RM.id Rakyat Merdeka - Ancaman banjir masih belum reda seiring potensi hujan ekstrem hingga akhir bulan. Untuk mencegahnya, pemerintah meningkatkan operasi modifikasi cuaca (OMC). Enam pesawat diterjunkan dan 32 ton garam disemai di langit Jabodetabek.
OMC dilakukan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi intensitas hujan di Jabodetabek masih cukup tinggi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun menambah armada pesawat dari semula dua unit menjadi enam pesawat yang disiagakan untuk menjangkau wilayah DKI Jakarta dan daerah penyangganya, mulai dari Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi.
"Kami tambah kekuatan OMC-nya. Semula hanya dua pesawat, satu BNPB dan satu Pemda DKI. Kini menjadi 6 pesawat, empat BNPB, satu Pemda DKI dan satu Pemda Jabar dengan cakupan seluruh DKI dan daerah penyangganya," kata Kepala BNPB Letjen Suharyanto dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (26/1/2026).
Plt Kapusdatin BNPB Abdul Muhari menambahkan, sampai saat ini, OMC efektif mencegah banjir di Jabodetabek. Sejak OMC dilakukan pada 12-22 Januari 2026, rata-rata keberhasilan mencapai 48 persen.
Namun, dijelaskannya OMC tidak untuk menghilangkan hujan. Melainkan mengurangi intensitasnya. Yang harusnya hujan ekstrem, menjadi hujan lebat. Yang harusnya hujan lebat, menjadi hujan sedang.
"Secara teknis kita menghadang awan-awan comolonimbus yang bergerak dari arah barat ke timur melalui Banten-Jakarta," imbuh dia
Muhari menjelaskan, selama 10 hari OMC, sebanyak 32.000 kilogram garam telah disemai. Rata-rata, sehari perlu 3 kali sorti penerbangan. Operasi ini juga dapat diperluas ke wilayah Provinsi Banten apabila terjadi peningkatan potensi cuaca ekstrem.
Baca juga : Di Dewan Perdamaian Trump Indonesia Termasuk Pendiri
"Rata-rata 1 sorti penerbangan bawa garam 1 sampai 1,5 ton, sehari 3 sorti penerbangan," jelas Muhari.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menerangkan, OMC telah dilakukan sejak 16 Januari 2026 di wilayah Jabodetabek. OMC mulanya menggunakan dua pesawat. Satu pesawat Casa TNI AU dan satu pesawat Cessna Caravan dengan Posko di Lanud Halim Perdanakusuma.
Mulai kemarin, BNPB menambah sejumlah armada pesawat Cessna Caravan untuk memperkuat pelaksanaan modifikasi cuaca yang ditempatkan di Halim Perdanakusuma dan Bandara Husein Sastranegara Bandung.
"BPBD Jawa Barat juga akan mengalokasikan anggaran untuk pelaksanaan OMC di Posko Husein. Rencana sampai tanggal 29 Januari, sesuai prediksi periode ancaman cuaca ekstrem," imbuhnya.
OMC sepekan ini, kata Budi, berhasil mengurangi intensitas curah hujan di Jabodetabek sebesar 39,57 persen. "Berdasarkan perhitungan sementara, sejak 16-22 Januari, hasil perbandingan antara nilai curah hujan hasil prediksi dengan aktualnya terjadi pengurangan curah hujan di wilayah Jabodetabek sebesar -39,57 persen," terang Budi.
Sedangkan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta Isnawa Adji menyampaikan, pihaknya terus melakukan evaluasi harian efektivitas OMC. Selain itu, memperkuat koordinasi lintas instansi antara BPBD Provinsi DKI Jakarta, BNPB, BMKG, TNI Angkatan Udara, serta pihak terkait.
"Kami terus memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem di DKI Jakarta dan sekitarnya," kata Isnawa.
Baca juga : Menkeu-Gubernur BI-Ketua OJK Sinergi Menjaga Stabilisasi Rupiah
Penerbangan teranyar, kata dia, dilaksanakan Sabtu (24/1/2026) dengan fokus penyemaian awan di Bekasi dan sekitarnya. Misi utama memecah awan potensial pembentuk hujan agar tidak berkembang dan bergerak menuju DKI Jakarta. Penyemaian dilakukan di ketinggian 7.000-8.000 kaki dengan target awan stratocumulus. Digunakan bahan semai berupa kalsium oksida (CaO) sebanyak 800 kilogram.
Penerbangan selanjutnya dilaksanakan dengan misi penyemaian awan difokuskan di atas Kabupaten Bogor dengan ketinggian penerbangan 5.000-7.000 kaki. Area semai berada pada radial 180-270 derajat dengan jarak 10-20 mil laut dari Bandara Halim Perdanakusuma dengan bahan semai berupa kalsium oksida juga sebanyak 800 kilogram.
Kemudian, penerbangan berikutnya dilaksanakan dengan fokus penyemaian awan di atas Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 5.000-7.000 kaki, dengan area semai pada radial 090-120 derajat. Juga disemai kalsium oksida sebanyak 800 kilogram.
Istana melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan, Pemerintah Pusat sudah berkoordinasi dengan Pemprov untuk melakukan OMC.
"Dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat atau menambah OMC yang dilaksanakan di wilayah Jabodetabek dengan harapan mengurangi tingginya curah hujan," ujarnya.
Sementara Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan, OMC sudah dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jakarta 2026. Jumlahnya hingga Rp 31 miliar untuk OMC sepanjang 2026.
Pram pun memperpanjang periode dari yang sebelumnya sampai tanggal 23, menjadi 27 Januari 2026. "Anggarannya sudah tersedia, jadi tidak ada hambatan. Jadi budget kita sediakan sampai dengan 30 hari ke depan. Nanti sehari bisa dua sampai tiga kali," kata Pram.
Baca juga : Banjir Jakarta Meluas
BMKG memprediksi cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek masih berpotensi berlangsung hingga akhir Januari. Prakirawan BMKG Rifda Novikarani menjelaskan, berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer terkini, potensi hujan di Jabodetabek masih ada dalam dua hingga tiga hari ke depan. Namun, intensitasnya cenderung lebih menurun dibandingkan hari-hari sebelumnya yang sempat mencatat curah hujan di atas 200 milimeter per hari.
"Dari segi durasi, hujan tidak berlangsung sepanjang hari seperti sebelumnya. Yang masih perlu diwaspadai adalah potensi angin kencang, yang diperkirakan terjadi di hampir sebagian besar wilayah Jabodetabek," terang Rifda, Sabtu (24/1/2026).
BMKG mengungkapkan, kondisi cuaca ekstrem ini dipengaruhi menguatnya Monsun Asia, disertai seruakan massa udara dari wilayah Asia yang melintasi ekuator dan menyebabkan penumpukan massa udara di wilayah Indonesia, khususnya di selatan ekuator.
Selain itu, keberadaan bibit siklon tropis 91s yang berkembang di selatan Nusa Tenggara Timur turut memengaruhi pola angin di sejumlah wilayah. Bibit siklon tersebut kini telah berkembang menjadi Siklon Tropis Luana, yang menyebabkan peningkatan kecepatan angin di wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Diketahui, hujan ekstrem yang terjadi sepekan ini mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah Jabodetabek. Bahkan, hingga Sabtu (24/1/2026), banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang, masih belum surut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.