Dark/Light Mode

Banjir Jakarta Meluas

Sabtu, 24 Januari 2026 08:26 WIB
Truk melintasi genangan banjir di Jalan Daan Mogot, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Banjir setinggi 50–60 sentimeter menyebabkan sejumlah kendaraan mogok serta mengganggu arus lalu lintas. (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Truk melintasi genangan banjir di Jalan Daan Mogot, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Banjir setinggi 50–60 sentimeter menyebabkan sejumlah kendaraan mogok serta mengganggu arus lalu lintas. (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banjir di Jakarta meluas dan lama surut. Hingga Jumat sore (13/1/2026), sejumlah wilayah masih terendam imbas hujan intensitas tinggi dua hari terakhir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, sebanyak 125 Rukun Tetangga (RT) dan 16 ruas jalan masih kebanjiran dengan ketinggian bervariasi. Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta Mohamad Yohan menyebut, sejak Jumat siang, beberapa titik di Jakarta Selatan (Jaksel) mulai surut. Namun, peningkatan ketinggian air justru terpantau di sejumlah wilayah Jakarta Barat (Jakbar) dan Jakarta Timur (Jaktim) karena sungai meluap.

"Ketinggian air masih fluktuatif akibat luapan Kali Angke, Kali Ciliwung, dan Kali Sunter," ujar Yohan, dalam keterangannya, Jumat (23/1/2026).

Yohan merinci, per Jumat sore, 44 RT di Jaksel, 40 RT di Jakbar, dan 34 RT di Jaktim masih tergenang. Titik banjir paling parah di Kelurahan Duri Kosambi dan Rawa Buaya, Jakbar. Ketinggian air capai 120 sentimeter. Ketinggian air lebih dari 1 meter juga terpantau di Kelurahan Kampung Melayu dan Bidara Cina, Jaktim, menyentuh 115 sentimeter.

Selain permukiman, 16 ruas jalan utama juga masih terendam. Kondisi terparah terpantau di Jalan Kebon Pala II, Jaktim dengan ketinggian air 115 sentimeter. Sedangkan di Jalan Daan Mogot KM 13 dan Jalan Basoka Raya, Jakbar, ketinggian sekitar 50 sentimeter.

Yohan menambahkan, BPBD DKI terus menyedot banjir dengan pompa. Upaya ini mulai membuahkan hasil. Di beberapa titik seperti di Kelurahan Kuningan Barat, Pela Mampang, Rawa Jati, dan Cilandak Timur, sudah 100 persen surut.

Personel gabungan dari Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga, hingga Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) terus dikerahkan untuk melakukan penyedotan genangan. "Kami fokus memastikan tali-tali air (kanal) berfungsi agar banjir surut total," terang Yohan.

BPBD DKI Jakarta mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi hujan susulan. Warga diminta selalu memantau informasi resmi melalui kanal media sosial BPBD. Bagi yang butuh bantuan darurat, bisa menghubungi layanan gratis 24 jam di nomor 112.

Baca juga : Presiden Banggakan Danantara di WEF

Menghadapi kondisi ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan, penanganan dan penanggulangan banjir di Ibu Kota tak bisa kilat.

"Ini tidak bisa dalam jangka pendek. Bim Salabim selesai. Ini perlu waktu," ucap Pramono, saat Konferensi Pers Mitigasi dan Penanganan Banjir Jakarta, di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (23/1/2026).

Untuk penanganan jangka menengah, Pramono berjanji akan segera menormalisasi Kali Ciliwung, Kali Krukut, hingga Kali Cakung Lama. Saat ini, Pemprov DKI telah menetapkan lokasi proyek Normalisasi Kali Ciliwung. Ada empat lokasi yang bakal terdampak pembebasan lahan yakni Rawajati dan Pengadegan di Jaksel serta Cawang dan Cililitan di Jaktim. Sebanyak 738 bidang tanah akan dibebaskan di empat lokasi ini.

Pramono menyadari, proyek normalisasi kali akan menimbulkan singgungan di tengah masyarakat yang terdampak pembebasan lahan. Namun, dia siap mengambil kebijakan tak populer. "Semuanya akan kami lakukan," tegasnya.

Sedangkan untuk penanggulangan jangka pendek, Pemprov DKI Jakarta secara rutin mengeruk sungai dan waduk, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Terkait modifikasi cuaca, Pramono akan memperpanjang periode dari yang sebelumnya sampai tanggal 23, menjadi 27 Januari 2026.

"Budget kita sediakan sampai dengan 30 hari ke depan. Nanti sehari bisa dua sampai tiga kali (operasi modifikasi cuaca)," ujarnya.

Pramono membantah kritik bahwa dirinya melakukan pola yang sama dengan pemerintah sebelumnya. "Saya tidak mengulang hal yang sama. Termasuk normalisasi Sungai Ciliwung, normalisasi Krukut, dan normalisasi Kali Cakung Lama. Itu belum pernah dilakukan. Kalau OMC kan memang efektif, jadi kita lakukan terus," kata Pramono.

Penanganan jangka pendek lainnya, Pemprov DKI Jakarta juga mengizinkan penerapan work from home (WFH) bagi pekerja dan school from home (SFH) bagi siswa hingga 28 Januari 2026.

Baca juga : UNOSO Gelar Wisuda ke-2, OSO: Mahasiswa Harus Ikut Majukan Daerah

Pramono juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya seorang pengemudi mobil di tengah kemacetan saat banjir melanda Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Pramono sudah meminta kepada Dinas Kesehatan mendata dan mencari tahu secara lengkap proses meninggalnya korban.

Dia juga merespons rencana Presiden Prabowo Subianto yang akan membentuk tim kajian untuk menangani banjir di Pulau Jawa. Pramono memastikan siap bekerja sama dengan Pemerintah Pusat. "Kami akan bekerja sama untuk itu," sambungnya.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyebut, Presiden Prabowo telah menginstruksikan para menteri menyusun kajian terkait pengelolaan air di Pulau Jawa. "Secepat-cepatnya membentuk tim kajian, membuat grand design penyelesaian masalah banjir khususnya di Pulau Jawa," kata Prasetyo, di Istana, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, cuaca ekstrem masih berpotensi melanda Jakarta dalam beberapa hari ke depan. Peningkatan intensitas hujan disertai angin kencang berpotensi terjadi hingga akhir Januari 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, Jakarta masuk wilayah terdampak cuaca ekstrem berulang dalam periode sepekan terakhir Januari. Gangguan atmosfer memicu pertumbuhan awan konvektif signifikan. "Masyarakat tetap tenang namun tetap meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem jelang akhir Januari ini," imbau Faisal, melalui keterangan resmi.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani memaparkan, ada sejumlah faktor teknis yang memengaruhi cuaca ekstrem di Jakarta dan sekitar. Salah satunya kemunculan Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia.

Bibit siklon ini punya kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot atau 28 kilometer per jam dengan tekanan udara minimum 1001 hPa. Selain itu, Monsun Asia diperkirakan menguat disertai seruakan dingin (cold surge) dari daratan Asia. Fenomena ini meningkatkan kecepatan angin dan mendorong pembentukan awan hujan secara masif di wilayah selatan khatulistiwa, termasuk Jakarta.

Baca juga : Ekonomi RI Dipuji IMF

Aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin, yang didukung nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif, turut memperkuat pembentukan awan Cumulonimbus. Kondisi ini diperparah oleh tingginya kelembapan udara dan labilitas atmosfer yang kuat.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meminta setiap Pemerintah Provinsi (Pemprov) segera mengaktifkan sistem siap siaga menyusul terbitnya peringatan dini dari BMKG.

"Dokumen peringatan dini BMKG ini harus jadi rujukan langsung kepala daerah dan seluruh perangkatnya mengaktifkan sistem kesiapsiagaan. Ini adalah fase krusial untuk early action mencegah jatuhnya korban jiwa dan kerugian yang lebih besar," pesan Pratikno, Jumat (23/1/2026).

Pratikno mengimbau Pemprov hingga kabupaten/kota yang berada pada level Siaga dan Awas, khususnya Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, dan NTT untuk segera mengambil langkah nyata. Yakni dengan mengaktifkan posko dan sistem komando darurat, menyiagakan penuh BPBD, TNI/Polri, serta relawan, dan mengecek daerah aliran sungai, tanggul, serta drainase.

"Selain itu, kesiapan di tingkat keluarga sangat diperlukan. Ini adalah lapis pertama perlindungan. Masyarakat disarankan menyiapkan tas siaga bencana, merencanakan jalur evakuasi keluarga, dan siap mengikuti arahan dari petugas di lapangan," imbau Pratikno.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.