BREAKING NEWS
 

Catatan Prankatius Balun

Paskibraka: Bibit Unggul Bangsa

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Rabu, 25 Juni 2025 09:01 WIB
Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP Pankratius Balun. (Foto: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Belakangan ini, proses seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) lagi hot di kalangan pelajar bahkan sempat menjadi trending topic. Tingginya animo anak putih abu-abu selaras dengan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap alur perekrutan yang semakin adil dan transparan. Ya, segala tudingan negatif ini-itu bisa ditepis dengan keterbukaan akses via pemanfaatan teknologi informasi yang bertanggung jawab. Semoga sesuai harapan kita semua. Berujung pada optimalisasi proses pembinaan kaderisasi para pemimpin bangsa yang berkarakter Pancasila.

Dalam Peraturan Presiden RI Nomor 51/2022, disampaikan bahwa Paskibraka adalah pelajar putera dan puteri terbaik. Sebagai kader bangsa dalam melaksanakan tugas menaikkan dan menurunkan duplikat bendera pusaka, baik saat HUT Kemerdekaan atau peringatan Hari Lahir Pancasila di pelosok negeri. Klausa tersebut menyiratkan setiap anggota Paskibraka secara aktif dan pasif adalah bibit unggul berkarakter Pancasila, yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Namanya juga bibit, tentu perlu perlakuan tepat dalam rangkaian proses seleksi. Yakni dalam pemberian ilmu, keahlian, penguatan karakter, optimalisasi potensi diri dan peluang yang sama untuk terlibat dalam setiap hal. 

Bibit Unggul

Agar unggul, bibit lintas generasi perlu dipupuk dengan kesadaran bahwa keberlanjutan bangsa itu lahir dari perencanaan yang matang. Gen X, Y, Z, Alpha dan seterusnya berhak menjadi pemimpin masa depan, lewat jalur Paskibraka. Kualitas dan transparansi itu wajib, guna mendorong tumbuh kembang plg potensi nasionalisme di keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar. 

Baca juga : Ketum DPP LDII: Haji Mabrur dan Kurban, Pijakan Bangun Peradaban Bangsa

Dalam perkembangan dunia tanpa batas saat ini, tentu Purna Paskibraka tidak hanya melulu mengabdi sebagai tentara, polisi, atau ASN. Banyak jalan menuju Jakarta, eh Nusantara. Misalnya, menjadi influencer, swasta, kreator konten, inovator teknologi tepat guna, ilmuwan, hingga pegiat sosial dan start-up ekonomi kreatif. Tapi ingat, apa saja pilihan profesi, kudu tetap cinta Tanah Air. Kalau tidak ya, bagai mendirikan bangunan di atas pasir. Generasi penerus yang tidak mengenal filosofi bangsa, sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur akan mudah kehilangan arah. Niscaya terombang-ambing oleh budaya minor asing seperti rasisme, hedonisme, chauvinisme, xenovilia sempit, serta kebablasan memaknai kosmopolitan.

Identitas Anak Muda

Anak-anak muda sedang disibukkan berbagai varian teknologi dan informasi. Wajar tapi miris, mereka jadi kerap abai, atau malah tak tahu apa itu bangsa dan Pancasila. Di sinilah peran vital nasionalisme, untuk menggugah rasa telah terlahir dan hidup di Indonesia tercinta ini. Agar tak menjadi slogan kosong, nasionalismenya juga jangan jadul atau ala bapak-emak. Biarkan anak muda kita hidup di dunianya, aktif dan produktif, yang dibekali identitas kebangsaan. 

Adsense

Semua itu kuncinya ada pada pendidikan dini. Tidak hanya fokus pada nilai rapor, tapi juga nilai-nilai kebangsaan. Nasionalisme juga harus hadir di ruang digital melalui konten kreatif, kampanye media sosial, serta segala kegiatan yang membanggakan Ibu Pertiwi. Ketika rasa nasionalisme telah kuat tertanam, generasi muda tidak hanya menjadi konsumen budaya, tapi juga menjadi produsen karya negeri ke dunia internasional. Mereka tidak hanya eksis sebagai individu, tapi juga sebagai warga negara yang sadar akan tanggung jawab dalam membangun bangsa berdasarkan ideologi Pancasila.

Baca juga : Pasangan Pengantin Naik Mobil Jenazah

Dukung Asta Cita

Misi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sungguh mulia. Khususnya Cita pertama dan keempat, yang menggambarkan bagaimana generasi muda juga diposisikan sebagai subyek dan obyek prioritas dalam upaya pencapaian Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas. Implementasinya melalui upaya memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi dan HAM, serta pembangunan sumber daya generasi muda secara simultan, terencana dan komprehensif. 

Salah satu langkah strategis untuk mewujudkan delapan Asta Cita adalah Program Paskibraka. Suatu program penanaman karakter luhur Pancasila, termasuk di dalamnya semangat nasionalisme dan moral etika kepada seiap bibit unggul bangsa. 

Mengutip filsuf stoisisme Tullius Cicero, patria est communis omnium parens bahwa Tanah Air adalah inang bersama setiap anak bangsa. Demikian pula kolektifitas semangat cinta tanah iir kita. Indonesia yang kaya dan subur adalah tanah kita, kesetiaan padanya dapat diwujudkan dengan menjalankan hak dan kewajiban waga negara secara bertanggung jawab. 

Baca juga : Taman Jargas Jadi Magnet Masyarakat Bintaro Berlangganan Dan Kenal Gas Bumi

Rasa kesetiaan, kebanggaan dan memiliki akan lebih mudah dibangun lewat ruang partisipasi terbuka bagi setiap bibit unggul bangsa. Nasionalisme dan eksistensi diri anak muda, sejatinya saling menguatkan. Semua itu sudah ada wadahnya, Paskibraka. 

 

*Penulis adalah Analis Madya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Alumnus Pembina Paskibraka 2016.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense