BREAKING NEWS
 

Inovatif, Mahasiswa ITB Olah Limbah Sawit Jadi Pupuk Organik Cair

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Sabtu, 24 Januari 2026 12:39 WIB
Tiga mahasiswa ITB: Agnes Ruth Savira, Maritza Kayla Zasky Malikha, dan Naveed Muhammad Falah Brahmantika sukses melahirkan inovasi pupuk organik cair berbasis limbah cair kelapa sawit. (Foto: dok. ITB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim Althara: Agnes Ruth Savira, Maritza Kayla Zasky Malikha, dan Naveed Muhammad Falah Brahmantika dari Program Studi Teknologi Pascapanen berhasil mengubah isu lingkungan menjadi solusi pertanian berkelanjutan, melalui inovasi pupuk organik cair berbasis limbah cair kelapa sawit.

Dengan mengusung tema besar “Akselerasi Indonesia Impact” dalam ajang karya tulis ilmiah Festival Engineering Api Biru (FEAB) di Jakarta pada Juli 2025, ketiga mahasiswa ini menjawab tantangan pengelolaan limbah industri sawit yang masif melalui fermentasi mikrobiologis.

Limbah cair kelapa sawit (POME) yang kerap menjadi masalah lingkungan disulap menjadi biofertilizer bernilai tambah, dengan keunggulan khusus meningkatkan produktivitas sekaligus memberi proteksi alami terhadap hama pada tomat Momotaro.

Baca juga : Bagi Siswa di Aceh Tamiang, Masuk Sekolah Lagi Jadi Pelipur Lara Usai Bencana

Tomat Momotaro adalah komoditas bernilai tinggi yang membutuhkan pupuk berkualitas. Melalui inovasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap limbah bisa berubah menjadi harapan, baik bagi petani sawit maupun petani hortikultura,” ujar Naveed mewakili tim yang terinspirasi dari kunjungan ke Mujagi Farm, Cianjur, seperti dikutip situs resmi ITB, Jumat (23/1/2026).

Adsense

Ide ini membuka peluang nyata. Aplikasi pupuk fermentasi dari limbah sawit dinilai dapat menekan penggunaan pupuk kimia dan pestisida, sekaligus memperkuat daya saing produk hortikultura Indonesia di pasar global.

Dari sisi lingkungan, solusi ini menjadi wujud ekonomis sirkuler yang menyinergikan perkebunan sawit dan pertanian hortikultura.

Baca juga : Salah Konteks, Soal Tanam Sawit di Papua

Bagi Tim Althara, keberhasilan di FEAB 2025 bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan untuk menghadirkan manfaat nyata. Mereka berharap inovasi ini dapat dikembangkan hingga ke tingkat lapangan, membuka peluang komersialisasi, bahkan ekspor hortikultura premium Indonesia.

“Pelajaran berharga yang kami dapat adalah jangan mudah menyerah. Justru dari tantangan, lahir peluang untuk berinovasi. Semoga pengalaman ini bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, mencoba, dan berkolaborasi demi memberi dampak positif bagi masyarakat,” kata Tim Althara.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense