BREAKING NEWS
 

Pemilih Didominasi Milenial Dan Gen Z

Wakil Rakyat Di Senayan Mayoritas Diisi Orang Tua

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : ABDUL SHOMAD
Jumat, 3 Oktober 2025 06:40 WIB
Mayoritas anggota DPR lebih banyak diisi orang tua, ketimbang anak muda. (Foto: Tedy Kroen/Rakyat Merdeka/rm.id)

 Sebelumnya 
Untuk diketahui, menilik data Komisi Pemilihan Umum (KPU), ditinjau dari kelompok umur anggota DPR 2024-2029, dari total 580 anggota DPR, mayoritas berasal dari rentang usia 51–60 tahun dengan 212 orang atau 36,55 persen. 

Di posisi berikutnya, ada kelompok usia 41–50 tahun yang berjumlah 156 orang atau 26,9 persen. Di bawahnya, terdapat kelompok usia 61–70 tahun dengan 93 orang atau 16,03 persen, sementara kelompok usia 30–40 tahun mencapai 74 orang atau 12,76 persen. 

Anggota DPR di bawah usia 30 tahun menjadi yang paling sedikit dengan hanya 21 orang atau 3,62 persen. Tepat di atasnya, terdapat kelompok usia di atas 70 tahun dengan jumlah 24 orang atau 4,14 persen. 

Baca juga : Merger Garuda-Pelita Air Bisa Sehatkan BUMN Penerbangan

Pengamat politik Citra Institute, Efriza membenarkan Pemilu 2024 terjadi paradoks politik dengan komposisi wakil partai di Senayan. Yaitu, lebih banyak diisi orang tua, ketimbang anak muda sebagai ceruk suara terbesar di pesta demokrasi. 

“Ini tidak terlepas dari peran partai politik yang kurang memberikan ruang besar terhadap caleg muda,”kata Efriza kepada Rakyat Merdeka, Kamis (2/10/2025). 

Efriza mengatakan, tidak sedikit anak muda yang terpilih di Senayan memiliki nama besar orang tuanya. Misalnya, Putri Ade Komarudin selaku anak dari elite Partai Golkar Ade Komarudin. Kemudian, Dave Laksono, anak dari politisi gaek Beringin Agung Laksono. 

Baca juga : Airlangga Gaspol Ekonomi Bisa Tumbuh 5,2 Persen

“Warisan politik, orang tuanya merawat dapil dan diturunkan ke anaknya,” katanya. 

Selain itu, paradoks anak muda tidak memilih sesama anak muda, karena caleg usia muda kebanyakan kurang cermat dalam berstrategi politik. Misalnya, memilih partai politik baru atau nonparlemen sebagai kendaraan politiknya. 

“Ada juga yang membawa idealisme, kesombongannya, tanpa memperhitungkan pertarungan di pesta demokrasi. Kalau orang tua itu cenderung memiliki modal dan pengalaman yang baik,” katanya. 

Baca juga : Dukung Peringatan HUT TNI 5 Oktober, Tarif Angkutan Umum Di Jakarta Cuma Rp 80

Menurut Efriza, ada tiga indikator seseorang bisa terpilih sebagai wakil partai di parlemen. Yaitu, memiliki modal sosial, politik, dan logistik. Modal sosial, biasanya dimiliki pertahana dengan popularitas tinggi. Bahkan, ada anggota Dewan menjabat lebih dari tiga periode. 

Selanjutnya modal politik, biasanya anak muda jika bukan keturunan tokoh akan sulit meraih modal politik. Misalnya, mendapatkan posisi terbaik di parpol besar. Terakhir, logistik. Biaya politik tinggi cenderung membuat politisi muda sulit bertarung dengan orang tua di pesta demokrasi. 

“Jadi, regenerasi parpol belum berjalan baik. Faktanya, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) gagal ke DPR dengan anak mudanya,” tutup Efriza. [BSH]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense