RM.id Rakyat Merdeka - Meskipun batuk bukan hal yang perlu dikhawatirkan, namun tidak pula bisa disepelekan. Apalagi jika berlangsung lebih dari dua minggu atau terdapat gejala tambahan seperti kesulitan bernapas.
Batuk adalah refleks alami yang berfungsi membersihkan tenggorokan dari lendir atau iritan asing.
Batuk adalah gejala medis paling umum. Terkadang batuk berfungsi untuk membersihkan tenggorokan dari lendir, serta ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan batuk lebih sering terjadi.
Tak jarang refleks batuk terjadi karena hal sepele, dari mulai tenggorokan gatal, makanan yang menyangkut di kerongkongan, sampai ketika kita minum atau berbicara terlalu cepat.
Namun, selain tercetus dari kejadian yang tampak sepele, batuk juga bisa jadi gejala penyakit yang lebih serius.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS EMC Cikarang, dr. Patriotika Ismail, Sp.PD menjelaskan batuk yang berlangsung lama, biasanya merupakan gejala dari masalah kesehatan tertentu atau dapat pula disebabkan faktor lingkungan sekitar.
Baca juga : Biden Resmi Mundur Dan Dukung Harris Sebagai Pengganti, Ini Isi Lengkap Suratnya
“Paparan polusi, asap rokok, udara dingin, bisa menyebabkan rasa gatal di tenggorokan. Batuk dapat berasal infeksi virus pada saluran pernapasan atau batuk pilek. Pemicunya bisa berasal dari aktivitas di tempat umum, karena daya tahan tubuh,” jelas dokter Rio, sapaan Patriotika Ismail dalam keterangannya, Rabu (24/7/2024).
Rio menambahkan, untuk usaha pencegahan, tentu penting bagi masyarakat menjaga agar daya tahan tubuh tetap kuat dan menghindari lingkungan yang bisa memicu batuk.
Tetapi di keseharian, nyatanya belum tentu kita selalu berada dalam situasi ideal. Keluhan batuk menjadi alasan 30 juta kunjungan ke klinik setiap tahunnya, dan dari semua kunjungan itu 40 persen dari pasien dilanjutkan pemeriksaan ke dokter spesialis.
Sementara kasus batuk akut perlu dilakukan perawatan untuk meredakan gejalanya, untuk sebagian besar jenis batuk, over-the-counter (OTC) yang dijual bebas jika dikonsumsi sesuai dosis bisa membantu memberi pertolongan pertama untuk meredakan gejala batuk yang mengganggu aktivitas dan komunikasi.
Terutama untuk batuk yang terjadi di momen-momen penting, seperti ketika kita harus berkomunikasi verbal, dan sulit dikendalikan.
Lebih lanjut Rio mengatakan, bahwa pilihan pertama untuk meredakan batuk yaitu dengan mengkonsumsi obat batuk OTC.
Baca juga : SIM Keliling Tangerang Kota Senin 22 Juli, Cek Di Sini Lokasinya
Ketika mengalami batuk yang berkepanjangan tanpa gejala lain, Rio menyarankan segera periksakan apakah batuk termasuk batuk psikis atau bukan.
"Bisa juga dengan relaksasi dan meditasi supaya mengurangi rasa stres atau cemas yang dapat menimbulkan batuk," ujar Rio.
Ia menambahkan, bisa juga dengan mengkonsumsi makanan yang membuat lebih rileks yang bisa menghangatkan dan melegakan tenggorokan, seperti jahe, peppermint, atau jeruk nipis.
"Agar dosisnya tepat, masyarakat bisa meminum obat batuk OTC dengan kemasan satu dosis, selain lebih aman, juga praktis dan mudah dibawa jika perlu,” jelas Rio.
Secara umum, obat batuk OTC mengandung bahan-bahan yang berfungsi mengencerkan dahak, mengurangi batuk, dan mengurangi alergi atau flu penyebab batuk, seperti guaifenesin, dextromethorphan, dan chlorpheniramine.
Selain itu, obat batuk OTC sekarang juga sudah banyak diformulasikan dengan bahan-bahan yang punya efek meredakan batuk dan menghangatkan tenggorokan seperti jahe, serta kandungan yang melegakan tenggorokan seperti jeruk nipis dan peppermint.
Baca juga : SIM Keliling Tangsel Senin 22 Juli, Cek Disini Lokasinya
Mengonsumsi obat batuk OTC menjadi pilihan bijak karena dapat menjadi pertolongan pertama dan paling cepat dalam mengatasi batuk secara lebih mudah dan praktis.
Obat batuk OTC juga bisa didapatkan tanpa resep dokter dan mudah ditemukan di gerai minimarket sampai warung-warung.
Upaya penanganan batuk yang praktis ini bisa mendukung aktivitas tetap lancar, tetap produktif, dan dan gaya hidup aktif tetap bisa dijalankan.
Sementara itu, dokter medis PT Bintang Toedjoe, dr. Elizabeth Angelina menjelaskan swamedikasi memang bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat batuk OTC, namun tetap harus memperhatikan dosis anjuran.
Elizabeth menambahkan, formulasi kandungan obat batuk OTC memang dibuat untuk meredakan batuk berdahak maupun kering, dengan mengencerkan cairan dalam batuk berdahak, melawan virus, serta menahan reflek ketika batuk.
"Konsumsi obat yang direkomendasi yakni 3 kali sehari, 1 sampai 2 sachet untuk dosis orang dewasa,” ujar Elizabeth.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.