RM.id Rakyat Merdeka - Awal Maret tahun ini menghadirkan pemandangan yang begitu istimewa bagi masyarakat Indonesia.
Di satu sisi, umat Muslim menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan dengan penuh kekhusyukan. Di sisi lain, masyarakat keturunan Tionghoa di berbagai daerah pada 3 Maret lalu merayakan Cap Go Meh, penutup rangkaian Tahun Baru Imlek.
Dua perayaan berbeda hadir dalam waktu yang sama, berjalan berdampingan dengan damai.
Di Singkawang, momen ini terasa semakin bermakna. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat perayaan Cap Go Meh terbesar di Indonesia itu kembali dipadati ribuan warga dan wisatawan.
Suasana meriah terasa di setiap sudut kota. Barongsai meliuk di jalanan, tatung menjalani ritual penuh makna, arak-arakan budaya memikat perhatian, sementara ragam kuliner khas menggoda selera.
Tahun ini, kemeriahan tersebut semakin lengkap dengan kehadiran Extrajoss yang kembali bersama Bobon Santoso untuk ketiga kalinya merayakan Festival Cap Go Meh.
Memasuki tahun ketiga dukungannya terhadap perayaan ini, Extrajoss terus menunjukkan komitmennya dalam mendampingi Cap Go Meh Singkawang, sekaligus memperkuat posisinya sebagai minuman berenergi yang telah menjadi pilihan dan kesayangan masyarakat Singkawang.
Baca juga : Dirut Pertamina Pastikan Pasokan Energi Aman Saat Mudik Lebaran
Bagi masyarakat Tionghoa, Cap Go Meh bukan sekadar seremoni penutup perayaan. Ia melambangkan penyempurnaan, kebersamaan, serta harapan akan keberuntungan yang terus berlanjut.
Namun di Singkawang, maknanya terasa lebih luas. Perayaan ini seakan menjadi cermin kehidupan warganya sehari-hari: masyarakat yang beragam, tetapi tetap hidup rukun dan saling menghormati.
Head of Marketing PT Bintang Toedjoe, Arwin Nugraha Hutasoit mengungkapkan kesannya saat hadir di tengah perayaan.
“Singkawang menunjukkan bagaimana keberagaman bisa dirawat dengan baik. Di sini masyarakatnya tetap rukun, tetap menjaga budaya, dan saling menghormati. Ini energi positif yang nyata,” ujar Arwin dalam keterangannya, Kamis (5/3/3026).
Arwin menambahkan, Singkawang memang kerap disebut sebagai simbol harmoni. Masyarakat Tionghoa, Melayu, Dayak, dan berbagai etnis lainnya hidup berdampingan, saling menjaga tradisi masing-masing tanpa saling mengusik.
Cap Go Meh di kota ini bukan hanya agenda wisata budaya tahunan, tetapi wujud nyata nilai kebersamaan yang sudah mengakar kuat dalam keseharian warganya.
Hal tersebut juga tercermin dalam Indeks Kota Toleran versi SETARA Institute 2024, yang menempatkan Singkawang di peringkat kedua kota paling toleran di Indonesia, tepat di bawah Salatiga, dari 94 kota yang dinilai secara nasional.
Baca juga : LRT Jabodebek Hadirkan Layar Interaktif di 7 Stasiun
Capaian itu bukan sekadar angka. Ia menggambarkan ruang toleransi yang benar-benar dirawat dan dijaga bersama.
Singkawang menghadirkan wajah Indonesia yang hangat dan menenangkan. Tradisi tetap hidup dan berkembang.
Keberagaman tidak hanya diterima, tetapi dirayakan. Perbedaan tidak menjadi jarak, melainkan warna yang memperkaya.
Kehadiran Bobon Santoso menambah nuansa tersendiri dalam perayaan tahun ini.
Dikenal sebagai Chef Rakyat Indonesia, Bobon selama ini konsisten mengangkat kuliner dari berbagai daerah sebagai cara sederhana namun kuat untuk merayakan keberagaman.
Baginya, makanan selalu memiliki cara yang jujur untuk menyatukan orang-orang. Dalam momen Cap Go Meh di Singkawang, Bobon tidak hanya hadir sebagai figur publik, tetapi juga berbaur dan berbagi energi bersama komunitas tatung dengan membagikan Extrajoss di sela-sela rangkaian acara.
“Menurut saya, Cap Go Meh itu bukan cuma perayaan budaya, tapi juga perayaan rasa. Lontong Cap Go Meh misalnya, itu simbol akulturasi. Ada perpaduan budaya Tionghoa dan Nusantara di satu piring. Itu yang bikin Indonesia istimewa,” ujar Bobon.
Baca juga : Teja Paku Alam Siap Hadapi Ratchaburi, Persib Bidik Hasil Positif di ACL Two
Cap Go Meh di Bulan Ramadan, Harmoni yang Tak Sekadar Seremonial Tahun ini, Cap Go Meh yang bertepatan dengan Ramadan justru memperlihatkan kekuatan toleransi yang nyata dan terasa dekat. Tidak ada yang saling mendominasi.
Tidak ada yang merasa terganggu. Semua berjalan pada porsinya masing-masing, dengan saling menghormati.
“Merayakan Cap Go Meh di tengah Ramadan menurut saya indah sekali. Yang menjalankan ibadah tetap khusyuk, yang merayakan tetap penuh sukacita. Semua berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu. Ini contoh nyata bagaimana keberagaman bisa jadi kekuatan,” tutur Bobon.
Bagi Extrajoss, partisipasi dalam perayaan ini membawa makna lebih dari sekadar kehadiran di sebuah acara budaya. Sebagai brand yang identik dengan energi dan semangat pantang menyerah, Extrajoss ingin kehadirannya menjadi simbol dukungan terhadap semangat kebersamaan yang tumbuh di Singkawang.
Selain itu 20.000 penonton dan komunitas tatung sebagai simbol semangat diberikan Extrajoss gratis.
“Melalui momentum ini, Extrajoss berharap semangat toleransi dan kebersamaan dari Singkawang dapat menginspirasi masyarakat di berbagai daerah," pungkas Arwin.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.