Dark/Light Mode

ICWA Bahas Peran Strategis Indonesia Di Pasifik: Ekonomi Hingga Pembangunan

Selasa, 22 April 2025 11:37 WIB
Dewan Indonesia mengenai Masalah Antarbangsa (ICWA) mengadakan diskusi dengan fokus pada kawasan Pasifik, di Jakarta, Senin (21/4/2025). (Foto ICWA)
Dewan Indonesia mengenai Masalah Antarbangsa (ICWA) mengadakan diskusi dengan fokus pada kawasan Pasifik, di Jakarta, Senin (21/4/2025). (Foto ICWA)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dewan Indonesia mengenai Masalah Antarbangsa (Indonesian Council on World Affairs/ICWA) mengadakan diskusi dengan fokus pada kawasan Pasifik, di Jakarta, Senin (21/4/2025).

Acara tersebut dibuka Ketua Dewan Pimpinan ICWA, Duta Besar T.M. Hamzah Thayeb, yang menyoroti pentingnya keterlibatan Indonesia di kawasan ini. Hamzah menyampaikan apresiasi atas kehadiran tokoh-tokoh penting, termasuk mantan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, para duta besar senior, serta pemerhati isu internasional.

 Mantan Dubes RI untuk Inggris itu menekankan bahwa ICWA memiliki peran krusial dalam meningkatkan kesadaran akan isu global yang turut menjadi tanggung jawab Indonesia.

Indonesia dan Kawasan Pasifik: Hubungan yang Makin Strategis

Dalam diskusi yang dipandu Wakil Badan Eksekutif ICWA, Dubes Soehardjono Sastromihardjo, para peserta menyepakati bahwa Indonesia perlu lebih aktif dalam menjalin hubungan dengan negara-negara Pasifik.

Duta Besar Tantowi Yahya, yang sebelumnya menjabat sebagai Dubes RI di Selandia Baru dan kini bertindak sebagai Roving Ambassador untuk Pasifik, menegaskan pentingnya peningkatan diplomasi Indonesia di kawasan.

"Indonesia dapat menjadi penghubung antara Pasifik dan ASEAN serta memperluas pengaruhnya dalam kerja sama multilateral," ujar Tantowi.

Pemerintah Indonesia juga telah menginisiasi berbagai program budaya, termasuk festival Melanesian Indonesia (Melindo), yang mencerminkan populasi Melanesia di Indonesia yang mencapai 11 juta jiwa.

Peran Strategis Fiji dan Indonesia dalam Kawasan

Baca juga : Indonesia Dorong Prinsip Dagang Adil & Seimbang

Dubes Dupito Simamora, Kepala Perwakilan RI di Suva, mengungkapkan bahwa baik Indonesia maupun Fiji memiliki peran kunci di masing-masing kawasan.

"Jakarta adalah basis ASEAN, sedangkan Suva adalah markas Pacific Island Forum. Kehadiran Indonesia di Fiji tidak hanya penting secara bilateral tetapi juga untuk kerja sama regional," tuturnya.

Menurut Simamora, Fiji memiliki konektivitas yang baik dengan berbagai negara, termasuk penerbangan langsung ke Amerika Serikat dan Singapura. Namun, konektivitas ke Indonesia masih terbatas, dan ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan interaksi ekonomi dan diplomasi.

 Dampak Ekonomi dan Perdagangan Indonesia-Pasifik

Dubes Benyamin Carnadi yang menjabat sebagai Kepala Perwakilan RI di Fiji pada 2018-2019 menyoroti bahwa meskipun barang-barang Indonesia banyak beredar di Pasifik, sebagian besar masih masuk melalui Singapura. Ia menyebut bahwa perdagangan Indonesia dengan Fiji pada 2017 mencapai 22 juta dolar AS, dengan surplus hampir 20 juta dolar.

"Potensi perdagangan langsung harus dikembangkan agar Indonesia lebih terintegrasi dalam pasar Pasifik," harap Carnadi.

Kontribusi Indonesia dalam Pembangunan Pasifik

Direktur Pasifik dan Oseania Kementerian Luar Negeri, Adi Dzulfuad, menekankan komitmen Indonesia dalam mendukung kesejahteraan di Pasifik.

"Indonesia merupakan bagian dari keluarga besar Pasifik. Oleh karena itu, Indonesia ingin berkontribusi di kawasan Pasifik guna menunjang pembangunan fisik," terangnya.

Baca juga : Hari Kartini, Pengingat Perjuangan dan Kontribusi Perempuan dalam Pembangunan

Dtambahkan pula bahwa Indonesia hadir di negara-negara kawasan Pasifik dengan program kemitraan pembangunan seperti pemberian dana hibah dan proyek pembangunan.

Indonesia pernah membangun stadion di negara Salomon Island, pembangunan fasilitas publik seperti pemadam kebakaran di Vanimo PNG, serta renovasi sekolah di Wutung PNG.

Dia berharap dengan kerja sama ini maka persepsi masyarakat di kawasan Pasifik tentang Indonesia semakin baik dan positif.

Sebagai informasi, pada 2019, Indonesia meluncurkan Indonesian Aid yang kemudian dikelola Lembaga Dana Pembangunan Kerja Sama Internasional (LDPKI) sebagai upaya mendukung diplomasi pembangunan sebagai negara kekuatan menengah. Namun, kemampuan finansial yang dimiliki Pemerintah Indonesia masih terbatas pada perannya sebagai alternatif donor di kawasan Pasifik.

Selain itu, forum diplomatik tertinggi antara Indonesia dan negara-negara Pasifik masih terbatas pada pertemuan tingkat menteri dan parlemen, seperti Indonesia-Pacific Forum for Development (IPFD) dan Indonesia-Pacific Parliamentary Partnership (IPPP), bukan pertemuan antarkepala pemerintahan seperti dilakukan sejumlah negara donor lain yang juga pendatang baru di Pasifik, seperti India, Korea Selatan, dan Jepang.

Pada 2022, Kemenlu membentuk Direktorat Pasifik dan Oseania. Pada 2024, Kemenlu memperluas cakupan pelatihan diplomatik dengan melibatkan negara-negara Pasifik, seperti Fiji, Vanuatu, Papua Niugini, Kepulauan Solomon, dan sekretariat MSG.

Indonesia juga menyediakan beasiswa bagi komunitas Pasifik di beberapa universitas di Indonesia dengan fokus pada kebutuhan dan tantangan eksistensial di kawasan kepulauan Pasifik. 

Baca juga : Nego Tarif Impor, Indonesia Tambah Pembelian Energi Hingga Gandum Dari AS

Sebagai kesimpulan Dubes Soehardjono Sastromihardjo menyatakan bahwa diskusi di Kemlu tersebut merupakan sebuah konsolidasi tentang pentingnya pandangan Indonesia tentang Pasifik dari berbagai sisi.

Peluang Ekonomi di Pasifik

Dari segi ekonomi Indonesia dapat mengirimkan ekspor produk pertaniannya. Wilayah Pasifik menghadapi isu yang kritical yaitu perubahan iklim yang memberikan dampak besar bagi lingkungan.

Dalam skala multilateral negara-negara Pasifik memiliki persamaan posisi dengan negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Isu lain yang diperkirakan dapat memberikan hubungan lebih dekat adalah pengalaman Indonesia menghadapi dan menanggulangi masalah narkoba dan pemberantasan HIV.

Kesempatan untuk membahas isu Pasifik di Kemlu tersebut merupakan suatu hal yang diharapkan, mengingat Perdana Menteri Fiji Sitiveni Rabuka akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Presiden RI Prabowo Subianto dan telah dijadwalkan untuk berbicara di dalam forum ICWA pekan ini.

Sebagai prominent leader di negara-negara kepulauan Pasifik, PM Rabuka diharapkan dapat menyampaikan visi strategisnya bahwa Blue Pacific region sebagai ”Ocean of Peace”.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.