BREAKING NEWS
 

Balita Menderita Gizi Buruk Di Pejaten Meninggal Dunia

Reporter : DEDE ISWADI IDRIS
Editor : MARULA SARDI
Minggu, 15 Januari 2023 07:30 WIB
Ilustrasi. (Foto: Net).

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah menangani 19 kasus balita menderita gizi buruk. Sejauh ini, 10 balita sudah kembali sehat, 8 balita sedang diobati dan 1 satu orang gagal diselamatkan alias meninggal dunia.

Data itu disampaikan Lurah Pe­jaten Barat Asep Umar. Menurut­nya, kasus gizi buruk itu ditemu­kan buah hasil kegiatan identi­fikasi yang dilakukan petugas Kelurahan dan Puskesmas Pejaten Barat, pada September 2022.

“Anak yang meninggal itu diduga bukan karena gizi buruk yang dideritanya tapi karena ada penyakit penyerta. Bayi itu terlahir sudah tidak memiliki anus,” kata Asep, di Jakarta, kemarin.

Baca juga : Menteri Basuki Tabur Bunga Di Makam Pejuang Rumah Rakyat Di Kalibata

Asep mengungkap, 10 balita sembuh karena rutin mengikuti kegiatan yang digelar komuni­tas Balita Sehat Pejaten Barat (Balihat Pejabat). Yakni, setiap bulan, Balihat mengundang dokter umum, ahli gizi, hingga dokter spesialis dari puskesmas dan rumah sakit terdekat, untuk menangani kasus gizi buruk.

Dari hasil pemeriksaan, papar Asep, terbukti ada delapan balita memiliki flek di paru-paru dan kini mereka sedang menjalani rawat jalan. Mereka menjalani pengobatan dengan meminum obat setiap hari tanpa putus selama enam bulan sejak No­vember 2022.

Selain itu, pihaknya juga memberikan pendampingan melalui Balihat Pejabat. Yak­ni, dengan mengajarkan para ibu memasak makanan bergizi hingga pemberian susu formula secara gratis demi percepatan penurunan angka gizi buruk di wilayahnya.

Baca juga : Lisa Marie Presley, Meninggal Usai Nonton Film Elvis

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Na­sional (BKKBN), Hasto Wardoyo menilai, temuan tersebut tidak mengejutkan. Sebab, jumlah prevalensi stunting (balita gizi buruk) di Jakarta di atas 14 persen. Itu, artinya masih ada sekitar 110 ribu balita stunting di DKI.

“Wajar dong kalau di Pejaten ditemukan kasus 19 anak men­derita gizi buruk,” kata Hasto, dalam keterangannya.

Meski begitu, menurut Hasto, prevalensi stunting di Jakarta merupakan terendah kedua setelah Bali. Sehingga prevalensi stunting di Ibu Kota dianggap masih cukup baik.

Baca juga : AVIANA Siap Melantai Di Bursa, Incar Dana Segar 100 Miliar

Hasto bilang, gizi buruk pada anak sebenarnya bisa diatasi. BKKBN sendiri memiliki pro­gram Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS). Dalam program ini para donatur bisa memberikan bantuan untuk melakukan intervensi gizi kepada anak berisiko stunting.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense