RM.id Rakyat Merdeka - Program Studi Magister Teknik Industri Universitas Mercu Buana (MTI UMB) memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri. Kali ini, kolaborasi dilakukan bersama Universiti Teknologi Malaysia (UTM) untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur di tengah perkembangan Industri 4.0.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Kolaborasi Luar Negeri (PkM KLN) bertema Increasing the Competitiveness of SMEs in the Industry 4.0 Era di ARTOTEL Living World Grand Wisata Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan ini mempertemukan akademisi, praktisi industri, mahasiswa, dan karyawan perusahaan. Mereka bersama-sama membahas berbagai strategi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor manufaktur.
PT Gemilang Prioritas Utama turut terlibat sebagai mitra industri dalam kegiatan tersebut. Setelah sesi pemaparan materi dan diskusi, para peserta juga melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung proses serta dinamika kegiatan industri.
Melalui kegiatan ini, pengetahuan akademik diupayakan tidak berhenti di ruang kuliah. Peserta diajak menghubungkan teori dengan persoalan nyata yang dihadapi dunia usaha.
Sejumlah isu strategis dibahas, mulai dari peningkatan produktivitas dan kualitas produk, efisiensi energi, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga penerapan konsep industri berkelanjutan.
Baca juga : BTN Dukung Pengembangan Ekosistem Kopi Nasional
Salah satu pembicara dari Universiti Teknologi Malaysia, Muhd Ikmal Isyraf bin Mohd Maulana, membawakan materi bertajuk Productivity Improvement through Continuous Improvement.
Menurut Ikmal, daya saing industri tidak semata ditentukan oleh besarnya investasi atau penggunaan teknologi modern. Perusahaan juga membutuhkan sumber daya manusia yang terlibat aktif, proses kerja disiplin, pengukuran kinerja yang konsisten, serta pemanfaatan data dalam mengambil keputusan.
“Peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada teknologi. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana perusahaan membangun budaya perbaikan berkelanjutan dan melibatkan seluruh sumber daya manusia dalam proses tersebut,” kata Ikmal.
Selain Ikmal, lima dosen MTI UMB turut memberikan materi dari berbagai bidang yang berkaitan langsung dengan kebutuhan industri manufaktur.
Choesnul Jaqin membahas asesmen penerapan 5S pada industri pendukung die casting. Sawarni Hasibuan mengulas penerapan ekonomi sirkular atau circular economy untuk mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien.
Sementara Humiras Hardi Purba menyoroti pentingnya budaya Kaizen atau perbaikan berkelanjutan dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas perusahaan.
Menurut Humiras, upaya perbaikan tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar dan investasi mahal.
Baca juga : Indonesia Coffee Expo 2026 Dorong Ekosistem Industri Kopi
“Perbaikan tidak harus selalu dimulai dari langkah besar. Perusahaan dapat memulai dari hal-hal sederhana, mengenali masalah, mengumpulkan data, lalu melakukan perbaikan secara bertahap dan konsisten,” ujarnya.
Materi mengenai keselamatan dan kesehatan kerja disampaikan Agung W. Blantoro. Sedangkan Jacky Tjin membahas strategi penghematan energi untuk meningkatkan efisiensi biaya sekaligus mendukung keberlanjutan industri.
Berbagai materi tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan kinerja perusahaan dapat dilakukan dari banyak sisi. Transformasi industri tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi digital atau mesin modern. Pengelolaan bahan baku, pengurangan limbah, penghematan energi, pemeliharaan peralatan, penataan area kerja hingga pencegahan produk cacat juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing.
Peserta pun didorong menerapkan perbaikan secara bertahap dan berbasis data. Langkahnya dapat dimulai dengan mengamati proses kerja, mengenali sumber pemborosan, mengumpulkan data pendukung, menentukan persoalan prioritas, hingga menjalankan proyek percontohan dalam skala kecil.
“Harapannya, perusahaan tidak melihat konsep seperti 5S, Kaizen, ekonomi sirkular, efisiensi energi, dan K3 hanya sebagai teori. Semua itu harus bisa diterapkan dan menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari,” ujar salah satu tim MTI UMB.
Kolaborasi antara UMB, UTM, dan PT Gemilang Prioritas Utama menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara perguruan tinggi dengan dunia usaha.
MTI UMB memandang perguruan tinggi tidak cukup hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Kampus juga dituntut menjadi mitra strategis industri dalam menghadapi perubahan teknologi dan tantangan ekonomi global.
Baca juga : Politisi Gerindra Kawal Total Revisi UU Kadin
Melalui kerja sama tersebut, hubungan antara dunia akademik dan industri diharapkan semakin erat. Sinergi ini juga diharapkan melahirkan sektor manufaktur yang lebih produktif, kompetitif, efisien, aman, dan berkelanjutan.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri sangat penting agar ilmu pengetahuan yang dikembangkan di kampus dapat memberikan manfaat nyata dan menjadi solusi bagi persoalan yang dihadapi dunia usaha,” demikian disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Kerja sama dengan UTM turut memberikan perspektif internasional dalam pengembangan industri. Sementara keterlibatan langsung mitra industri diharapkan dapat memastikan pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan kampus tetap relevan dengan kebutuhan nyata dunia usaha.
Dengan kolaborasi lintas negara dan keterlibatan industri, MTI UMB berharap proses transfer pengetahuan dapat berjalan dua arah. Kampus memahami persoalan yang dihadapi industri, sementara dunia usaha memperoleh akses terhadap riset dan pengembangan keilmuan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan di era Industri 4.0.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.