Dark/Light Mode

Mengenal Islam Berkeindonesiaan (10)

Lintas Aliran

Selasa, 14 Juli 2026 06:01 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebelum Islam datang, agama mayoritas yang dianut di wilayah Nusantara adalah Hindu dan aliran kepercayaan lokal. Ptolemaus, sang penemu banyak negeri, menggambarkan adanya kepulauan yang disebut Khersonesos (Yunani: Pulau Emas). Sementara itu, sejarah Tiongkok menyebutnya Ye-po-ti, yang di antaranya diperkenalkan sebagai Jabadiou/Jawa.

Pada zaman ini, wilayah Jawadwipa, Swarnadwipa, Bugis, dan lain-lain sudah dikenal. Masyarakat yang menghuni kepulauan ini telah mengenal sistem religi.

Mereka mempercayai kekuatan gaib serta menerapkan sistem penyembahan terhadap kekuatan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa kemudahan masyarakat Indonesia dalam memeluk agama baru terjadi karena mereka telah memiliki pengalaman batin. Terlebih lagi, agama-agama yang datang ke negeri ini memiliki unsur persamaan satu sama lain.

Analisis sistem budaya juga menggambarkan masa ini sebagai periode akulturasi yang amat penting. Budaya dan sistem religi luar beradaptasi dalam konteks budaya kepulauan Nusantara.

Baca juga : Bercorak Inklusif

Di dalamnya terdapat pengaruh Hindu, Arab (Islam), Tiongkok, Portugis, dan Inggris. Sistem budaya, religi, ekonomi, dan teknologi sudah banyak ditemukan di pusat-pusat kerajaan Nusantara sejak dahulu kala.

Dengan demikian, wilayah Nusantara sudah terbiasa dengan pluralitas agama dan kepercayaan. Meskipun sistem religinya berbeda, masyarakat tetap bersatu karena diikat oleh nilai-nilai lokal spesifik sebagai warga kepulauan.

Aliran keagamaan dan pemikiran yang pernah berkembang di bumi Nusantara tampaknya bergerak secara berjenjang dan sistematis, terutama aliran pemikiran keislaman.

Aliran Asy'ariyah menjadi yang pertama eksis di Nusantara. Aliran ini merupakan kelanjutan ajaran yang lebih fatalistik (Jabariyah), yang memiliki banyak persamaan dengan agama Hindu dan aliran kepercayaan lokal yang sudah ada.

Baca juga : Senapas dengan Warisan Spiritual Bangsa

Belakangan, anak-anak bangsa yang kembali dari Timur Tengah dan dunia Barat membawa alam pikiran baru yang lebih rasional (moderat). Mereka terutama berasal dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Pengaruh ini diperkuat oleh generasi Islam yang belajar di Eropa dan Amerika Serikat, tempat mereka berinteraksi dengan pelajar dari berbagai negara Muslim, termasuk Turki yang dikenal sebagai negara sekuler.

Perkembangan lebih lanjut terjadi setelah IAIN, STAIN, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) merebak di berbagai provinsi dan kabupaten dengan menerapkan kurikulum nasional. Aliran teologi di Indonesia berkembang pesat, terutama setelah kiprah Prof Dr Harun Nasution, Prof Dr HM Rasjidi, dan beberapa tokoh pembaru yang datang kemudian.

Tokoh-tokoh tersebut antara lain Prof Dr Nurcholish Madjid, Prof Dr Quraish Shihab, Prof Dr Mukti Ali, Prof KH Ali Yafi, dan Gus Dur. Mereka mengembangkan aliran pemikiran Islam yang tidak monoton, melainkan betul-betul membumi di masyarakat Nusantara.

Akhirnya, teologi Maturidiyah Bukhara yang setingkat lebih moderat dari Asy'ariyah berkembang dengan pesat. Perkembangan ini berlanjut ke Maturidiyah Samarkand yang dua tingkat lebih moderat dari Asy'ariyah dan hanya setingkat di bawah Mu'tazilah.

Baca juga : Islam Yang Berkultur Maritim

Setelah Program Pascasarjana PTKIN/PTKIS dikembangkan dan dimotori oleh dua tokoh yang disertasinya membahas Muhammad Abduh—yaitu Prof Harun Nasution dari segi pemikiran dan Prof Quraish Shihab dari segi tafsir—maka teologi dan pemikiran Abduh yang dua tingkat lebih moderat daripada Mu'tazilah pun merebak di Nusantara.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Selasa, 14 Juli 2026 dengan judul "Mengenal Islam Berkeindonesiaan (10) Lintas Aliran"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.