Sebelumnya
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Psikiatri FKUI-RSCM dr Kristiana Siste Kurniasanti mengatakan, sepanjang 2024 ada 126 pasien sepanjang 2024 yang menjalani rawat jalan. Sementara pasien rawat inap ada sebanyak 46 pasien. Total ada 172 pasien. Jumlah tersebut meningkat hampir 3 kali lipat dibanding 2023.
Kristiana menyebutkan, mayoritas pasien yang datang adalah laki-laki dengan usia mulai 14 sampai 35 tahun. Mereka kebanyakan berasal dari Jabodetabek. “Tapi, ada rujukan juga dari luar kota, misalnya dari Kalimantan, Sumatera, kemudian juga dari Jawa Tengah dan Sulawesi,” sebut Kristiana.
Soal latar belakang korban, ditegaskan Kristiana, rata-rata bukan pengangguran. Sebaliknya, mereka justru para pekerja yang mengalami gangguan psikologis seperti rasa cemas berlebihan. “Kalau sudah mengalami kecanduan, itu bisa sampai depresi berat, akibat tidak bisa berhenti dari siklus lingkaran setannya,” imbuh dia.
Baca juga : Kalahkan Garuda 4-0, Jepang Memang Jauh Lebih Kuat
Proses terapi yang harus dijalani pasien, disebut Kristiana, bisa memakan waktu hingga satu tahun lamanya. Sebab, proses terapi pasien kecanduan judol harus dilakukan bertahap.
Kristiana menyebutkan, kecanduan judol mirip dengan kecanduan narkotika, hanya saja tidak ada zat kimia yang masuk ke dalam tubuh. Tetapi, telah terjadi kerusakan di dalam otaknya. “Ada kerusakan otak bagian depan sehingga tidak bisa mengendalikan perilaku,” ujarnya.
Salah satu metode pengobatan yang dilakukan saat ini, kata Kristiana, adalah terapi ‘transmagnetic stimulation’ dengan menggunakan aliran gelombang elektromagnetik yang bisa mengaktifkan ‘stop system’ di otak bagian depan. “Sehingga orang tersebut bisa mengendalikan perilakunya,” jelasnya.
Baca juga : Tradisi Bawa Rombongan Sudah Nggak Zaman Lagi
Meski begitu, Kristiana mengakui, terapi tersebut tidak sepenuhnya bisa berhasil 100 persen. Sebab, pasien kecanduan judol rentan kambuh. Terutama dalam waktu tiga bulan pertama usai jalani terapi psikis. Sayangnya, belum ada data konkrit mengenai jumlah pasien yang mengalami kekambuhan.
“Sekitar 70 persen sudah tidak berjudi lagi, tapi namanya kecanduan itu kan ada masa relaps ya. Jadi kita mesti follow up tiga bulan setelah pasca perawatan. Itu yang belum kami lakukan,” pungkasnya.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Sabtu, 16 November 2024 dengan judul 172 Pasien Dirawat Di RSCM, Judol Sebabkan Kerusakan Otak
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.