Dark/Light Mode

Mengenal Islam Berkeindonesiaan (6)

Islam Yang Berkemelayuan

Jumat, 10 Juli 2026 06:42 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Entitas kemelayuan tidak dapat dipisahkan dari Islam Nusantara. Melayu merupakan konsep tentang suatu masyarakat yang mendiami wilayah tertentu dengan kondisi objektif kebudayaan yang khas. Melayu juga merupakan sebuah etnis yang memiliki bahasanya sendiri, yang dikenal sebagai bahasa Melayu (Malay language).

Konsep kemelayuan merupakan kristalisasi nilai-nilai objektif yang hidup di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian, Melayu memiliki entitas tersendiri dengan karakteristik yang membedakannya dari kawasan-kawasan lain.

Islam telah berhasil mengislamkan sebagian besar masyarakat Melayu. Namun, tidak dapat disangkal bahwa Islam yang berkembang di negeri-negeri serumpun Melayu juga mengalami proses kemelayuan.

Dengan kata lain, sebelum mengislamkan negeri-negeri Melayu, terlebih dahulu terjadi proses pemelayuan Islam. Proses tarik-menarik antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai kemelayuan telah berlangsung selama berabad-abad.

Baca juga : Paralel Dengan Nasionalisme Indonesia

Proses pengislaman masyarakat Melayu tidak banyak mengalami hambatan karena keduanya memiliki sejumlah kesamaan nilai yang mendasar. Persamaan tersebut antara lain menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, keadilan, persamaan hak, moralitas, etika sosial yang santun, kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, toleransi, serta tenggang rasa.

Dalam sejarah kerajaan-kerajaan di kawasan ini, hampir tidak tercatat peperangan besar antara komunitas Islam dan komunitas yang mempertahankan adat-istiadat lokal.

Adaptasi dan integrasi nilai-nilai Islam dan kemelayuan berlangsung secara saling mengisi di sepanjang gugusan Kepulauan Nusantara, dengan beberapa pengecualian di daerah tertentu. Watak dasar budaya masyarakat Melayu menjunjung tinggi asas kebersamaan dan kemanusiaan. Karakter ini diperkuat oleh kondisi geografis kawasan yang didominasi oleh kepulauan.

Masyarakat kepulauan pada umumnya memiliki budaya khas yang dikenal sebagai maritime culture (yang akan dibahas tersendiri dalam artikel mendatang), yaitu budaya yang egaliter dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.

Baca juga : Berbudaya Akomodatif

Di sepanjang pesisir, orang-orang bebas berlabuh dan mendarat sehingga perjumpaan dengan berbagai budaya asing lebih sering dialami oleh masyarakat maritim dibandingkan masyarakat kontinental.

Sebaliknya, masyarakat kontinental umumnya memiliki stratifikasi sosial yang lebih kompleks. Struktur sosial mereka cenderung lebih berlapis karena terbentuk dalam kehidupan daratan atau pedalaman yang relatif lebih terlindung dari interaksi intensif dengan pendatang asing. Budaya Melayu kemudian ikut membentuk karakter dan penampilan kepribadian masyarakat Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Bahasa Melayu menjadi salah satu faktor terpenting dalam mempersatukan masyarakat di kawasan negeri-negeri serantau. Meskipun terdapat perbedaan dialek, struktur dan kosakata dasarnya pada umumnya sama. Mereka yang menguasai bahasa Melayu dapat berkomunikasi dengan relatif mudah antarsesama masyarakat di kawasan ini.

Bahasa Melayu kemudian semakin diperkaya oleh kosakata Arab sebagai wujud besarnya pengaruh Islam. Sebaliknya, budaya kemelayuan juga memberikan warna tersendiri bagi perkembangan peradaban Islam di Asia Tenggara. Islam di kawasan ini memiliki cita rasa budaya, peradaban, dan seni yang khas, yang tidak kalah dibandingkan dengan tradisi Islam di Timur Tengah.

Baca juga : Toleransi Dengan Nilai-nilai Lokal

Kita dapat menjadi muslim yang baik tanpa harus menjadi orang Arab. Dipilihnya bahasa Melayu sebagai lingua franca Nusantara, yang kemudian berkembang menjadi bahasa nasional Indonesia dengan nama Bahasa Indonesia, juga didukung oleh kenyataan bahwa bahasa Melayu lebih sesuai dengan rasa keadilan masyarakat di kawasan serantau yang pada dasarnya bercorak egaliter. 

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Kamis, 10 Juli 2026 dengan judul "Mengenal Islam Berkeindonesiaan (6) Islam Yang Berkemelayuan"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.