BREAKING NEWS
 

Mengenal Islam Berkeindonesiaan (3)

Berbudaya Akomodatif

Selasa, 7 Juli 2026 06:06 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Islam sejak awal dirancang sebagai agama yang terbuka, mampu mengakomodasi kekuatan dan potensi lokal yang menjadi sasaran dakwahnya.

Sejak pertama kali diturunkan hingga menjadi Islam yang kaffah (totalitas), prosesnya memerlukan waktu tidak kurang dari 23 tahun, sebagaimana ditandai dengan turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur. Tentu Tuhan memiliki kekuatan kun fa yakun, tetapi terdapat hikmah mengapa ajaran Islam diturunkan secara gradual selama 23 tahun, bukan sekaligus dalam sekejap.

Salah satu hikmahnya ialah memperkenalkan bahwa keyakinan sebaiknya tidak dipaksakan, melainkan diterima dengan tulus, ikhlas, dan lapang dada. Dengan kata lain, pembumian ajaran Islam memerlukan waktu agar setiap orang memiliki kesempatan membangun kesadaran penuh dalam memilihnya. Al-Qur’an pun menegaskan, la ikraha fi al-din (tidak ada paksaan dalam agama).

Dalam pembumian dan adaptasi ajaran Islam dikenal tiga etika. Pertama, al-tadrij fi al-tasyri’, yaitu penerapan nilai dan norma secara bertahap. Ajaran pokok tidak langsung dipaksakan, melainkan diawali dengan masa pengenalan hingga mencapai bentuk idealnya.

Baca juga : Toleransi Dengan Nilai-nilai Lokal

Kedua, ’adam al-haraj, yaitu menghilangkan kesulitan dengan memanusiawikan sasaran dakwah melalui pemberian kemudahan dan penyesuaian (’azimah dan rukhshah).

Ketiga, taqlil al-taklif, yaitu menyedikitkan dan menyederhanakan beban sehingga suatu nilai tidak dipaksakan di luar kemampuan seseorang. Etika adaptif inilah yang menjadikan Islam mampu menembus batas-batas geografis dan lapisan-lapisan budaya. Dalam waktu yang relatif singkat, ajaran Islam berkembang menjadi agama yang dianut oleh hampir separuh penduduk dunia.

Adsense

Etika adaptif tersebut memungkinkan Islam hadir dan diterima secara mengesankan di tengah kuatnya tradisi lokal. Contoh yang tidak dapat dilupakan di Kepulauan Nusantara ialah Wali Songo. Sembilan penyebar agama Islam ini memegang teguh etika adaptif sehingga dakwah mereka berhasil dengan sangat baik.

Meskipun sebagian besar berasal dari keturunan Timur Tengah, mereka mampu menampilkan diri sebagai bagian dari masyarakat setempat: lebih Jawa daripada orang Jawa, lebih Melayu daripada orang Melayu, lebih Bugis daripada orang Bugis, dan seterusnya.

Baca juga : Apa Itu Islam Berkeindonesiaan?

Dakwah mereka diterima secara luas, mulai dari perkotaan hingga pelosok desa, dari pusat-pusat pemerintahan sampai ke pulau-pulau terpencil. (Sukaduka perjuangan Wali Songo telah dijelaskan dalam rangkaian artikel terdahulu di harian Rakyat Merdeka.)

Ajaran Islam dan kebudayaan lokal di Indonesia berpadu dalam prinsip, “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah.” Prinsip ini mengandung makna bahwa adat istiadat dan kearifan lokal dapat disintesiskan serta disinergikan dengan ajaran syariat Islam. Pada mulanya memang terjadi ketegangan konseptual antara keduanya.

Pada masa kolonial Belanda, misalnya, pernah berkembang teori Receptio in Complexu, yang pada pokoknya menyatakan bahwa ajaran syariat Islam dapat diterima sebagai norma dalam masyarakat sejauh diakui oleh adat.

Dalam perkembangannya, teori tersebut kemudian bergeser menjadi pandangan bahwa syariat Islam berlaku sebagai norma bagi mereka yang memeluk agama Islam. Namun, teori itu mendapat banyak penentangan, baik dari para tokoh masyarakat maupun dari kalangan ahli hukum kolonial sendiri, termasuk Van Vollenhoven, salah seorang perancang kebijakan hukum pemerintah Hindia Belanda di Nusantara.

Baca juga : Ketika Pertimbangan Agama Termarginalisasi

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Selasa, 7 Juli 2026 dengan judul "Mengenal Islam Berkeindonesiaan (3) Berbudaya Akomodatif"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense