RM.id Rakyat Merdeka - Suasana kebatinan Koalisi Perubahan Indonesia (KPI) sedang tidak baik-baik saja. Salah satu penyebabnya, belum pastinya nama calon wakil presiden (cawapres) Anies Baswedan.
Selain itu, manuver politik Partai NasDem memicu pertengkaran. Misalnya, usai pertemuan Anies dengan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, di Solo, Selasa (15/11), elite NasDem bilang, Gibran cocok menjadi pendamping Anies.
Partai Demokrat yang menjagokan Ketua Umumnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meradang. PKS juga bingung. Ahmad Heryawan (Aher) yang diajukan, belum pernah disebut. Sementara, PKS juga digoda Gerindra untuk kembali bergandengan tangan.
Baca juga : NasDem Main Api Nih
KPI nyaris ruwet. Beruntung, Anies sigap mendinginkan partai pendukungnya dengan makan siang bareng di Rumah Makan (RM) Pagi Sore, di kawasan Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (18/11).
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menyatakan, akar panas dinginnya koalisi ini memang di penentuan cawapres. Meski Anies sudah jauh hari menjabarkan tiga kriteria ideal tentang sosok pendampingnya, yakni bisa mendongkrak suara, diterima semua anggota koalisi dan punya kemampuan memimpin. Namun, yang terjadi masih sering miskomunikasi.
“Semua ingin mempertahankan tawarannya,” kata Agung kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca juga : Relawan Pendekar Dan Binar Deklarasi Ganjar Capres 2024
NasDem, lanjut Agung, ngotot memasangkan Anies dengan sosok dari luar koalisi sebagai jalan tengah. Demokrat mendesak agar AHY, dan PKS menawarkan Ahmad Heryawan (Aher) sebagai hasil rekomendasi dari Majelis Syura.
“Untungnya Anies sigap. Bikin pertemuan mensolidkan barisan pengusungnya, sekaligus mengirimkan sinyal kepada publik bahwa pencapresan dirinya tak ada masalah,” katanya.
Namun, tindakan Anies itu dinilai sekadar pertolongan pertama. Sebab, akar masalah sosok cawapres belum ada win-win solution. Agung menyarankan, sebelum ketemu cawapres, KPI terlebih dahulu bersama-sama mendeklarasikan Anies.
Baca juga : Bakamla Gelar Latihan Menembak Kesiapan Operasi Wilayah Barat
Ikhtiar politik KPI dengan mendeklarasikan Anies sebagai capres, dinilai menjadi langkah maju sebagai sinyal keseriusan agar para kader masing-masing partai dalam koalisi lebih tenang.
Bila tidak, kader di bawah bisa goyah. KPI akan layu sebelum berkembang, dan setiap anggotanya hanya akan menjadi pelengkap bila kelak koalisi bubar dan harus memilih di antara Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), Koalisi Indonesia Raya (KIR) dan PDI Perjuangan.
“Artinya, bila KPI tak jadi terbentuk, yang rugi bukan saja Anies melainkan seluruh anggota koalisi. Karena tak maksimal menjemput momentum harapan perubahan yang dinapaskan mereka selama ini,” jelasnya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.