BREAKING NEWS
 

Ini 5 Opini Imajiner Dino Terkait Transisi Kepemimpinan 20 Oktober Mendatang

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Rabu, 25 September 2024 15:11 WIB
Founder & Chairman FPCI Dino Pati Djalal (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Menteri Luar Negeri Dino sekaligus Founder & Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Pati Djalal mengenang peristiwa bersejarah Senin, 20 Oktober 2014, saat Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakhiri masa jabatannya setelah 10 tahun berkuasa, dan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada Presiden Terpilih Joko Widodo (Jokowi) sebagai Pemenang Pilpres 2014. Ketika itu, Dino persis berada di samping Presiden SBY.

“Sejarah kembali berulang. Tanggal 20 Oktober nanti, Presiden Jokowi akan meninggalkan Istana dan Presiden Terpilih Prabowo akan masuk,” ungkap Dino via Instagram, Rabu (25/9/2024).

Dino pun lantas berimajinasi, bagaimana jika seandainya Presiden Jokowi bertanya kepada Presiden SBY mengenai tips mengakhiri masa jabatan.  

Berikut jawaban imajinasi Dino terkait hal tersebut:

1. Terimalah kenyataan bahwa era saya sudah berakhir. Terima kenyataan ini dengan bulat, dan dengan ikhlas, dan dengan bersyukur bahwa kita sudah memberikan upaya yang terbaik.

"Ingat, legacy kita tidak ditentukan oleh survey sesaat. Biarlah rakyat dan sejarah yang menilai sumbangsih kita. Post power syndrome pasti akan ada, karena dialami oleh semua pemimpin yang turun, namun itu tidak boleh menggerogoti kita," papar Dino.

Baca juga : Kadin Daerah: Banyak Kemajuan dan Terobosan Positif Selama Kepemimpinan Arsjad

2. Jangan mengambil keputusan strategis apa pun di akhir masa jabatan, baik mengenai personel maupun kebijakan.

Sewaktu masuk menjadi Presiden di tahun 2004 misalnya, Pak SBY tidak menjalankan keputusan pengangkatan panglima TNI yang dilakukan oleh Presiden sebelumnya, hanya beberapa bulan sebelum masa jabatannya berakhir.

Ingatlah, Presiden terpilih mempunyai mandat sendiri. Bahkan, mandat yang sangat masif sebagai pemimpin yang paling banyak mengantongi suara dalam pemilu di seluruh dunia.

Sebagai pemimpin, beliau mempunyai agenda sendiri. Preferensi sendiri. Pilihan Sendiri. Kita tidak boleh mengatur-atur atau mengutak-atik dia atau mempengaruhi opsi kebijakannya.

"Let him decide. It is President Prabowo's time now (Biarkan dia memutuskan. Sekarang, masanya Prabowo- Red)," ujar Dino.

Adsense

 3. Kita tidak boleh memposisikan diri sebagai patron terhadap Presiden pengganti kita. Sepanjang sejarah Republik Indonesia, dari 7 Presiden yang ada, tidak pernah ada satupun Presiden yang dipatroni oleh Presiden sebelumnya.

Baca juga : Di Konferensi Internasional, Menteri AHY Bicara Kepemimpinan Transformasional

Presiden Soeharto tidak pernah dipatroni oleh Presiden Soekarno. Presiden Habibie yang notabene Anak Emas Presiden Soeharto, dulu tidak pernah memposisikan dirinya untuk dipatroni oleh Presiden Soeharto.

Begitu juga dengan Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka tidak ada yang menempatkan diri untuk dipatroni presiden-presiden sebelumnya.

"Saya yakin juga, Presiden Jokowi tentu tidak mau dipatroni oleh Presiden sebelumnya atau Presiden sebelumnya sebelumnya," tutur Dino.

4. Sebagai pemimpin tertinggi, idealnya kita masuk dengan baik, keluar dengan baik. Kita masuk dengan cemerlang, keluar dengan cemerlang. Kita masuk dengan terhormat, keluar dengan terhormat.

Ukuran sukses kita adalah ini: Kita harus bisa mewariskan Indonesia dalam kondisi yang lebih baik kepada presiden pengganti kita.

"Dan jujurnya, tidak semua Presiden dalam sejarah Indonesia berhasil melakukan ini," cetus mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (AS) ini.

Baca juga : Menhub Perkuat Regulasi Transportasi Sektor Udara

5. Sehebat apa pun kita, sebesar apa pun kekuasaan kita, kita tidak lebih besar dari Indonesia. Indonesia jauh, jauh, lebih besar dari kita. Siapa pun yang melupakan ini akan diperingatkan sejarah.

Presiden Soekarno yang pernah menjadi presiden seumur hidup, dijegal oleh sejarah. Presiden Soeharto yang berkuasa terlalu lama, akhirnya ditegur sejarah. Presiden Abdurrahman Wahid yang ingin membubarkan DPR, juga dijatuhkan oleh sejarah.

"Demikian, lima butir imajinasi saya mengenai apa yang mungkin akan disampaikan oleh Presiden SBY kepada Presiden Jokowi mengenai cara mengakhiri jabatan," kata Dino.

"Ikhlas menerima kenyataan bahwa era kita sudah berakhir. Jangan mengambil keputusan strategis baik mengenai personel pemerintahan maupun kebijakan. Jangan memposisikan diri sebagai patron terhadap presiden pengganti kita. Masuk terhormat, turun dengan terhormat. Hindari hal hal yang kelak dapat membuat kita diganjar oleh sejarah," pungkasnya.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense