Sebelumnya
Tetap Membludak
Berdasarkan pantauan, pada pagi dan sore, penumpang KRL membludak. Misalnya rute Stasiun Tanah Abang - Rangkasbitung pada Kamis (14/5) sore. Kondisi di dalam KRL penuh. Hampir tak ada jarak antara satu penumpang dengan lainnya.
Seorang penumpang asal Rangkasbitung, Abdul Rochim, menceritakan pengalamannya saat naik KRL rute ini. Gerbong mulai terisi setengah dari Tanah Abang. Di Stasiun Palmerah mulai penuh sesak. Tak ada petugas gabungan. Seperti TNI, Polri, atau petugas keamanan di area stasiun yang berkeliling dan mengecek physical distancing serta protokol kesehatan lain nya. Hanya ada petugas di ba gian depan yang mengecek suhu tubuh. “Penuh gerbongnya. Tak ada petugas yang mengatur jarak,” ujar dia.
Sehari sebelumnya, kepadatan juga nampak Stasiun Bojonggede, bogor. Di sini, kepadatan terjadi pagi sekitar pukul 05.00 hingga pukul 06.00. Penumpang menumpuk di pintu masuk stasiun. Penyebabnya adalah penerapan physical distancing atau jaga jarak fisik, serta pembatasan penumpang oleh PT KCI.
Baca juga : Halodoc dan Gojek Sediakan Rapid Test Gratis, Begini Caranya
Meskipun padat, petugas stasiun satu persatu memeriksa suhu tubuh penumpang. Petugas kepolisian bersenjata laras panjang ikut menjaga lokasi. Penumpang nampak tertib, antre di tempat dan jarak yang telah disediakan.
Sulit Batasi Penumpang
Staf ahli Menteri Perhubungan (Menhub) Bambang Prihartono menilai, pembatasan penum pang apalagi penghentian transportasi di wilayah Jabode tabek seperti KRL sulit karena masih terdapat beberapa sektor industri yang beroperasi.
“Pernah kita mengeluarkan beberapa kebijakan melakukan pembatasan perjalanan, ini sulit dilakukan secara optimal karena masih ada sektor-sektor lain nya yang masih bergerak,” ujar Bambang dalam sebuah diskusi virtual di Jakarta, Jumat (15/5).
Baca juga : Pekerjaan Berat Selamatkan Manusia Sekaligus Rawat Ekonomi
Menurutnya, sejumlah sektor yang masih berjalan normal dan diizinkan beroperasi di Jabo detabek berpengaruh terhadap pergerakan masyarakat yang luar biasa di transportasi umum.
“Jadi tidak heran, walaupun sudah dibatasi, penumpangnya masih padat. Bahkan kepada tan penumpang juga terlihat di hari Sabtu. Dengan demikian ini menunjukkan bahwa moda transportasi, khususnya trans portasi umum dibutuhkan dalam kondisi apapun,’’ paparnya.
Menurut bambang, karena tidak melakukan lockdown dan hanya melakukan pembatasan sosial, pemerintah harus berusaha menyediakan transportasi umum namun protokol kesehatan pencegahan Covid-19 wajib dilaksanakan.
VP Corporate Communications PT KCI, Anne Purba menegaskan, petugasnya di lapangan tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Dari mulai membatasi penumpang untuk masuk ke peron dan di dalam kereta dengan marka, kewajiban mengenakan masker, memeriksa suhu tubuh, hingga membatasi isi gerbong penumpang tak boleh lebih dari 50 persen kapasitas.
Baca juga : Wali Kota Padang Sumbang 6 Bulan Gaji Untuk Penanganan Corona
Pihaknya juga menyediakan wastafel di stasiun untuk cuci tangan dengan air mengalir sebelum dan sesudah naik KRL, membersihkan KRL dengan disinfektan dengan rutin, penyemprotan stasiun, menyiapkan 4.000 lebih petugas pengamanan di 80 stasiun dan di atas KRL dibantuTNI dan Kepolisian.
Disebutkannya, selama pemberlakuan PSBB, jumlah penumpang KRL sudah terpantau turun drastis. Penumpang KRL hanya ada di kisaran 200 ribu setiap harinya. Padahal, jumlah penumpang di hari biasa mencapai 1,2 juta orang. Dari 700 lebih perjalanan kereta, 90 persen kereta sepi pengguna. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.