RM.id Rakyat Merdeka - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyerukan pentingnya menghidupkan kembali tradisi mimpi benar (mubasyirat) sebagai sarana komunikasi ilahiyah di tengah krisis peradaban global yang semakin kompleks. Hal ini disampaikannya dalam forum strategis yang digelar Majelis GAZA bertajuk “Agenda Allah Berbasis Mubasyirat”, di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsagafah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (1/5/2025).
Said Aqil menjelaskan, tradisi mubasyirat bukan hal baru dalam Islam. Sejak zaman Nabi, mimpi benar menjadi salah satu cara Allah menyampaikan pesan.
"Saat ini, ketika suara langit makin jarang terdengar di ruang publik, kita butuh forum seperti ini untuk menghidupkan kembali koneksi spiritual umat,” ujar Said Aqil dalam pidatonya.
Baca juga : Hemofilia Sedunia 2025, HMHI Ajak Masyarakat Peduli dan Kenali Gejalanya
Forum ini dihadiri lebih dari 350 peserta dari dalam dan luar negeri. Mulai dari tokoh agama, akademisi, diplomat, hingga perwakilan lembaga internasional dari negara-negara Islam. Mereka berkumpul untuk menggali potensi petunjuk ilahi dalam membimbing umat.
Said Aqil menekankan, dalam membangun masa depan, umat Islam tidak bisa hanya bergantung pada rasionalitas dan data teknokratik semata. Menurutnya, kombinasi antara akal, wahyu, dan ruhani menjadi kunci kebangkitan peradaban Islam yang hakiki.
“Islam itu tidak hanya soal logika dan strategi. Ada dimensi ilham, mimpi, dan batiniah yang juga harus kita dengarkan. Inilah yang membedakan Islam dari peradaban sekuler,” tegasnya.
Baca juga : Tempat Wisata Ramai, Ekonom: Katalis Positif Konsumsi Masyarakat
KH Said Aqil menutup pesannya dengan ajakan kepada umat Islam untuk tidak lagi mengabaikan suara langit.
“Selama ini kita terlalu sibuk mendengar bising dunia. Saatnya kembali membuka telinga hati. Mimpi itu bukan ilusi, tapi bisa jadi sinyal dari Allah,” ajaknya.
Forum ini juga memaparkan hasil kompilasi 1.700 mimpi benar dari berbagai penjuru dunia yang dianalisis dan ditakwil oleh para ulama. Mimpi-mimpi itu dianggap sebagai peta ruhani tentang dinamika akhir zaman, dengan lima fase yang telah teridentifikasi—mulai dari Fase Peringatan Global hingga Fase Kemenangan Ruhani.
Baca juga : Kanwil Kemenag Jabar Siagakan 1.000 Masjid Jadi Posko Mudik Lebaran
Ketua Majelis GAZA, Diki Candra Purnama menambahkan, forum ini adalah bagian dari upaya menyusun Master Plan Ilahiyah yang bisa menjadi panduan strategis dalam menghadapi krisis global.
“Indonesia mendapat sorotan besar dalam mimpi-mimpi tersebut sebagai ‘Cahaya dari Timur’. Ini menguatkan peran Indonesia sebagai pusat kebangkitan ruhani Islam di akhir zaman,” jelas Diki.
Sebagai tindak lanjut, peserta forum sepakat menyusun Buku Putih Master Plan Ruhani, membentuk Tim Kecil Mubasyirat, dan menyelenggarakan Forum Mubasyirat Dunia secara berkala.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.