RM.id Rakyat Merdeka - Melukis di ruang terbuka bukan sekadar menghadirkan pemandangan ke atas kanvas. Bagi seniman asal Jerman, Christopher Lehmpfuhl, alam, cuaca, cahaya, hingga tekstur menjadi bagian dari pengalaman emosional yang dituangkan langsung menggunakan tangan.
Pengalaman tersebut dibagikan Lehmpfuhl dalam Artist Talk perdana yang digelar SBY Art Community (SAC) dalam rangka pameran kedua bertajuk "Art for Peace and a Better Future: Collaboration". Kegiatan berlangsung di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 19 Agustus 2026.
Artist Talk tersebut mengulas teknik en plein air, yakni melukis secara langsung di ruang terbuka. Lehmpfuhl hadir sebagai kolaborator dengan gaya khasnya yang mengaplikasikan cat menggunakan tangan, terutama jari-jari, alih-alih kuas.
Lehmpfuhl, seniman dari Kornfeld Galerie, Berlin, mengatakan melukis di luar ruang memberikan pengalaman emosional yang lebih mendalam dibandingkan melukis di dalam studio.
"Melukis di luar ruang atau en plein air (dari bahasa Perancis yang berarti di udara terbuka) dicap sebagai salah satu gaya old fashion. Gaya ini dikenalkan pertama kali oleh pelukis Perancis Claude Monet dan pelukis Jerman Max Liebermann," ujarnya.
Menurut dia, melukis di ruang terbuka memiliki banyak tantangan sekaligus keuntungan.
Seniman tidak hanya berhadapan dengan kondisi cuaca, tetapi juga hujan, salju, cahaya, hingga perubahan warna yang turut memengaruhi proses penciptaan karya.
Baca juga : SBY Art Community Gelar Pameran Lukisan, Suarakan Perdamaian
"Kita tidak hanya menghadapi cuaca, kondisi lainnya seperti hujan, salju, cahaya bahkan warna yang mampu memberikan pengalaman emosi yang dalam. Ini memberikan pengalaman yang berbeda dari melukis di studio," katanya.
Lehmpfuhl menemukan teknik melukis menggunakan jari ketika mulai mendalami en plein air. Ia dikenal melalui karya-karya en plein air dengan lapisan cat tebal atau impasto, yang menjadi salah satu ciri dalam praktik artistiknya.
Dalam proses berkarya, ia kerap mengaplikasikan cat secara langsung menggunakan jari-jari. Sentuhan tangan menggantikan fungsi kuas sehingga setiap tekanan, gerakan, dan tekstur menjadi bagian dari proses penciptaan.
Teknik tersebut bukan sekadar pilihan visual, tetapi juga menjadi cara Lehmpfuhl membangun hubungan yang lebih dekat antara tubuh, material, dan lanskap yang sedang dihadapinya.
"Melukis dengan tangan bagi saya seperti memahat yang melibatkan jari-jari untuk mendapat emosi penuh saat menggores. Ini memberikan pengalaman yang luar biasa bagi saya dibanding dengan melukis dengan kuas," tuturnya.
Selama lebih dari 20 tahun, Lehmpfuhl konsisten menggunakan teknik tersebut. Dalam Artist Talk seri pertama SAC, ia membagikan pengalaman dan proses kreatifnya kepada para peserta.
Dalam kesempatan yang sama, seniman muda Naufal Abshar yang turut berpartisipasi dalam pameran kedua SAC tahun 2026 melihat en plein air sebagai sebuah "new school".
Baca juga : Pameran Lukisan Sumatera Menangis Denny JA
Selama ini, Naufal lebih banyak berkarya di studio yang menurutnya lebih tertata dibandingkan ketika melukis langsung di alam terbuka.
"En plein air memiliki banyak layer dan tantangan yang dapat memengaruhi karya, mulai dari cuaca sampai kondisi landscape yang dapat mempengaruhi karya. Hasilnya tentu saja memberikan rasa yang beda. Ini buat saya sebagai sebuah 'new school', terutama bagi seniman seperti saya yang banyak bekerja di studio," ungkapnya.
Artist Talk tersebut juga dihadiri pelaku seni sekaligus pengajar di ISI Yogyakarta, I Gede Arya Sucitra.
Ia menyoroti konsep en plein air dalam proses persiapan dan produksi Art for Peace and a Better Future: Collaboration sebagai bentuk konektivitas dan pengalaman budaya bersama.
Menurutnya, pengalaman tersebut tercermin ketika 21 seniman yang tergabung dalam SBY Art Community membuat karya en plein air bersama Christopher Lehmpfuhl.
Pamerkan 150 Lukisan
Pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration didukung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta sejumlah mitra seni dan budaya.
Dukungan tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk menjadikan Jakarta sebagai salah satu pusat seni rupa internasional.
Baca juga : Ikut Pameran Lukisan, Empat Pelukis Indonesia Unjuk Gigi Di Beijing
Pameran terbuka untuk umum pada 18–30 Agustus 2026 di Galeri Emiria Soenassa dan Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Sebanyak 150 lukisan dari 27 seniman lintas usia dan budaya ditampilkan dalam pameran tersebut. Lehmpfuhl sendiri memamerkan 29 karya dari keseluruhan karya yang ditampilkan.
Pameran ini tidak hanya bertujuan menyuarakan perdamaian dan cita-cita tentang dunia yang lebih baik melalui seni, khususnya seni lukis, tetapi juga menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia dan HUT ke-499 DKI Jakarta.
Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan posisi Jakarta sebagai kota global yang memiliki hubungan sebagai sister city dengan Berlin.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.