BREAKING NEWS
 

Fesyen Ulama Modernis Mengguncang Sumatra Westkust

Writer : Fikrul Hanif Sufyan
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 12 Agustus 2025 22:31 WIB
Dari kiri ke kanan: Zainuddin Labay el-Yunusi, Haji Rasul, Syekh Thaher Djalaluddin, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Haji Abdullah Ahmad, dan Abdul Madjid Karim Sidi Sutan. (Sumber: Fikrul Hanif, 2021)

Kenaikan Grafik Haji 

Pasca padamnya perlawanan di Sumatra Barat dan Jawa, pemerintah Kolonial Belanda tetap mencurigai motif-motif perjalanan haji. Tahun 1859 serangkaian peraturan diumumkan di wilayah jajahan, dan berlaku sampai akhir abad ke-19. Menurut William R. Roff, alasan Belanda melakukan larangan untuk muslim berangkat haji  tidak jelas. Tapi  tentu saja berkaitan dengan kekhawatiran atas simbol-simbol prestisius, khususnya gelar haji dan busana Arab yang dikaitkan dengannya (Roff, 2008).

Pemerintah Kolonial Belanda yang masih fobia pasca melawan pasukan Padri—berusaha mencari alasan lain untuk mengurangi jumlah jemaah haji – terutama di Sumatra Westkust. Mereka diwajibkan memiliki sarana untuk menyelesaikan ibadah haji selama di Tanah Haram, dan meninggalkan biaya untuk keluarganya. 

Tidak sebatas itu, ketika kembali ke tanah air, para haji wajib mengikuti pemeriksaan—guna menyelidiki apa saja yang dilakukan mereka selama di Mekah, dan tempat lainnya. Dan, bila lulus ujian, mereka menerima sertifikat yang mengizinkan untuk berjubah, memakai serban, bahkan bercelana cingkrang.

Aturan-aturan ketat yang ditetapkan pemerintah Kolonial Belanda, rupanya tidak menyurutkan langkah calon jemaah haji. Ada kalanya antara tahun 1853 sampai 1896 terjadi kenaikan jumlah haji, pada saat lain menurun drastis karena mewabahnya kolera. Sejak 1853 tercatat 1.100 jamaah haji, lima tahun kemudian menjadi meningkat menjadi 3900 orang (1858). Namun tahun 1865 terjadi penurunan jumlah haji yang hanya mencapai 1901 orang. 

Baca juga : RRI Bandung Persembahkan Drama Radio Berjudul Menjemput Suara Merdeka

Kenaikan grafik jemaah dari tahun ke tahun, menurut Noer (1997) telah memicu sentimen Belanda selama bermukim di Arab. Setiap berkumpul, para jemaah haji selalu membicarakan heroiknya perlawanan dan kekalahan Kompeni di daerah mereka. Seluruh kisah ini direkam dalam laporan spionase Kompeni 

Ada hal yang menarik, dari grafik kenaikan luar biasa jemaah haji tahun 1896. Sebelumnya jumlah jemaah haji hanya berkisar 900 orang (1884), kemudian naik tajam menjadi 11.909 orang di tahun 1896. Kenaikan luar biasa ditopang realitas Mekah sebagai sentra Islam, turut menjadi magnet kuat berduyun-duyunnya calon haji.

Di Sumatera Wstkust sendiri, tokoh-tokoh Naqsyabandiyah mengirim putranya, untuk mendalami Islam di Mekah karena faktor Syekh Ahmad Khatib bermazhab Syafii. Sehingga dari murid-murid Ahmad Khatib, ketika kembali ke Sumatera Barat menandai dirinya dalam identitas Kaum Muda, Kaum Tua, dan Kuminih. 

Murid-murid Syekh Ahmad Khatib yang awal, mempropagandakan gaya busana ala Eropa dan Turki adalah Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Haji Abdullah Ahmad. Jenis busana yang mereka pakai, terkadam beragam. Terkadang memakai jas kerah tinggi dipadu kain sarung atau pantalon. Dan ada kalanya mereka bergaya ala Turki, seperti halnya Sultan Mehmed VI dan Mustafa Kemal Pasha dengan tarbusnya. 

Kelompok Islam modernis yang bermukim di Sumatera Westkust berupaya menunjukkan identitasnya, bahwa mereka berbeda dengan ulama tradisional yang masih berjubah dan memelihara jenggot. Pengungkapan identitas modernis Kaum Muda di Sumatera Barat, bisa dilihat dari stelan jas, pantalon, tarbus, dan lainnya. Selain itu busana mereka, juga dilengkapi dengan kacamata, dasi, rantai arloji, dan tongkat.

Baca juga : Kwarnas Pramuka Mesti Serius Membayar Tunggakan Iuran Keanggotaan WOSM

Wabah modernisasi yang melanda Sumatera Barat tentu mudah dipahami. Watak orang Minang yang terbentuk dalam mamangan sakali Ombak Gadang, sakali tapian beralih–dipahami sebagai keterbukaan orang Minang terhadap perubahan-perubahan yang datang dari Rantau kemudian memengaruhi  Darek yang senantiasa dinamis. Di samping itu, pada awal abad ke-20 penduduk Sumatera Westkust memang tidak terlalu padat (Khan, 1993: 229), sehingga proses transformasi budaya berlangsung cepat. Untuk diketahui, pada tahun 1905 jumlah penduduk di Padang Panjang sekitar 54,989 jiwa, dengan rincian laki-laki 27,842 orang dan perempuan 27,147 orang.

Gejala modernisasi busana di Sumatera Barat sudah tampak dari modisnya kalangan nasionalis, mulai dari A. Rivai, Moh. Hatta, Sjahrir menolak berpenampilan tradisional. Mrazek melihat kenecisan tokoh-tokoh pergerakan bergerak cepat, melewati batas-batas norma, dan memicu gejolak di tengah masyarakat. Sementara tokoh Islam modernis turut mengadopsi aturan berbusana, dalam konteks perubahan hidup mereka. Van Dijk menyebut gejala ini menjadi isu integral dan mengundang perdebatan dimana-mana (Mrazek, 1994; Schulte Nordholt, 2002: 24).   

Haji Rasul dan Haji Abdullah Ahmad Berkumis Tebal

Haji Abdul Karim Amrullah, atau yang kerap dipanggil Haji Rasul merupakan murid terbaik Syekh Ahmad Khatib—pernah diamanahi untuk mengajar di Mekah, ketika kali kedua kunjungannya di Tanah Haram. Haji Rasul memang berlainan karakternya dengan murid Syekh Ahmad Khatib lainnya, sebut saja K.H. Ahmad Dahlan, Syekh Thaher Djalaluddin, Syekh Ibrahim Musa Parabek, dan Haji Abdullah Ahmad. 

Kaum Muda menandai dirinya dengan identitas baru—terutama dalam berbusana, dan tentu saja  berbeda dengan pakaian para haji. Berkenaan dengan identitas berbeda yang ditampilkan kalangan Kaum Tua dan Kaum Muda, erat hubungannya dengan hibriditas. 

Hibriditas di lingkungan Hindia Belanda dapat berfungsi sebagai sarana untuk mendefinisikan medan baru yang bebas dari rezim, maupun identitas-identitas nasionalis bayangan yang harus menggantikannya. Dan penekanan ini tampak dari kelompok Islam modernis yang digawangi Haji Rasul cs. Jejak-jejak penampilan mereka diidentifikasi diri dengan sarung, serban,pantalon, jas, baju kerah tinggi, ataupun berkopiah (peci) beludru.  

Dari fenomena Kaum Muda berbusana, ulama Kaum Tua juga punya argumentasi sendiri. Mereka merujuk fatwa Jusuf Nabhani—bahwa memuji dan berpakaian orang kafir, sama saja dengan kafir. Ribut-ribut atribut Kaum Muda itu, berujung meresahkan. Sampai-sampai seorang pembaca al-Munir bertanya tentang tasyabbuh

Baca juga : Wamenkop Usulkan Kopdes Merah Putih Dorong Sektor Strategis

Dan Haji Rasul menjelaskannya dengan gamblang. Seseorang dituduh tasyabbuh—menurut Haji Rasul bila memakai tanda-tanda keagamaan, seperti tanda salib, dan lain sebagainya (Al-Munir tanggal 17 Januari 1915). Sedangkan cepiau dan berdasi—lanjut Rasul, tidak termasuk tasyabbuh, karena ia merupakan produk budaya manusia, bukan simbol keagamaan. 

Haji Rasul juga menyayangkan fatwa gegabah Kaum Tua, bahwa orang yang berpakaian ala Eropa dan Turki langsung dituduh kafir dan telah merusak imannya. Dan juga tidak masuk akal, sambung Haji Rasul, apabila persoalan pakaian itu dianggap melanggar adat istiadat, karena tidak satu pun dalam aturan adat Minang yang melarang memakai pakaian di luar adat dan tidak disebutkan sanksi apa yang harus diterima si pemakai busana. 

Dalam Qati’ Riqb al-Mulhidin fi ‘Aqaid al-Mufsidin, Haji Abdul Karim Amrullah menegaskan, tuduhan-tuduhan jahat yang dialamatkan kepada Kaum Muda, ratusan juta orang Turki, Arab, Mesir, dan Suriah merupakan bentuk kebencian dan tidak beralasan. Ia pun merujuk pada riwayat Bukhari, bahwa Nabi Muhammad pernah memakai jubah dari bangsa Roma (Al-Munir tanggal 17 Januari 1915).

Fatwa Haji Rasul membela cepiau  dan pantalon dalam al-Munir, rupanya tidak meredakan ketegangan. Bukannya respon negatif yang diterimanya dari kalangan masyarakat, malah jas, pantalon, dasi, cepiau, dan topi Panama segera mewabah di Sumatera Westkust (Hamka, 1958: 85-86). Busana modern ala Eropa oleh sebagian masyarakat, dianggap lebih maju, bernilai estetika, teknologi, dan menunjukkan identitas sosial. Dalam perspektif Haji Rasul, busana jenis ini boleh dipakai ketika bekerja, berceramah, dan acara-acara resmi lainnya.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense