RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia tengah berjuang untuk lepas dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap), dengan menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah perlu menerapkan strategi yang tepat, salah satunya dengan mendorong investasi di luar Pulau Jawa.
Staf Ahli Ekonomi Makro Kementerian Investasi dan Realisasi (BKPM), Imam Suyudi mengatakan, investasi di luar Pulau Jawa ini sudah mulai digaspol sejak presiden Jokowi. Sehingga kue investasi saat ini sudah berbeda dengan 10 tahun lalu yang porsinya 60 persen terkonsentrasi di pulau Jawa.
“Tapi semenjak 4 tahun yang lalu
itu porsinya sudah berubah karena Pak Presiden Jokowi waktu itu, Bapak Menteri Bahlil meminta kita untuk memastikan luar Jawa banyak kita bantu promosikan dan sekarang Pak rosan juga seperti itu,” kata Imam dalam Podcast Ngegas yang dipandu oleh Firsty Hestyarini dan Siswanto di kanal YouTube Rakyat Merdeka TV.
Hasilnya saat ini, sebut Imam, realisasi investasi yang ada di luar Jawa sudah lebih besar daripada porsi realisasi investasi di Jawa. “Sekarang kebalik kalau dulu 60 persen di Jawa, sekarang sudah 52 persen sampai 54 persen di luar Jawa,” tambahnya.
Baca juga : Peneliti INDEF: Ekosistem Syariah Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
Realisasi investasi berubah, dari sebelumnya Jawa Sentris menjadi Indonesia Sentris. Investasi yang digenjot dari Sabang sampai Merauke ini akan terus dilakukan agar pertumbuhan ekonomi yang inklusif terwujud.
Akan tetapi, masih ada satu hal yang menjadi PR pemerintah saat ini, yaitu pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah angka Incremental capital-output ratio atau ICOR.
“Angka ICOR kita itu 6 sampai 6,5 persen, ada rata-rata 6,2 sampai 6,3 persen. Sedangkan angka ICOR di Asia Tenggara itu ada di bawah 3 sampai 4 persen,” ungkapnya.
Semakin tinggi ICOR, kata Imam menandakan terjadinya inefisiensi di dalam melakukan investasi. Ia mengatakan, ada banyak faktor penyebab tingginya angka ICOR. Salah satunya adalah biaya-biaya tak terduga yang harus dikeluarkan investor.
Baca juga : Fadli Zon Ungkap Posisi Indonesia sebagai Peradaban Tertua Dunia
“Kita harus jujur, pemerintah harus jujur. Tidak perlu kita tutup-tutupi, yang kurang kita sampaikan untuk refleksi kita memperbaiki diri, supaya jelas ada solusi bersamanya. Tidak perlu kinerja yang baik-baik terus yang kita sampaikan, tapi ada hal-hal yang masih menjadi pending. Isu yang menjadi homework, harus kita perbaiki,” tandasnya.
Akan tetapi, dengan kondusifitas perpolitikan di Indonesia saat ini, seperti yang ditunjukkan di sejumlah momen hajatan demokrasi, baik pemilihan presiden (Pilpres), pemilihan legislatif (Pileg) maupun pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak baru saja selesai, BKPM optimis target investasi sebesar Rp 1.650 triliun pada tahun ini tercapai.
“Kami masih sangat optimis ya
bahwa Rp 1.650 triliun itu, bisa kita capai. Karena dengan Rp 1.650 triliun itu, pertumbuhan dan peningkatan year on yearnya itu, kalau saya bisa perkirakan itu sekitar 10 sampai 14 persen. Ini bisa memberikan mendongkrak pertumbuhan ekonomi kita itu di atas 5,05 atau 5,08 persen,” terangnya.
Selain itu, arahan dari Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rosan Roeslani sebutnya juga sudah sangat jelas. Yakni melayani semua investasi yang masuk dengan baik, mulai dengan mempercepat proses perizinan hingga membantu memaksimalkan komunikasi jika terdapat masalah yang tersangkut di kementerian lain.
Baca juga : Prof Didik: Industri Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
“Apa yang disampaikan Pak Menteri kami sangat jelas, sangat clear. Bantu selesaikan, percepat tidak boleh diperlambat. Itu kunci pokok, dan kata beliau kepastian berusaha akan mendukung program pemerintah pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.