RM.id Rakyat Merdeka - Wilayah udara bukan ruang kosong, melainkan bagian dari kedaulatan bangsa yang tak bisa ditawar. Pesan itulah yang ditegaskan Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia, Marsekal (Purn) Chappy Hakim saat memberikan paparan kepada para Duta Besar (Dubes) Indonesia dalam Forum Duta Besar Republik Indonesia (FDBRI), Selasa (2/7/2025).
Chappy, mantan Kepala Staf TNI AU (2002–2005), kini dikenal sebagai pengamat dirgantara. Dia tak henti mengedukasi publik soal pentingnya penguasaan ruang udara, apalagi di tengah dinamika geopolitik yang makin kompleks, seperti konflik Iran-Israel yang memanas di Timur Tengah.
Mengawali pemaparannya, Chappy mengutip adagium Romawi kuno: Cujus est solum, eius est usque ad coelum et ad inferos. "Siapa yang memiliki tanah, maka ia juga memiliki udara di atasnya."
Menurutnya, konsep ini bukan sekadar teori hukum, melainkan refleksi strategis yang mendalam—wilayah udara adalah domain yang menyangkut keselamatan rakyat dan pertahanan negara.
Dari sini, terlihat jelas bahwa sejak teknologi penerbangan masih sebatas balon udara pun, otoritas negara telah menunjukkan sikap tegas bahwa udara bukanlah ruang bebas.
Baca juga : Dua Hari Lokakarya, Australia-Indonesia Bidik Potensi Kerja Sama Biosekuriti
”Udara adalah wilayah yang harus dikendalikan demi kepentingan nasional,” kata Chappy Hakim.
Dari Pearl Harbor ke AI: Evolusi Pertahanan Udara
Menurut Chappy Hakim, salah satu studi kasus paling dramatis yang menggambarkan pentingnya wilayah udara adalah peristiwa serangan mendadak Jepang ke pangkalan Angkatan Laut AS di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941.
Serangan tersebut tidak hanya menenggelamkan armada kapal perang AS, tetapi juga menenggelamkan cara berpikir para pemikir militer AS tentang perang. Saat itu AS terlalu percaya diri bahwa ancaman tidak akan datang dari luar, apalagi melalui udara.
”Ketiadaan sistem perlindungan udara di Hawaii adalah kesalahan fatal yang membuka mata militer AS,” ujar Chappy Hakim.
Baca juga : Lembong Makan Gula Rafinasi Di Ruang Sidang
Dari sinilah lahir konsep-konsep strategis baru: pembentukan Air Defense Identification Zone (ADIZ) di luar batas wilayah teritorial, pembangunan sistem peringatan dini (Early Warning System), dan sistem identifikasi kawan atau lawan (Identification Friend or Foe / IFF).
Ketiga sistem tersebut kelak menjadi elemen utama dalam doktrin pertahanan udara modern.
Chappy melanjutkan, memasuki abad ke-21, teknologi mengubah wajah peperangan. Jet tempur generasi kelima, rudal hipersonik, drone otonom, radar berbasis Artificial Intelligence (AI), hingga perang siber jadi bagian dari konflik udara—dari Kashmir hingga Timur Tengah, serta Israel dan Iran yang kini mengandalkan sistem seperti Iron Dome dan Bavar-373, untuk menjaga langit masing-masing.
Tak hanya itu, dunia tengah memasuki domain kelima dalam konflik modern: cyber world. Peran Artificial Intelligence dalam pengambilan keputusan militer makin vital.
Chappy menegaskan: “Medan pertempuran udara kini tak kasat mata, multidimensi, dan bergerak dalam hitungan detik.”
Indonesia Tak Boleh Lengah
Baca juga : Dubes Finlandia Jukka-Pekka Ceritakan Kisah Pedih Ibunda Di Era Perang
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia wajib membangun sistem pertahanan udara terintegrasi—bukan hanya teknologi, tapi juga doktrin, SDM, dan kecerdasan buatan.
“Siapa menguasai udara dan ruang siber, dia menjaga masa depan bangsanya,” tegas Chappy.
Dia juga mengingatkan bahwa pendelegasian wilayah udara kepada pihak asing melanggar Pasal 458 UU No. 1 Tahun 2009 dan bertentangan dengan Konvensi Chicago 1944. Kedaulatan udara Indonesia harus utuh, tidak terbagi, apalagi diserahkan.
Sebagai penutup, Chappy membagikan buku karyanya kepada seluruh peserta diskusi. Buku bertajuk Menjaga Ibu Pertiwi & Bapak Angkasa itu menjadi simbol komitmennya untuk terus menjaga kesadaran strategis akan pentingnya dirgantara Indonesia.
Sebelumnya, Ketua FDBRI Dubes Prof. Makarim Wibisono menyampaikan membuka forum yang bertema Wilayah Udara Bernilai Strategi. Pada kesempatan itu, Makarim menyampaikan apresiasi atas upaya Chappy Hakim terus membagikan pengetahuan dan analisanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.