RM.id Rakyat Merdeka - Tahun 1955 Indonesia mengundang dunia ke Bandung. Para pemimpin Asia dan Afrika berkumpul membawa harapan yang sama. Setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri. Saat itu kolonialisme masih berdiri terang-terangan di banyak wilayah.
Kemerdekaan adalah cita-cita yang sedang diperjuangkan, darah yang masih hangat, dan mimpi yang belum sepenuhnya tercapai. 71 tahun telah berlalu. Banyak negara telah merdeka, memiliki pemerintahan sendiri, mengibarkan benderanya sendiri, dan duduk sejajar dalam berbagai organisasi internasional.
Namun sejarah selalu menemukan cara baru untuk mempertahankan pengaruhnya. Kekuasaan yang dahulu datang melalui kapal perang dan pendudukan wilayah kini bergerak melalui jalur yang jauh lebih halus dan jauh lebih sulit dikenali.
Ketergantungan ekonomi, penguasaan teknologi, dominasi informasi, kontrol terhadap rantai pasok global, hingga penggunaan sanksi sebagai instrumen politik telah menjadi bagian dari percakapan internasional yang semakin sering terdengar.
Banyak negara mulai bertanya apakah kemerdekaan politik telah benar-benar menghasilkan kemandirian yang utuh. Pertanyaan itu muncul dari pengalaman yang dirasakan sendiri oleh banyak bangsa berkembang.
Kolonialisme yang Berganti Wajah
Karena itulah isu neokolonialisme kembali mendapat perhatian besar. Ia lahir dari kegelisahan banyak negara yang merasa posisi mereka dalam tata dunia masih sering ditentukan oleh kepentingan pihak yang lebih kuat.
Baca juga : Darmizal: Jokowi Dorong Penguatan Asta Cita Pemerintahan Prabowo–Gibran
Dunia berkembang semakin menyadari bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada pengakuan kedaulatan. Kemerdekaan juga menyangkut kemampuan mengambil keputusan tanpa tekanan, mengelola sumber daya sendiri, serta menentukan arah pembangunan sesuai kepentingan rakyatnya.
Perdebatan inilah yang membawa banyak tokoh dan delegasi berkumpul di St. Petersburg. Kota yang menjadi salah satu simbol sejarah Rusia itu hari ini menjadi tempat lahirnya berbagai percakapan mengenai masa depan dunia yang lebih seimbang. Jika Bandung pernah menjadi panggung bagi bangsa-bangsa yang menolak kolonialisme klasik, St. Petersburg sedang menjadi tempat berbagai negara mendiskusikan tantangan baru yang muncul pada abad ke-21.
Ada pesan yang menarik dari perkembangan tersebut. Dunia sedang bergerak menuju tatanan yang semakin multipolar. Semakin banyak negara yang ingin suaranya didengar. Semakin banyak bangsa yang ingin ikut menentukan arah perjalanan global. Aspirasi tersebut tidak lahir untuk menciptakan permusuhan baru. Aspirasi itu tumbuh dari keinginan sederhana agar hubungan internasional dibangun di atas penghormatan dan kesetaraan.
Dari Bandung ke St. Petersburg
Rusia menjadi salah satu negara yang mendorong lahirnya perdebatan tersebut. Terlepas dari berbagai dinamika geopolitik yang menyertainya, muncul satu fakta yang sulit diabaikan. Semakin banyak negara berkembang yang menginginkan sistem internasional yang tidak bertumpu pada satu pusat kekuatan.
Mereka menginginkan dunia yang memberi kesempatan lebih luas bagi setiap bangsa untuk menyampaikan kepentingannya sendiri. Indonesia memiliki posisi yang sangat dekat dengan semangat itu.
Baca juga : BKSAP DPR Singgung Diplomasi Damai Pemerintahan Prabowo
Politik luar negeri bebas aktif yang diwariskan para pendiri bangsa mengajarkan pentingnya menjaga kemandirian di tengah persaingan kekuatan besar. Indonesia tidak pernah dibangun untuk menjadi pengikut siapa pun. Indonesia lahir dari perjuangan panjang untuk berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka dan bermartabat.
Sebagai partai koalisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Partai Golkar memiliki tanggung jawab untuk ikut mengawal pelaksanaan kebijakan strategis nasional, termasuk di bidang politik luar negeri dan hubungan internasional.
Komitmen tersebut sejalan dengan arah perjuangan Partai Golkar di bawah kepemimpinan Ketua Umum Partai Golkar H. Bahlil Lahadalia untuk terus memperkuat peran Indonesia dalam berbagai forum internasional.
Dalam kerangka ini, Partai Golkar kembali mengambil peran dalam mengawal diplomasi internasional Presiden Prabowo. Kepercayaan yang diberikan kepada Partai Golkar untuk hadir dalam pertemuan anggota tetap Gerakan Internasional untuk Pembebasan Bangsa-Bangsa di Saint Petersburg 24 s/d 26 Juni 2026 ini merupakan bagian dari upaya memperluas keterlibatan Indonesia dalam berbagai percakapan global yang menyangkut kedaulatan, kemerdekaan, dan masa depan tata dunia yang lebih seimbang.
Forum tersebut juga menjadi momentum penting karena Partai Golkar hadir sebagai representasi dari kawasan Asia Tenggara. Kehadiran ini menunjukkan bahwa suara kawasan yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari perjuangan anti-kolonialisme tetap memiliki relevansi dalam percakapan global saat ini.
Semangat yang dahulu lahir dari Bandung dan menyebar ke berbagai bangsa di Asia dan Afrika terus menemukan maknanya dalam berbagai forum internasional yang membahas masa depan hubungan antarbangsa.
Baca juga : Darmizal Dampingi 8 Ormas Temui Jokowi, Komit Kawal Pemerintahan Prabowo-Gibran
Bandung mengajarkan keberanian. St. Petersburg mengingatkan bahwa keberanian itu masih dibutuhkan hingga hari ini. Tantangan telah berganti wajah. Metodenya semakin rumit. Pengaruh bekerja melalui jalur yang sering kali tidak terlihat. Namun tujuan perjuangannya tetap sama, menjaga hak setiap bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri. Kemerdekaan ternyata bukan garis akhir.
Kemerdekaan adalah pekerjaan yang harus dijaga oleh setiap generasi. Apa yang diperjuangkan para pemimpin Asia-Afrika di Bandung lebih dari tujuh dekade lalu masih memiliki gema yang kuat hingga hari ini.
Dari Bandung Republik Indonesia hingga Saint Petersburg Republik Rusia, pesannya tetap sama, yakni martabat bangsa tidak untuk diperjualbelikan dan kedaulatan tidak untuk dipinjamkan kepada siapa pun.
Prof. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si
Anggota Tetap Gerakan Internasional untuk Pembebasan Bangsa-Bangsa.
Ketua DPP. Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.