RM.id Rakyat Merdeka - Sejumlah pakar energi dan ekonomi dari Kalimantan Timur (Kaltim) menilai langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan jaringan listrik menjangkau 5.700 desa belum teraliri listrik pada 2030, sebagai langkah strategis dan realistis.
Target tersebut, dinilai sejalan dengan agenda Pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka untuk memperkuat kemandirian dan swasembada energi nasional di awal tahun kepemimpinannya.
Peneliti energi dari Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT MIgas) Balikpapan, Dr. Andi Jumardi mengatakan kondisi ribuan desa belum teraliri listrik menjadi tantangan besar bagi Pemerintah, termasuk di wilayah Kaltim yang dikenal sebagai daerah lumbung energi nasional.
“Kaltim ini tempat lumbung energi, tapi masih ada daerah yang belum mendapat listrik. Persoalannya karena wilayahnya sulit dijangkau, sehingga perlu ada sumber energi lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Andi dalam forum diskusi bertema “Meneropong 1 Tahun Kemandirian Energi Nasional Era Prabowo–Gibran dari Borneo”, di Balikpapan, Jumat (17/10/2025).
Menilik data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, ungkap Andi, dari total 75.753 desa di Indonesia, ada 5.700 desa setara 7,5 persen dari total desa di Tanah Air yang belum teraliri listrik. Pemerintah pun, menargetkan seluruh desa itu akan mendapatkan akses listrik pada 2030.
Baca juga : Audiensi Dengan Menteri HAM, BPW Indonesia Perkuat Sinergi
Oleh karena itu, Andi menilai kebijakan Pemerintah yang mulai fokus mengalirkan listrik ke desa-desa terpencil merupakan langkah positif yang patut diapresiasi dan menjadi bagian dari agenda besar swasembada energi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Pemerintahan Prabowo–Gibran.
Menurutnya, swasembada energi tidak hanya berhenti pada sektor produksi, tetapi juga harus menyentuh level pengguna akhir.
“Dalam Asta Cita itu, swasembada energi berkaitan dengan hilirisasi energi. Selama ini hilirisasi baru sampai sektor downstream, belum menyentuh end user. Target Pemerintah sekarang adalah sampai di titik pengguna energi, supaya masyarakat benar-benar merasakan hasilnya,” jelasnya.
Sementara itu, Pakar Kebijakan Publik Universitas Mulawarman, Dr. Saipul mengatakan target elektrifikasi desa bukan hanya urusan pembangunan infrastruktur, tetapi juga wujud keseriusan Pemerintah dalam mencapai ketahanan energi.
Menurutnya, Pemerintah sudah berada di jalur yang tepat dengan menjadikan energi sebagai prioritas dalam Asta Cita Pemerintahan baru.
Baca juga : Golkar Puji Kerja Bahlil
“Kalau kita bicara swasembada energi, itu sejajar dengan istilah ketahanan energi. Pemerintah sekarang sudah menjadikannya prioritas nasional, tinggal bagaimana kita mengukur dan mewujudkannya di lapangan,” kata Saipul.
Saipul menyarankan, Indonesia perlu mengacu pada empat indikator utama ketahanan energi yaitu availability (ketersediaan), accessibility (aksesibilitas), affordability (keterjangkauan), dan acceptability (penerimaan) agar kebijakan elektrifikasi tidak berhenti di tataran wacana.
“Energi harus tersedia, bisa diakses, terjangkau harganya, dan diterima masyarakat secara lingkungan. Itu esensinya,” ujarnya.
Saipul menilai, target yang dipatok Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia masih dalam batas realistis sepanjang didukung data valid, perencanaan matang, dan pembagian tanggung jawab yang jelas antarinstansi.
Dia menilai, Pemerintah daerah dan perusahaan besar di setiap wilayah harus ikut berperan aktif dalam mendukung program ini. Lebih lanjut, Saipul menegaskan bahwa ketersediaan listrik saat ini sudah menjadi kebutuhan mendasar, sejajar dengan layanan pendidikan dan akses internet.
Baca juga : Stephanie Poetri, Nikah Dengan Aspri, Pakai Dress Simpel
“Transformasi digital tidak bisa berjalan tanpa listrik. Pemerintah harus menyediakan kedua hal itu, karena kalau tidak, kita akan tertinggal dari negara lain yang sudah bertransformasi menuju era digital,” ujarnya.
Sementara Ekonom Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo menyebut langkah Kementerian ESDM sebagai bagian dari kebijakan publik yang berorientasi kepada pelayanan. D
Dia menilai, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Perusahaan Listrik Negara (PLN) harus berani berinvestasi lebih besar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), agar cita-cita pemerataan energi bisa terwujud.
“Ini cita-cita yang bagus, tapi harus konkret di lapangan. PLN harus berani berinvestasi karena mereka punya tanggung jawab sebagai public service. Jangan menunggu swasta masuk dulu baru bergerak,” ujar Purwadi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.