RM.id Rakyat Merdeka - Peringatan Hari Anak Nasional selayaknya menjadi pengingat bagi semua bahwa anak-anak sebagai generasi penerus bangsa belum seutuhnya bebas dari ancaman intoleransi dan radikalisme. Pemahaman akan pentingnya kebhinekaan harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak untuk melindungi mereka dari pemikiran yang segregatif.
Pemerhati anak dan keluarga Maharani Ardi Putri menjelaskan, lembaga pendidikan menjadi incaran kelompok intoleran. Mereka merasa lembaga pendidikan lebih efektif untuk menanamkan pemahaman tertentu sejak usia dini, karena kemampuan berpikir kritis anak masih belum berkembang secara sempurna.
"Kondisi ini memperlihatkan bahwa jika tidak diawasi, guru atau aktivitas ekstrakurikuler dapat berpotensi menyebarkan paham diskriminatif. Oleh karena itu, sistem pengawasan internal dan evaluasi kurikulum secara berkala harus diterapkan,” jelas Maharani.
Baca juga : Perbandingan Harga Solana dan Stablecoin, Lebih Baik Mana untuk Investasi?
Selain sekolah, Maharani menekankan bahwa pendidikan utama anak justru dimulai di lingkungan keluarga. Orang tua harus aktif memantau dan memvalidasi apa yang dipelajari anak di sekolah. Dia menyarankan agar orang tua mengajak anak berdialog tentang materi pelajaran, bukan sekadar menerima begitu saja pembelajaran dari sekolah.
Dalam pendidikan anak, sekolah memang sebagai mitra bagi orang tua. Tetapi tanggung jawab utama pembentukan anak tetap di tangan orang tua. Bila ditemukan materi yang meragukan, orang tua perlu berkomunikasi langsung dengan pihak sekolah untuk klarifikasi.
Maharani juga menekankan pembentukan kemampuan berpikir kritis pada anak sebagai benteng ampuh melawan hoaks dan paham ekstrem. Daripada hanya menanamkan dogma, pendidik harus mengajarkan anak untuk bertanya, menganalisis, dan mengkritik.
Baca juga : Kenang Jasa Pendiri, BNI Ziarah Dan Tabur Bunga Di Makam Margono Djojohadikusumo
“Sebagai orang tua yang bertanggung jawab bagi anaknya, dialog yang sehat akan lebih efektif dalam membentengi anak dari pemikiran intoleransi, ketimbang orang tua hanya melarang secara sepihak saja,” imbuh Maharani.
Dia juga bicara soal kemudahan penyebaran intoleransi dan radikalisme melalui media sosial. Ekosistem pendidikan, sekolah, dan keluarga, harus bersinergi untuk menghadapi tantangan ini.
Sekolah menyediakan kerangka nilai dan literasi kritis, sedangkan keluarga memberikan teladan nyata dalam kehidupan sehari‑hari. Dengan demikian, anak mendapatkan dua lapis perlindungan, yaitu materi pembelajaran yang moderat serta suasana rumah yang menghargai keberagaman.
Baca juga : Perdana, Umat Hindu Gunungkidul Hadirkan Sekolah Dasar Formal di Yogyakarta
Dosen di Fakultas Psikologi, Universitas Pancasila, Jakarta Selatan, ini pun mengingatkan kembali bahwa intoleransi, radikalisme, dan terorisme tumbuh subur jika ruang dialog dan pengawasan bersama terhadap anak lemah.
“Melalui seleksi guru yang bertanggung jawab, pengawasan kurikulum, pendampingan orang tua, dan pembiasaan berpikir kritis, paham-paham berbahaya dapat dicegah sejak dini. Pendidikan, baik formal maupun informal, harus direvitalisasi sebagai pilar persatuan yang kokoh di tengah pluralitas Indonesia,” pungkas Maharani.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.