabi setara dengan sekitar 0,85 gram emas—beliau menolak menyalati jenazah sahabatnya.
Demikian pula pada kasus kedua, hanya karena selembar baju yang tidak disetorkan ke Baitul Mal, Nabi enggan menyalati yang bersangkutan. Hal ini menunjukkan bahwa sekecil apa pun nilai korupsi, tidak dapat ditoleransi oleh Nabi. Inilah yang menjadi dasar wacana yang pernah berkembang dalam Komisi Bahtsul Masail di lingkungan NU ketika menyelenggarakan Muktamarnya di Makassar beberapa waktu lalu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.