Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Islam Nusantara sejak awal menjunjung tinggi toleransi. Nusantara itu sendiri hadir sebagai manifestasi toleransi. Karakter ajaran Islam pada hakikatnya juga mendoktrinkan sikap toleran.
Ketika Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah berseteru, masing-masing tidak ada yang bersedia mengalah. Ali telah dilantik sebagai khalifah keempat, tetapi kepemimpinannya tidak diakui oleh Mu’awiyah. Karena tidak ada pihak yang mau mengalah, terjadilah peperangan yang dikenal sebagai Perang Shiffin. Mu’awiyah didukung oleh ’Aisyah, istri Nabi Muhammad saw., sedangkan Ali tentu didukung oleh istrinya, Fatimah, putri Nabi. Perang pun tidak dapat dielakkan.
Di tengah perang saudara tersebut, Amr bin al-‘Ash, yang dikenal sebagai politikus ulung di pihak Mu’awiyah, menyerukan gencatan senjata dan perdamaian. Ia menggunakan simbol sekitar 500 mushaf Al-Qur’an yang diangkat di ujung tombak sambil mengajak seluruh pasukan kembali kepada penyelesaian berdasarkan Al-Qur’an. Ali dan Mu’awiyah menyetujui usulan tersebut.
Ali mengutus Abu Musa al-Asy’ari, seorang ulama yang sangat disegani, sedangkan Mu’awiyah diwakili oleh Amr bin al-‘Ash. Amr mengetahui kesalehan sekaligus keluguan Abu Musa. Ia mengusulkan bahwa demi kemuliaan Islam dan kemaslahatan umat, sebaiknya Ali dan Mu’awiyah sama-sama mengundurkan diri, lalu dipilih tokoh lain yang lebih netral.
Baca juga : Beranjak dari Proto-Indonesia
Dengan tulus, Abu Musa al-Asy’ari, sebagai wakil Ali bin Abi Thalib, menerima usulan tersebut. Ia bahkan diminta berbicara lebih dahulu di hadapan massa dan pasukan dari kedua belah pihak. Dalam pidatonya, ia menyatakan bahwa mulai saat itu tidak ada lagi khalifah dan umat akan mencari seorang khalifah yang dapat diterima oleh semua pihak.
Namun, ketika tiba giliran Amr bin al-‘Ash berbicara, ia justru membelokkan kesepakatan itu. Ia menyatakan bahwa karena kini tidak ada lagi khalifah, maka pihaknya menetapkan Mu’awiyah sebagai khalifah yang sah. Tentu saja pihak Ali menolak pernyataan tersebut. Peperangan pun kembali pecah dan terus berlanjut hingga akhirnya Ali terbunuh.
Perang Shiffin merupakan perang saudara terbesar dalam sejarah awal Islam. Peristiwa ini sering disebut sebagai fitnah kubra atau fitnah terbesar dalam sejarah umat Islam. Dari konflik inilah kemudian lahir berbagai aliran teologi, seperti Syiah, Murji’ah, Khawarij, serta berkembangnya identitas Ahlusunah.
Apa yang diperagakan Amr bin al-‘Ash itulah yang dapat disebut sebagai Islam politik. Ia mengecoh lawannya dengan menggunakan simbol Al-Qur’an dan bahasa agama. Ia membakar emosi umat melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis demi mencapai kemenangan politik. Ia memojokkan lawan dengan dalil-dalil agama, bahkan menggunakan ayat dan hadis untuk membangun citra dirinya sekaligus menghancurkan karakter lawan-lawan politiknya.
Baca juga : Sara’ Bersendi Kitabullah
Abu Musa al-Asy’ari dapat dipandang sebagai simbol politik Islam, sedangkan Amr bin al-‘Ash merupakan simbol Islam politik. Perbedaan keduanya terletak pada orientasi: politik Islam menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan berpolitik, sedangkan Islam politik menjadikan agama sebagai instrumen untuk mencapai tujuan politik.
Dalam lintasan sejarah dunia Islam, pergulatan antara politik Islam dan Islam politik terus berlangsung, tidak terkecuali di Indonesia. Sebagian kalangan lebih menekankan pentingnya politik Islam, sementara sebagian lainnya menganggap hal itu belum memadai dan harus diwujudkan melalui Islam politik.
Namun, dalam praktiknya, Islam Nusantara tidak pernah mempersoalkan bentuk negara sebagai tujuan utama perjuangan. Meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, mereka tidak pernah memutlakkan berdirinya negara Islam. Buktinya, dalam berbagai proses demokrasi, para pengusung negara Islam tidak pernah memperoleh kemenangan dalam pemilihan umum.
Umat Islam Indonesia pada umumnya lebih mengedepankan substansi daripada formalitas ajaran Islam. Di samping itu, harmoni, keserasian, kesetaraan, dan keadilan menjadi pertimbangan penting dalam kehidupan berbangsa. Biaya sosial (social cost) yang harus ditanggung akan sangat mahal apabila perjuangan hanya difokuskan pada aspek formal kelembagaan.
Baca juga : Adat Bersendi Syara’
Sebaliknya, merupakan karunia Tuhan yang besar apabila seluruh warga bangsa bersedia mengesampingkan atribut-atribut formal demi mengedepankan substansi nilai-nilai yang membawa kemaslahatan bersama.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Senin, 20 Juli 2026 dengan judul "Mengenal Islam Berkeindonesiaan (16) Menjunjung Tinggi Toleransi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.