RM.id Rakyat Merdeka - Sepeda motor dan truk menjadi penyumbang polusi udara terbesar di Jakarta dari sektor transportasi. Hal itu didasarkan hasil pemetaan sumber emisi sektor transportasi di Jakarta yang dilakukan United States Agency for International Development (USAID) dalam program Clean Air Catalyst (CAC).
Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta Afan Adriansyah Idris mengatakan, berdasarkan hasil riset UAID kendaraan berat, terutama truk, menjadi penyumbang terbesar emisi partikulat, NOx dan SO2 di Jakarta. Kemudian, sepeda motor menjadi penyumbang terbanyak emisi CO dan NMVOC.
Menurut Afan, hasil pemetaan yang dihasilkan USAID telah memberikan informasi mendasar yang diperlukan Pemprov Jakarta untuk memahami sumber polusi di Jakarta. Utamanya dari sektor transportasi. Hasil pemetaan ini akan menjadi dasar pengembangan kebijakan pengendalian polusi, yang lebih tepat sasaran.
Baca juga : Warga Jakarta Kini Mudah Periksa Kesehatan Mental
“Dengan data ini, Jakarta lebih siap menghadapi tantangan terkait polusi udara di masa depan,” ujar Afan dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/10/2024).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta Asep Kuswanto menambahkan, Pemprov telah merancang sejumlah kebijakan untuk menekan polusi dari sektor transportasi. Di antaranya, DLH sudah menambah jumlah stasiun pemantau kualitas udara yang dapat diakses masyarakat secara real-time melalui udara.jakarta.go.id, memperluas uji emisi kendaraan secara berkala, serta meningkatkan pengawasan terhadap industri yang berpotensi mencemari lingkungan.
Adanya data tambahan terkait sumber polusi di sektor transportasi dari USAID, pihaknya bisa memperkuat langkah melalui bauran kebijakan yang lebih tepat untuk menekan polusi.
Baca juga : Pindah Ke Ducati MotoGP Musim 2025, Baby Alien Bikin Tegang
“Saat ini kami sedang mempersiapkan rencana memperluas kawasan rendah emisi untuk mengurangi tingkat polusi udara secara signifikan,” ujarnya.
Sementara, Project Manager USAID CAC Satya Budi Utama mengklaim, data yang dihasilkan lembaganya memberikan gambaran lebih jelas mengenai tantangan polusi udara di Jakarta, khususnya dari sektor transportasi.
Pihaknya juga menyarankan sejumlah skenario yang bisa ditempuh untuk mengendalikan polusi udara, seperti penerapan standar bahan bakar Euro IV dan penggunaan filter partikel diesel (DPF).
Baca juga : Baim, Mantan Bikin Trauma
Penerapan standar bahan bakar Euro IV mampu menurunkan emisi polutan, seperti PM10 dan PM2.5 hingga 70 persen pada tahun 2030.
“Penurunan ini akan memberi kontribusi pada perbaikan kesehatan masyarakat. Khususnya dalam menekan angka penyakit pernapasan dan penyakit kardiovaskular,” jelas Satya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.