Sebelumnya
Mereka berupaya memanfaatkan tangan pengurus Hoofdbestuur Muhammadiyah Hindia Timur–untuk mengontrol penuh Cabang Padang Panjang, agar tidak disusupi kekuatan Kuminih. Itulah yang mendorong pimpinan persyarikatan mengutus Haji Fakhruddin ke Minangkabau.
Merangkul Ninik Mamak & Kepala Nagari
Setelah Fakhruddin menyatakan kesediaannya mempropagandakan Muhammadiyah di ranah Minang, pada 15 April 1927, Van der Plas–seorang penasehat kantor Urusan Pribumi mengirimkan surat kepada Residen Arndt.
Ia meminta Residen Sumatera Barat mengakhiri sikap permusuhannya, karena Muhammadiyah merupakan wakil Islam yang sesungguhnya dan non partisan.
Selain itu, Van der Plas meminta Arndt menunjukkan sikap simpati selama Haji Fakhruddin tournee di Sumatra Barat.
Baca juga : Ini 3 Jurus Utama Pemerintah Buat Dongkrak Ekonomi
Rupanya argumen Van der Plas itu diterima Gubernur Jendral de Graeff dan meminta kepada Arndt untuk mengakhiri sikap permusuhan dengan Haji Abdul Karim Amrullah.
Ia berharap dengan perubahan sikap itu, Muhammadiyah pusat bisa membantu otoritas Batavia untuk menjinakkan sisa-sisa Kuminih di Sumatera Barat.
Lebih lanjut baca Surat Van der Plas untuk Arndt tanggal 14 April, 15 April, dan 20 April 1927 (Mailrappport 524x/ 1927) Surat sakti Van der Plas rupanya ampuh melunakkan hati Residen Sumatera Barat.
Ketika Fakhruddin berkunjung ke ranah Minang, ia dilayani dengan baik oleh pejabat Hindia Belanda. Meskipun Fakhruddin mengetahui telah terjadi diskriminasi di Pitalah dan Labuah, namun ia tidak memasukkannya dalam laporan perjalanannya.
Fakhruddin punya penyelesaian elegan. Untuk meredakan konflik di tingkat cabang dan groep, ia mengutamakan otoritas adat.
Baca juga : Pertamina Pastikan Pembangunan Kilang Alami Kemajuan Signifikan
Selama perjalananannya di Maninjau dan Padang Panjang, Fakhruddin dibantu oleh A.R Sutan Mansur yang telah berhasil merangkul ninik mamak dan kepala nagari bergabung dalam Muhammadiyah.
Sepeninggal Fakhruddin, Sutan Mansur terus Islam berkemajuan dengan beberapa metode pendekatannya yang unik. Suksesnya tournee Fakhruddin, rupanya diiringi insiden penarikan diri dua ulama kharismatik dari Muhammadiyah Cabang Padang Panjang.
Kisahnya bermula, ketika Syekh Muh. Djamil dan Syekh Muh. Zain menghadiri Kongres ke-16 tahun 1927 di Pekalongan.
Dalam kongres ke-16, kedua ulama Kaum Tuabaru mengetahui posisi Muhammadiyah sebenarnya. KH. Mas Mansur sebagai spreaker menjelaskan kepada seluruh peserta, mengenai khittah Muhammadiyah mengamalkan agama.
Dan sejak itulah Majelis Tarjih resmi berdiri (Hamka, 1971: 20). Syekh Muh. Djamil dan Syekh Muh. Zain hanya terdiam dan tidak menyanggah ide yang dikemukakan KH. Mas Mansur. Dan kedua ulama itu menyadari, bahwa mereka sudah “salah kamar”.
Baca juga : Kasus Suap Krakatau Steel, Perantara Divonis Lebih Berat Ketimbang Direktur
Mereka baru menyadari, bahwa ajaran Muhammadiyah persis sama dengan HAKA, Haji Abdullah Ahmad, Syekh Muhammad Djamil Djambek yang telah dijuluki “Kafir Padang” oleh Syekh Abdul Hadi dari Mekah. ***
Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatera Barat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.