RM.id Rakyat Merdeka - Nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tapi juga panduan moral dan etika dalam membangun bangsa. Praktik baik nilai Pancasila tercermin dalam ekonomi keluarga, koperasi sebagai wadah kolektif yang menguatkan solidaritas sosial, dan kontribusinya terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Pancasila adalah ideologi yang hidup. Ia bukan sekadar teks dalam Pembukaan UUD 1945, melainkan jalan hidup bangsa. Di tengah dinamika modernisasi, globalisasi, dan transformasi digital, Pancasila tetap relevan. Bahkan, implementasi nilai-nilainya semakin dibutuhkan sebagai penyeimbang antara pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.
Mantra Hidup Benar
Sejak lahirnya bangsa Indonesia, Pancasila bukan hanya dasar negara, melainkan juga panduan moral dan filsafat hidup. Dalam tradisi Jawa, dikenal pepatah 'sangkan paran dumadi'-sebuah refleksi tentang asal-usul manusia, tujuan hidup, dan cara mencapainya.
Sebagai 'Mantra Hidup Benar', Pancasila menuntun bangsa Indonesia dalam tiga dimensi: (1) Niat-Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai fondasi utama, (2) Cara- menjunjung kemanusiaan, menjaga persatuan, mengedepankan musyawarah, (3) Hasil-Keadilan Sosial dan kebahagiaan bersama. Bung Karno menegaskan: Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia yang turun-temurun bersemayam dalam sanubari rakyat Indonesia.
Gotong Royong Ekonomi
Baca juga : Proyek Biomethane PGN Dukung Green Data Center Singapura
Koperasi adalah bentuk kelembagaan ekonomi paling sesuai dengan Pancasila. Bung Hatta menyebutnya sebagai 'soko guru perekonomian Indonesia.' Prinsip koperasi mencerminkan sila ke-5: 'Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.' Koperasi menghimpun modal bersama, memperkuat daya tawar anggota, membuka akses pasar, dan memperluas peluang usaha.
Menurut Kemenkop (2022), koperasi sehat mampu meningkatkan pendapatan anggota hingga 40 persen. Praktik baik: koperasi digital di Yogyakarta yang menopang pedagang angkringan perempuan dengan sistem modal bergulir.
Ekonomi Kuat Berbasis Pancasila
Ekonomi kuat adalah ekonomi yang tidak tercerabut dari akar bangsa. Gunawan Sumodiningrat (1999) menyebutnya 'ekonomi pasar terkendali moral.' Artinya, pasar tetap berfungsi, tetapi dikendalikan oleh moral bangsa: Pancasila.
Kekuatan ekonomi nasional terletak pada tiga hal: perempuan (motor UMKM), koperasi (wadah solidaritas sosial), dan negara (regulator). Ketahanan nasional berawal dari rumah tangga. Contoh praktik baik: desa wisata kuliner di Bali yang dikelola perempuan berbasis koperasi, desa digital di Jawa Tengah yang mengelola platform pertanian online.
Solusi Penguatan BPIP
Baca juga : Mega Perintahkan Kader Banteng Dukung Pemerintah, Gerindra Senang
Negara ini sudah memiliki Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), sebagai penerus BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dan UKP-PIP (Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila). Lembaga tersebut sedang didorong untuk diperkuat kewenangannya dalam pembahasan RUU BPIP oleh Badan Legislasi DPR (Baleg).
Agar praktik baik nilai Pancasila tidak berhenti pada konsep, diperlukan lembaga yang mendidik, melatih, dan mendampingi kader bangsa dari desa hingga nasional.
Solusi strategis adalah menjadikan BPIP sebagai Center of Excellence. Penggerak ideologi Pancasila dari konsep ke implementasi, pelatihan dan pendampingan kader pembangunan, percontohan Desa Pancasila, dan pengawal Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Lima program prioritas Presiden perlu didukung implementasinya. Yaitu Makan Bergizi Gratis, Cek Kesehatan Gratis, Program 3 Juta Rumah, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Baca juga : Bupati PPU Minta Dukungan Pusat untuk Perkuat Peran sebagai Penyangga IKN
Katakanlah jika kewenangan sudah diperkuat, BPIP bisa memandu sinergi instansi lintas sektor agar senantiasa berjalan sesuai wawasan kebangsaan Pancasila sebagai jatidiri bangsa. Sinergi antara Kementerian Desa, Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Dalam Negeri, Badan Gizi Nasional serta pentahelix.
Bung Hatta pernah berkata, 'Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tapi karena lilin-lilin kecil di desa.' Kini lilin-lilin itu dijaga oleh warga desa, diperkuat oleh koperasi, dan diarahkan oleh Pancasila.
Ajakan praktisnya melalui bekerja, meraih untung, menabung, menghidupi diri, keluarga, komunitas, bangsa. Dengan BPIP sebagai Center of Excellence, Pancasila tidak lagi berhenti sebagai wacana, tapi hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari.
*Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Sekolah Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM.Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.