Dark/Light Mode

Dubes Finlandia Jukka-Pekka Ceritakan Kisah Pedih Ibunda Di Era Perang

Rabu, 2 Juli 2025 06:52 WIB
Duta Besar Finlandia untuk Indonesia Jukka-Pekka
Kaihilahti dalam penutupan seminar Martti Ahtisaari Legacy, di Sekretariat Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Jakarta, Senin (30/6/2025). (Foto FPCI)
Duta Besar Finlandia untuk Indonesia Jukka-Pekka Kaihilahti dalam penutupan seminar Martti Ahtisaari Legacy, di Sekretariat Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Jakarta, Senin (30/6/2025). (Foto FPCI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Warga Finlandia tahu betul betapa menderitanya hidup aki­bat perang. Puluhan konflik, isolasi berabad-abad, sampai perang melawan Uni Soviet, membuat negara Nordik itu menetapkan perdamaian sebagai harga mati.

Duta Besar (Dubes) Finlandia untuk Indonesia Jukka-Pekka Kaihilahti mengingatkan, perang sekecil apapun tetap menelan korban.

“Nggak ada yang baik dari konflik, apalagi perang. Kami tahu rasanya, dan karena itu, kami berdiri teguh memperjuangkan perdamaian,” ujar Kaihilahti dalam penutupan seminar Martti Ahtisaari Legacy, di Sekretariat Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Jakarta, Senin (30/6/2025).

Cerita getir dampak perang juga datang dari rumahnya. Dia mengisahkan kepahitan era Perang Dingin yang dirasakan ibunya. Menurutnya, sang ibu mengalami trauma hingga saat ini.

Baca juga : Dubes Inggris Dominic Jermey Meriahkan Ultah Raja Dengan Band Angkatan Laut

“Ibu saya, 80 tahun lalu, menyaksikan sendiri horor perang Finlandia dan Uni Soviet. Sampai sekarang, kalau mendengar suara keras, dia spontan menutup telinga ketakutan,” ungkap diplomat karier yang pernah ngepos di Meksiko, Brazil, dan China itu.

Di zaman modern ini, lanjut Kaihilahti, tidak ada alasan masih meyakini perang jadi solusi.

“Finlandia siap bekerja sama dengan siapa pun yang punya semangat damai, termasuk Indonesia,” imbuh Dubes yang resmi bertugas di Indonesia pada 13 September 2022.

Dia memuji Indonesia yang memiliki semangat besar dalam memperjuangkan perdamaian dunia. Indonesia, sambungnya, juga tidak pernah kehabisan sosok yang memperjuangkan perdamaian.

Baca juga : Seribu Bayang Purnama, Film Edukatif Soal Derita Dan Harapan Para Petani

Dia mengapresiasi kiprah tokoh perdamaian Indonesia, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Indonesia Jusuf Kalla (JK). “Beliau bukan nama baru. Sudah malang melintang jadi juru damai, baik di dalam maupun luar negeri,” tuturnya.

JK yang hadir sebagai pembicara dalam seminar, yang bertajuk The Future of Peace Mediation, mengatakan, semua konflik bisa kelar asal mau duduk bareng. “Nggak usah ngotot perang. Dialog aja,” katanya.

Menurut JK, dunia saat ini se­dang dikepung konflik. Mulai dari Myanmar, Sudan, Palestina, Ukraina, sampai Iran. “Tapi seperti kata Pak Martti Ahtisaari, semua bisa diselesaikan asal ada niat baik dan mediator yang tepat,” lanjut JK.

“Kata kuncinya, kepercayaan, rasa hormat, dan jangan bikin yang satu merasa kalah, sementara yang lain merasa menang,” jelas JK.

Baca juga : Dubes India Sandeep Chakravorty Rayakan Hari Yoga Bersama 150 Peserta

Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia sekaligus penerima Nobel Perdamaian 2008, dikenal dunia sebagai juru damai andal. Kiprahnya dari Namibia, Kosovo, sampai Aceh, jadi bukti bahwa dialog tetap jalan terbaik, meski butuh jalan panjang.  

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.