BREAKING NEWS
 

Dari Kanvas ke Fesyen, 14 Perupa Hadir di The Untitled

Reporter & Editor :
SAIFUL BAHRI
Kamis, 1 Oktober 2026 21:55 WIB
Pameran bertajuk The Unspoken Narratives Waiting to be Told ini digelar 2-17 Oktober 2026 di 2Madison Gallery Kemang dan 2Madison Plaza Pondok Indah, Jakarta. (Foto : Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Seni rupa tidak lagi berhenti di ruang galeri. Melalui pameran The Untitled, karya 14 perupa dari berbagai daerah di Indonesia diterjemahkan ke dalam beragam medium, termasuk fesyen, sehingga dapat hadir lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pameran bertajuk The Unspoken Narratives Waiting to be Told ini digelar 2-17 Oktober 2026 di 2Madison Gallery Kemang dan 2Madison Plaza Pondok Indah, Jakarta.

Pameran tersebut mempertemukan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bogor, Magetan, Klaten, Gresik, Padang hingga Tangerang Selatan. Masing-masing membawa narasi personal yang dituangkan melalui karakter visual dan teknik berbeda.

Salah satu seniman yang terlibat adalah Agus Wicaksono. Ia menghadirkan 25 lukisan yang dibuat pada 2022 dengan figur hewan sebagai salah satu objek utama. Agus menggunakan teknik kontur dengan sapuan kuas. Teknik tersebut dipilih setelah dirinya meninggalkan penggunaan pisau palet yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari proses berkaryanya.

Kedekatan Agus dengan dunia hewan juga tidak terlepas dari pengalaman masa kecil. Sang kakek yang bekerja di Kebun Binatang Surabaya membuat Agus tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan berbagai satwa.

Baca juga : Dubes Belanda Marc Gerritsen Kagumi 24 Karya Pemenang Kontes World Press Photo 2026

"Ini sebenarnya peristiwa masa kecil saya. Masa kecil saya itu dekat dengan hewan-hewan ini," ungkap Agus saat ditemui di sela pameran, Kamis (1/10/2026).

Salah satu karyanya, Song of Freedom, kemudian diterjemahkan menjadi visual utama dalam koleksi wearable art 2Madison Avenue untuk Fall and Festive Collection 2026. Adaptasi karya tersebut hadir dalam sejumlah produk fesyen, mulai dari gaun, atasan, celana, scarf hingga aksesori.

Agus mengatakan, perubahan teknik melukis juga menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya. Setelah cukup lama menggunakan pisau palet, ia merasa perlu mencari pendekatan baru.

"Saya jenuh pakai palet itu. Terus saya ingin berubah, berubah total," ujarnya.

Mengangkat Konsep Purusa dan Prakerti

Adsense

Perupa lainnya, Reydo Respati, menghadirkan dua lukisan yang mengangkat konsep Purusa dan Prakerti dalam ajaran Hindu. Kedua konsep tersebut menggambarkan energi maskulin dan feminin yang saling berhubungan dalam proses lahirnya kehidupan.

Baca juga : UMKM Binaan Astra Perkuat Rantai Pasok Industri Otomotif

Gagasan itu diterjemahkan Reydo melalui figur abstrak tanpa wajah dengan dominasi warna hitam dan putih. Reydo juga memilih teknik pengerjaan yang mengandalkan spontanitas. Gerakan sederhana menjadi bagian penting dalam membangun bentuk dan menyampaikan gagasan yang ingin dihadirkannya.

"Dengan narasi tadi, saya ingin menghadirkan gambaran energi yang sederhana. Jadi dengan gerak yang simpel untuk menghadirkan objek," jelas Reydo.

Sementara itu, Riki B. Suteja membawa dua karya yang mengangkat tema rebirth atau pembentukan kembali. Proses kreatifnya cukup unik. Riki terlebih dahulu melukis pada bidang gipsum, kemudian menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan.

Potongan tersebut selanjutnya disusun kembali dan disatukan menggunakan resin. Bagi Riki, proses tersebut menjadi metafora perjalanan manusia ketika menghadapi berbagai kesulitan.

Serpihan yang sebelumnya tercerai-berai disusun kembali menjadi sesuatu yang baru. "Jadi pas sudah jatuh, entah gimana caranya kita susun ulang serpihan-serpihan diri untuk bangkit jadi sesuatu yang baru," ujar Riki.

Baca juga : Krista Exhibitions Gelar Pameran Percetakan Internasional ALLPrint Indonesia 2026

Keragaman karya Agus, Reydo dan Riki menjadi gambaran bagaimana The Untitled mempertemukan berbagai pengalaman serta pendekatan dalam seni rupa. Kolaborasi dengan 2Madison Avenue juga memperluas ruang interaksi antara karya seni dan masyarakat.

Seni tidak hanya dinikmati melalui lukisan yang dipajang di galeri, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi produk yang digunakan dalam keseharian. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi salah satu cara memperluas akses publik terhadap seni rupa.

Berdasarkan Statistik Sosial Budaya 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 4,98 persen penduduk DKI Jakarta berusia lima tahun ke atas tercatat menonton pertunjukan atau pameran seni rupa dalam tiga bulan terakhir.

Secara nasional, proporsi tersebut mencapai 4,34 persen. Data itu menggambarkan proporsi penduduk yang mengakses pertunjukan atau pameran seni rupa dalam periode pengamatan, bukan keseluruhan ukuran pasar seni.

Di tengah kondisi tersebut, kolaborasi antara seni rupa dan fesyen dapat menjadi salah satu jalur alternatif untuk mempertemukan karya dengan publik. Namun, keberlanjutan model tersebut tetap bergantung pada respons masyarakat, minat kolektor serta kemampuan produk hasil kolaborasi menemukan pasarnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense